Logo Header Antaranews Kepri

Pemkot Batam Bentuk Satgas SMP 28

Kamis, 11 Agustus 2011 00:12 WIB
Image Print

Batam (ANTARA News) - Pemerintah Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, membentuk Satgas khusus percepatan penyelesaian masalah di SMP Negeri 28 yang setiap hujan terendam air karena berada di lahan berbentuk cekungan.

"Kami buat Tim Task Force (gugus tugas) yang terdiri dari Dinas Pendidikan, Dinas Tata Kota, dan Dinas Pekerjaan Umum untuk menyelesaikan masalah SMP 28," kata Wali Kota Batam Ahmad Dahlan dalam rapat bersama anggota DPD-RI dari daerah pemilihan Kepulauan Riau di Batam, Rabu.

Selain lintas dinas, satgas juga menyertakan Ketua Dewan Pendidikan Kota Batam yang juga anggota DPD Hardy Selamat Hood.

Tim, akan mencari solusi terbaik untuk siswa agar bisa bersekolah normal.

Ratusan siswa SMP 28 terpaksa belajar di dalam tenda karena gedung sekolahnya terendam air.

Di tempat yang sama, Ketua Dewan Pendidikan Kota Batam Hardy Selamat Hood mengatakan tugas pertama yang harus dikerjakan adalah "detail engineering design" (DED).

"Yang pertama kali kami kerjakan menyelesaikan DED, bagaimana air yang tergenang bisa mengalir agar tidak banjir lagi," kata dia.

Ia mengatakan perlu dibuat desain agar air yang tergenang di cekungan bisa mengalir ke luar dan tidak banjir lagi ketika hujan turun.

Sementara itu, anggota DPD lainnya yang juga pengembang perumahan yang terletak di sekitar SMP 28, Jasarmen Purba mengatakan lahan sekolah itu memang hibah dari perusahaannya.

Saat menghibahkan lahan, perusahaannya sudah mengingatkan agar lahan dimatangkan dulu sebelum dibangun sekolah.

"Dengan catatan kalau mau bangun di lokasi yang saat ini berdiri SMP 28, harus ditimbun dulu. Karena tempatnya yang berada di cekungan. Ada MoU-nya seperti itu," kata Jasarmen.

Kepala Dinas Pendidikan Muslim Bidin membantah tidak melakukan pematangan seperti yang dibutuhkan.

Ia mengatakan banjir datang kemudian, ketika ada pengembang lain yang membangun perumahan di sekitar lokasi sekolah.

"Ada beberapa perumahan yang berada di sekitar sekolah," kata Purba.

Sementara itu, ratusan siswa kelas I dan II SMP Negeri 28 Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau masih belajar di tenda darurat dan masjid terdekat karena sekolah mereka masih penuh dengan lumpur setelah diterjang banjir beberapa hari lalu.

"Rabu ini hari ketiga kami belajar di tenda," ujar seorang siswa kelas I, Wendi.

Menurut Wendi, dia dan kawan-kawannya tidak bisa konsentrasi dan tidak merasa nyaman saat belajar di tenda darurat yang dibangun warga sekitar tersebut.

"Udaranya sangat panas, mejanya juga tidak ada. Jadi kami merasa tidak nyaman belajar," kata dia.

Siswa kelas II yang belajar di Masjid perumahan terdekat juga merasa tidak nyaman karena tidak didukung dengan alat-alat belajar yang memadai.

"Kami hanya belajar dilantai tanpa meja dan buku pelajaran yang memadai. Karena semua buku pelajaran berada di gedung sekolah. Sebagian terendam banjir," kata Fitriasari.

Para siswa berharap, Pemerintah Kota Batam segera mengambil tindakan agar mereka bisa kembali belajar di sekolah mereka tanpa harus khawatir terkena banjir bila sewaktu-waktu hujan datang.

(ANT-YJN/M027/Btm3)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026