"Kekah" Ikon Wisata Natuna
Kamis, 6 Februari 2014 6:06 WIB
Kepala Dinas Pariwisata Natuna Syamsul Hilal (antarakepri.com/Zam Jambak)
Natuna (Antara Kepri) - Binatang kekah dengan nama latinnya Presbytis Natunae, yang merupakan hewan khas asli Pulau Bunguran Besar, akan dijadikan sebagai ikon wisata Kabupaten Natuna.
"Kita sudah mengajukan agar kekah jadi ikon wisata daerah ini. Dan Alhamdulillah Bupati Natuna, Ilyas Sabli menyetujuinya," ungkap Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Natuna, Syamsul Hilal, di Ranai Rabu.
Syamsul Hilal mengatakan, kekah dijadikan ikon wisata Natuna karena hewan ini cuma bisa dijumpai di Pulau Bunguran Besar, Natuna, sedangkan di daerah lain tidak ada.
"Hewan ini merupakan binatang endemik Natuna. Di daerah lain tidak kita temukan binatang langka ini," ujarnya.
Malalui ikon wisata Natuna, kata Syamsul Hilal, diharapkan masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan binatang ini agar terhindar dari kepunahan.
Menurut dia, berdasarkan riset peneliti Pusat Studi Biodiversitas dan Konservasi (PSBK) dan mahasiswa Program Pascasarjana Biologi Konservasi Universitas Indonesia (UI) beberapa waktu lalu, menyimpulkan bahwa penyebab kepunahan kekah yang paling besar adalah permasalahan habitat hidup yang terus berkurang.
"Dari penelitian beberapa waktu lalu, keberadaan kekah tak lebih dari tujuh ribu ekor yang hidup di sekitar Pulau Bunguran Besar, seperti di Gunung Ranai, hutan primer pegunungan, hutan sekunder, kebun karet tua, daerah riparian dan juga di wilayah perbatasan hutan mangrove dan perkebunan warga," ujarnya.
Oleh karena itu, katanya, pihaknya mengimbau supaya bintang kekah serta sejumlah satwa langka lainnya, yang asli Natuna, supaya dijaga dan dilestarikan. (Antara)
Editor: Rusdianto
"Kita sudah mengajukan agar kekah jadi ikon wisata daerah ini. Dan Alhamdulillah Bupati Natuna, Ilyas Sabli menyetujuinya," ungkap Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Natuna, Syamsul Hilal, di Ranai Rabu.
Syamsul Hilal mengatakan, kekah dijadikan ikon wisata Natuna karena hewan ini cuma bisa dijumpai di Pulau Bunguran Besar, Natuna, sedangkan di daerah lain tidak ada.
"Hewan ini merupakan binatang endemik Natuna. Di daerah lain tidak kita temukan binatang langka ini," ujarnya.
Malalui ikon wisata Natuna, kata Syamsul Hilal, diharapkan masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan binatang ini agar terhindar dari kepunahan.
Menurut dia, berdasarkan riset peneliti Pusat Studi Biodiversitas dan Konservasi (PSBK) dan mahasiswa Program Pascasarjana Biologi Konservasi Universitas Indonesia (UI) beberapa waktu lalu, menyimpulkan bahwa penyebab kepunahan kekah yang paling besar adalah permasalahan habitat hidup yang terus berkurang.
"Dari penelitian beberapa waktu lalu, keberadaan kekah tak lebih dari tujuh ribu ekor yang hidup di sekitar Pulau Bunguran Besar, seperti di Gunung Ranai, hutan primer pegunungan, hutan sekunder, kebun karet tua, daerah riparian dan juga di wilayah perbatasan hutan mangrove dan perkebunan warga," ujarnya.
Oleh karena itu, katanya, pihaknya mengimbau supaya bintang kekah serta sejumlah satwa langka lainnya, yang asli Natuna, supaya dijaga dan dilestarikan. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor : Jo Seng Bie
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BI Kepri jadikan Pulau Belakangpadang sebagai ikon ekonomi digital perbatasan
16 November 2025 10:47 WIB
Talam Sehidang jadi ikon baru, kearifan Melayu tempo dulu di 'Karimun Darussalam'
31 March 2023 5:05 WIB, 2023
Jembatan Selayang Pandang II jadi ikon baru di Tarempa Kepulauan Anambas
15 July 2022 5:58 WIB, 2022
Terpopuler - Rasa Kepri
Lihat Juga
Komunitas The Speakers' Room cara seru latihan Bahasa Inggris pekerja di Batam
04 January 2026 7:26 WIB