UPAYA penyelamatan ekosistem laut tidak selalu dianggap positif oleh pemerintah daerah maupun masyarakat dari kelompok tertentu.

Bahkan program yang diusulkan pecinta ekosistem laut di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dianggap sebagai "ide gila" yang tidak mungkin dapat dilaksanakan.

Wajah dan opini Dr Eddiwan, pakar kemaritiman yang dianggap sebagai penyalur "ide gila" itu pun sering menghiasi media massa. Komentar keras, yang terkadang tidak sejalan dengan upaya pemerintah menarik investasi sebesar-besarnya pun disampaikannya, meski dia seorang pegawai negeri sipil.

"Beberapa waktu lalu, saya menyampaikan ide sesuai hasil kajian untuk kepentingan jangka panjang, tetapi dalam rapat pemerintahan tidak semua orang dapat menerimanya. Bahkan ide saya itu dianggap tidak manusiawi, karena terlalu mengistimewakan alam," kata Eddiwan, yang juga Kepala Bidang Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan DKP Kepri, Senin.

Program yang diajukan pria yang lahir di Selatpanjang, Meranti, Riau, sekitar 49 tahun lalu itu antara lain, konservasi laut dan inovasi teknologi yang ramah lingkungan. Kedua program itu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat dinikmati hasilnya oleh masyarakat.

Konservasi laut itu dapat menyuburkan perairan sehingga ikan bertambah banyak.

"Banyak yang salah persepsi dan tidak mengerti, sehingga ide itu menimbulkan konflik. Dan konflik itu akan terus terjadi jika orang-orang yang mempertentangkannya itu tidak ingin belajar," ujarnya.

Belum tuntas dengan persoalan itu, kini Eddiwan berupaya mendorong pemerintah untuk menutup aktivitas pertambangan yang dapat merusak ekosistem laut, pencegahan aksi pengeboman ikan dan penangkapan ikan melalui pukat harimau, serta pencegahan pencemaran bahan kimia berbahaya di perairan.

Dia berharap tahun 2014 tidak ada lagi pertambangan yang merusak lingkungan, karena biaya perbaikan lingkungan perairan itu lebih besar. 

Bahkan dia merasa resah dengan keberadaan pipa yang menyalurkan gas dari Natuna ke Singapura. Pipa itu, menurut dia, sewaktu-waktu dapat bocor yang merusak ekosistem di perairan Natuna.

Berdasarkan hasil kajiannya, terumbu karang yang mengalami kerusakan berada di Tambelan, Mapur, Gunung Kijang, Senayang, Karas dan Pulau Abang.

Setelah program konservasi "dipaksa" untuk dilaksanakan, berbagai pihak baru penyadari bahwa persentase kerusakan ekosistem laut berkurang menjadi 40 persen, penangkapan satwa langka di peraiaran dapat ditekan hingga 40 persen dan pemulihan sumber daya perikanan mencapai 60 persen.   

"Menyadarkan orang untuk menyintai ekosistem laut itu sangat sulit. Tidak semua orang memahami fungsi dari ekosistem laut," ujar suami dari Yonita Rismala itu.

Program untuk menjaga ekosistem di perairan Kepri, kata dia, bukanlah hal yang sulit untk dilaksanakan, meski membutuhkan anggaran yang besar. Namun program itu tidak akan menarik perhatian orang yang memprioritaskan keuntungan untuk setiap anggaran yang dikeluarkan.

"Menjaga ekosistem laut, seperti terumbu karang, tidak sulit dan sebenarnya tidak perlu dipertentangkan, jika semua pihak menyadari pentingnya keberadaan ekosistem laut yang dilindungi. Tetapi perbedaan prinsip dan pandangan akan membuat sulit program penyelamatan ekosistem laut berjalan lambat," katanya.

Mantan dosen Ilmu Kelautan Universitas Riau itu mengatakan, menjaga ekosistem laut, seperti terumbu karang, hanya membutuhkan komitmen bersama. Penyaluran pengetahuan yang merata terkait pentingnya menjaga dan melestarikan terumbu karang merupakan hal yang tepat untuk dilaksanakan secara berkesinambungan.

Permasalahan yang terjadi sekarang banyak warga yang tinggal di pesisir tidak memahami fungsi dari terumbu karang dan peranan mereka untuk bersama-sama menjaganya. Pengetahuan yang terbatas menyebabkan warga pesisir tidak mempertimbangkan keselamatan ekosistem laut sebagai bagian dari kehidupan.

"Mereka menggunakan berbagai cara untuk menangkap ikan, seperti menggunakan racun dan bom sehingga merusak terumbu karang," ujar pria yang telah menyelesaikan program kedoktoran di Harvard University, Amerika itu.

Pemerintah juga tidak akan sia-sia mengeluarkan anggaran yang besar untuk menjaga terumbu karang dan ekosistem langka di perairan Kepri. Apalagi luas perairan Kepri mencapai 96 persen sehingga banyak menyimpan hewan langka dan terumbu karang.

Terumbu karang memiliki fungsi antara lain sebagai sumber kehidupan hewan laut, pelindung pulau dari ancaman abrasi, dapat menjadi stimulus berkembangnya planton dan alga, dan pengembangan pusat bioteknologi untuk kepentingan farmasi.

"Karang juga sebagai penyeimbang ekosistem laut dan penghambat bencana," katanya.

Energi Alternatif

Menurut dia, mengolah air laut menjadi energi alternatif yang ramah lingkungan bukanlah hal yang tabu. Meski hasil kajian itu dianggap "ide gila" oleh berbagai pihak, Eddiwan tetap melaksanakannya.

"Penyulingan air laut menjadi biodiesel yang merupakan bahan bakar energi alternatif telah berhasil kami uji, tinggal lagi penyesuaian mesin kapal yang cocok untuk biodiesel tersebut," katanya.

Penyesuaian mesin kapal, maksud dia, apakah biodiesel tersebut cocok untuk mesin berbahan bakar premium atau solar.

Pemanfaatan tekologi biodiesel dari air laut itu merupakan program instansi itu menjawab kelangkaan bahan bakar minyak.

"Teknologinya sederhana bahkan dapat dilakukan oleh nelayan yang tidak bersekolah sekalipun," kata Eddiwan yang memperoleh gelar magister dari Tokyo University.

Air laut diendapkan dulu dalam bak penampungan dan kemudian disuling dengan alat penyulingan berukuran 0,1 mikron (plankton net). Air laut sulingan itu akan menghasilkan minyak sel yang berasal dari biota-biota yang hidup di laut.

Teknologi biodiesel dari air laut telah dipakai di Amerika Serikat untuk skala industri. Sedangkan yang dia buat untuk skala kecil terutama untuk bahan bakar kapal nelayan dan listrik di rumah masyarakat yang bermukim di pulau-pulau.

Ia mengatakan pernah mempersentasikan teknologi air laut itu di Kementerian Perikanan dan Kelautan dalam rapat teknis untuk pengembangan biodiesel di Indonesia, tetapi idenya itu ditolak dengan alasan mahal.

"Padahal kalau saja pemerintah mau, tidak susah mengajak masyarakat hemat energi. Lingkungan laut ada untuk mendapatkan energi listrik dan teknologinya tidak mahal, masyarakat awam pun dapat membuatnya," ujar Eddiwan.

"Penyulingan air laut menjadi biodiesel yang merupakan bahan bakar energi alternatif telah berhasil kami uji, tinggal lagi penyesuaian mesin kapal yang cocok untuk biodiesel tersebut," katanya.

Itu sebabnya, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau berinisiatif mengembangkan teknologi listrik dengan memanfaatkan air laut ini. Pada 2012 biodisel tersebut baru dalam tahap penerapan lapangan dan pada 2013 didistribusikan ke masyarakat serta sosialisasi.

"Kelak tidak hanya pompong (kapal nelayan) yag berbahan bakar biodiesel air laut tapi juga kendaraan bermotor lainnya termasuk sebagai bahan bakar pesawat," katanya. (*)

Editor: Rusdianto