Tanjungpinang (Antara Kepri) - Anggota Tim Teknis Dewan Kawasan Perdagangan Bebas Pelabuhan Bebas Batam, Taba Iskandar menolak honor yang diberikan Dewan Kawasan karena jumlahnya terlalu sedikit.
"Tidak manusiawi, honor itu tidak manusiawi. Terlalu kecil," kata Taba, di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Jumat.
Ia menceritakan, seorang staf Dewan Kawasan PBPB Batam menghubunginya belum lama ini. Staf itu meminta nomor rekening bank untuk mengirimkan uang honor kerja selama delapan bulan menjadi anggota tim teknis, serta honor rapat.
"Nilainya sekitar Rp5 juta, tetapi saya tidak memberikan tanggapan," ujar dia yang juga anggota Komisi I DPRD Kepri.
Honor yang diterima Taba hanya sekitar Rp300.000 setiap bulan. Menurut dia, itu tidak sebanding dengan beban dan tanggung jawab kerja yang diberikan institusi yang dipimpin Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution.
Politisi Partai Golkar itu mengaku kaget mengetahui jumlah honor yang diberikan. Apalagi, ia merasa sering ditelantarkan selama mengikuti rapat Dewan Kawasan di Jakarta.
Untung saja, Wali Kota Batam Muhammad Rudi turut membantu menyediakan penginapan di hotel selama mengikuti rapat, kata dia.
Biaya penerbangan ke Jakarta untuk mengikuti rapat-rapat Dewan Kawasan juga menggunakan uang pribadinya.
"Saya tidak tahu apakah ditransfer atau tidak, karena sejak awal menjadi anggota Tim Teknis Dewan Kawasan saya sudah menginformasikan nomor rekening bank. Saya tidak memikirkan hal itu," ujarnya.
Taba menegaskan, selain permasalahan honor, yang lebih menyakitkan adalah Dewan Kawasan mengabaikan sejumlah rekomendasi yang telah disusun tim teknis.
Rekomendasi tim teknis yang disampaikan berulang kali di dalam rapat Dewan Kawasan antara lain pembagian kewenangan antara Badan Pengusahaan (BP) Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam dengan Pemkot Batam, pembagian aset antara BP Kawasan Batam dengan Pemkot Batam, serta pelayanan terpadu satu atap.
"Kami ingin Batam kondusif, masyarakat sejahtera, perekonomian berjalan stabil, tetapi rekomendasi itu tidak dilaksanakan. Itu yang menyakitkan," katanya.(Antara)
Editor: Jannatun Naim