Logo Header Antaranews Kepri

Bukan Pedagang Kue Sembarangan

Kamis, 29 November 2012 23:46 WIB
Image Print
Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Indonesia menyimpan banyak cerita tentang orang-orang yang sukses. Kisah dibalik kesuksesan pengusaha yang dimuat di berbagai media massa dan buku seolah memberi energi baru dan motivasi kepada anak bangsa untuk bangkit melawan kemiskinan.

Kepulauan Riau (Kepri) juga menyimpan cerita panjang tentang berbagai pengusaha yang sukses. Hasil yang didapat pengusaha itu selalu dimulai dengan cerita miris dan langka sehingga menarik untuk dibaca.

Lantas bagaimana dengan kisah wanita sukses yang membangun usaha bersama suaminya dari angka minus di Tanjungpinang, Kepri. Kartika Kusumastuti membuktikan bahwa uang bukan merupakan kunci utama untuk meraih kesuksesan, melainkan niat, tekad dan kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun.

Kegagalan usaha yang dibangun di tahun 1990-an menyebabkan Kartika bersama Sudarsono, suaminya, dililit utang yang cukup besar. Mereka sadar harus berdamai dengan hati, dan melawan kecerobohan yang pernah dilakukan jika ingin bertahan hidup.

"Kekecewaan yang panjang justru akan mendorong saya dan suami dalam kesengsaraan yang mungkin sulit berakhir, karena utang akan dibawa hingga mati. Utang itu harus dilunasi dengan cara yang terhormat, dan kami tidak ingin mengeluh dengan siapapun," ungkap wanita sederhana yang lahir di Bantul, Yogyakarta, sekitar 44 tahun lalu.

Tahun 2001 berbagai usaha pun dirintis. Mereka berupaya menangkap peluang dan mengejar keberuntungan.

"Di saat pintu pertama tertutup, maka kami mendobrak pintu kedua, dengan modal semangat untuk bertahan hidup. Semangat itu melahirkan tekad yang besar dan mengubah keringat menjadi uang," ungkapnya.

Akhirnya mereka tergoda untuk melakukan usaha kerajinan tangan hingga menjadi pedagang kue. Keterampilan menganyam lidi dari daun pohon kelapa yang diperoleh selama di Yogyakarta pun digeluti sambil menawarkan kue ke berbagai pihak.

Lidi ternyata dapat dianyam menjadi lekar dalam berbagai bentuk seperti piring, tempat buah dan sapu lidi yang berkualitas. Namun saat itu produksi lekar tidak terlalu banyak, karena kurang dipromosikan.

Sementara kue yang dijual setiap hari pun tidak terlalu lalu. Paling banyak dalam sehari hanya laku sekitar 50 kue.

Perubahan pendapatan dan gaya hidup, sering kali menjadi bahan cemooh oleh orang-orang yang dikenalnya. Bahkan cacian, hinaan pun tidak sedikit dilontarkan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Tetapi hal itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk tetap tekun mengelola usaha kecil-kecilannya, karena usaha itu dari kerja keras dan uang yang halal.

"Sampai sekarang ada yang masih menganggap kami hanya pengusaha kecil, tetapi kami anggap itu hanya cobaan. Kami tidak tergoda untuk meresponsnya, karena membuang energi," ujarnya yang juga alumni jurusan Pertanian Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.

Saat usaha itu belum membuahkan hasil yang maksimal, Kartika bersama suaminya masih menyempatkan waktu untuk membina istri-istri nelayan di Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Kepri. Usaha yang digeluti sekitar tujuh orang istri nelayan itu kini berkembang, dengan nama Kelompok Usaha Bersama (Kube) Citra Karya.

"Terkadang kami lawan panas dan hujan saat melintasi jalan sejauh 70 kilometer untuk membina ibu-ibu yang cerdas dan memiliki semangat yang tinggi itu," ungkapnya.

Kartika bersama suaminya berhasil melewati masa-masa sulit. Usaha pembuatan kue ditambah dengan katering pada tahun 2007 mulai menampakan hasil yang jelas.

Kartika pun membangun perusahaan yang bernama CV Citra Sari. Perusahaan itu kini cukup terkenal di Tanjungpinang.

Dalam sehari minimal 5.000 kue dipesan oleh pengusaha maupun pemerintah. Bahkan untuk kegiatan tertentu, kue yang dipesan instansi tertentu di pemerintahan mencapai 15.000.

"Omzet yang semula hanya ratusan ribu rupiah dalam sebulan, kini mencapai ratusan juta rupiah. Ini adalah buah dari kerja keras dan mensyukuri nikmat dari Allah," katanya.


Pencipta Kue Dadar

CV Citra Sari memiliki 15 macam kue yang dijual kepada pelanggannya. Salah satu kue yang diproduksi merupakan hasil karya Kartika.

Kue itu bernama dadar, yang memiliki aneka rasa seperti cokelat, jagung, keladi dan strawberi. Kue dadar cokelat merupakan produk andalan Citra Sari, selain epok-epok dengan berbagai isi.

"Kue dadar berukuran mini itu rasanya enak dan paling banyak diminati," ungkap Kartika yang juga Sekretaris Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia.

Kartika mengungkapkan, aneka kue dadar dan epok-epok buatannya pernah disajikan untuk disantap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika melakukan kunjungan kerja di Tanjungpinang. "Ini suatu kehormatan," ucapnya.

Selain itu, aneka kue dari Citra Sari juga disajikan dalam beberapa kegiatan yang dilakukan menteri di Tanjungpinang. Bahkan kue dadar dan epok-epok juga akan disajikan untuk Menteri Sosial yang menghadiri kegiatan yang digelar Pemerintah Kepri pada Jumat (30/1).

"Kami juga sering mendapat pesanan kue dari Pemerintah Kepri dan Tanjungpinang," ujarnya.

Harga satu kue yang dijual Kartika berkisar Rp1.500-Rp2.500. Kemasan kue yang ditata rapi dan cita rasa yang enak membuat pelanggannya selalu bertambah.

"Kami selalu memperhatikan kualitas dan gizi yang terkandung di dalam kue itu," katanya.

Kartika bersama suaminya memiliki cita-cita, kue yang diproduksi Citra Sari dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Ia berharap masyarakat selalu ingat Citra Sari jika sedang menikmati kue.

Harapan itu diyakininya dapat terealisasi jika sistem pemasaran dilakukan secara maksimal. Salah satu strategi pemasaran yang dilakukan adalah menjual kue dengan menggunakan gerobak di beberapa kawasan yang ramai.

"Kami berencana mengajak mahasiswa yang merantau di Tanjungpinang, yang tidak memiliki gengsi yang tinggi untuk bersama-sama menjual kue dengan menggunakan gerobak yang bagus. Tentu itu akan menambah penghasilan mereka," ujarnya.

Editor: Jo Seng Bie



Pewarta :
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026