Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Forum Pemberdayaan Pesantren Kepulauan Riau menyatakan, radikalisme dapat menghambat kemajuan bangsa dan menimbulkan disintegrasi bangsa.

"Tindakan-tindakan radikal yang mengatasnamakan agama harus sedini mungkin untuk dieliminir," kata Ketua Forum Pemberdayaan Pesantren Kepulauan Riau (Kepri) Rizaldy Siregar, dalam seminar keagamaan dengan tema "Tantangan Radikalisme Dalam Pengembangan Dakwah yang Damai di Tengah Kehidupan Masyarakat yang Ber-Bhineka Tunggal Ika", Sabtu.

Rizaldy menambahkan upaya untuk penyeragaman pemahaman kepada satu kelompok tertentu merupakan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Meski demikian Indonesia dapat dibangun dalam nuansa pluralistik yang sangat kental.

"Ada ratusan suku, budaya serta beberapa agama di Indonesia. Keberagamaan di Indonesia merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat dipungkiri," ujarnya di hadapan sekitar 150 orang peserta seminar di Kampus STAI Miftahul Ulum Tanjungpinang itu.

Wakil Wali Kota Tanjungpinang Edward Murshalli yang membuka acara tersebut mengatakan, penghayatan dalam mengamalkan agama diperlukan. Para mubaligh diimbau untuk senantiasa menggunakan cara-cara yang santun dan mudah dicerna masyarakat sehingga apa yang disampaikan dapat tepat sasaran.

"Membangun sebuah konsep dakwah yang damai sangat tergantung kepada pribadi masing-masing. Islam sudah memberikan sebuah aturan berdakwah yang sangat santun dan penuh kasih sayang," katanya.

Ia menambahkan, setiap insan manusia di tuntut untuk berlaku adil terhadap sesama. Apapun profesi dan pekerjaan tidak menghalangi manusia untuk berlaku dan bertindak baik, yang tidak merugikan orang lain.

"Tuhan lebih dahulu menciptakan bumi dan langit, lantas setelah itu baru Tuhan menciptakan manusia. Tuhan juga menyuruh umat manusia untuk berlaku adil dan baik kepada ciptaan-ciptaan Tuhan," ujar Edward.

Sementara itu, Kapolres Tanjungpinang AKBP Suhendri, yang menjadi narasumber dalam acara tersebut mengatakan, tindakan radikalisme yang cenderung mengatasnamakan agama dan kelompok tertentu sudah mengalami disorientasi.

"Jika dulu aksi-aksi terorisme ditujukan kepada simbol-simbol asing, seperti Amerika dan sekutunya, maka saat ini sasaran terorisme diarahkan justru kepada simbol-simbol pemerintah seperti kepolisian dan lain-lain," ujar Suhendri.

Suhendri juga menambahkan seperti kasus pengeboman serta penembakan di beberapa titik kepolisian sungguh sangat di sayangkan. Dia juga mengatakan bahwa kebanyakan aksi-aksi radikal ini dilakukan oleh anak-anak muda yang berumur berkisar antara 20-30 tahun yang memiliki pemahaman agama yang masih lemah.

"Biasanya yang direkrut untuk melakukan aksi teror adalah anak-anak muda yang memiliki pemahaman agama yang lemah," ujarnya.

Sedangkan Kepala Kementrian Agama Kota Tanjungpinang Abu Sofyan, mengatakan, pihaknya sudah memberikan arah kebijakan untuk pengembangan dakwah di Tanjungpinang. Begitu pula yang disampaikan oleh H Bustamin Husain, Ketua Ikatan Persaudaraan Mubaligh Kepulauan Riau, bahwa dakwah merupakan bagian hidup dari umat Islam.

"Dakwah haruslah dengan lemah lembut, jangan saling menghujat dan menjelekkan. Islam adalah agama yang senantiasa menyampaikan kabar gembira," ujar Bustami Husain. (ANTARA)

Editor: Rusdianto