
Pemkot Tanjungpinang gencarkan program SBP untuk kurangi sampah makanan

Tanjungpinang (ANTARA) - Pemkot Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri) melalui Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DPPP) menggalakkan program Stop Boros Pangan (SBP) guna mengurangi sampah sisa makanan yang menjadi penyumbang terbesar sampah di wilayah tersebut.
"Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menunjukkan sekitar 60 persen dari 98 ton sampah yang dihasilkan setiap hari, merupakan sampah makanan," kata Kepala Bidang Ketahanan Pangan DPPP Tanjungpinang Yesi Perdeawati di Tanjungpinang, Jumat.
Ia mengatakan besarnya jumlah sampah makanan ini menunjukkan masih banyak pangan yang terbuang di Tanjungpinang
Baca juga: Pemko Batam dukung perlindungan PMI lewat pusat latihan kerja
Oleh karena itu, pihaknya terus mengampanyekan program SBP, yang merupakan bagian dari Gerakan Selamatkan Pangan (GSP) untuk mengurangi pemborosan pangan.
"Jika pangan tidak terbuang, jumlahnya diperkirakan setara untuk memenuhi kebutuhan makan sekitar 50 persen masyarakat Tanjungpinang," ujarnya.
Dia menjelaskan banyak pangan terbuang sebelum sampai ke meja makan masyarakat, mulai dari hasil panen yang tercecer, rusak saat penyimpanan dan distribusi, membusuk di pasar, hingga makanan yang tidak habis dikonsumsi.
"Bahkan setelah dimasak pun belum tentu habis dimakan, maka itu potensi kerugian akibat sampah makanan sangat besar," katanya.
Menurut Yesi, di balik pangan yang dikonsumsi masyarakat terdapat berbagai dukungan pemerintah kepada petani dan nelayan, mulai dari subsidi pupuk dan bahan bakar hingga pelatihan.
Baca juga: BKKBN Kepri lampaui target layanan KB HUT IBI
"Dalam sepiring nasi itu banyak subsidi pemerintah, begitu juga tempe, ikan, ayam, dan sayur," ucapnya.
Ia mengajak masyarakat membiasakan mengambil makanan secukupnya dan berbelanja sesuai kebutuhan untuk mengurangi pemborosan pangan.
Selain itu, DPPP Tanjungpinang sedang menyusun surat edaran yang akan disampaikan kepada Wali Kota Tanjungpinang mengenai pengurangan sampah makanan.
"Nanti edarannya ditujukan untuk hotel, restoran, kantin, SPPG, sekolah hingga masyarakat luas karena berpotensi menghasilkan sampah makanan," ujarnya.
Selain mengampanyekan stop boros pangan, DPPP membagikan tote bag kepada masyarakat sebagai bentuk edukasi pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.
"Itu salah satu bentuk kampanye kami kepada masyarakat, sekaligus mengurangi penggunaan plastik," demikian Yesi.
Baca juga:
Anggota DPRD Lingga meninggal di Makkah
Truk penyapu jalan efektif bersihkan debu di Batam
Pewarta : Ogen
Editor:
Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
