Pemkab Natuna imbau orang tua memanfaatkan pusat pembelajaran keluarga

id Pola Asuh,Natuna,Dinas Perempuan,Perlindungan anak,Perempuan,Kepri

Pemkab Natuna imbau orang tua memanfaatkan pusat pembelajaran keluarga

Gedung Puspaga Natuna di Jalan Pramuka, Kecamatan Bunguran Timur pada Rabu (20/8/2025). ANTARA/Muhamad Nurman

Natuna (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, mengimbau para orang tua untuk memanfaatkan Lembaga Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga), menyusul ditemukan sejumlah kasus anak-anak yang mengalami pola pengasuhan yang tidak tepat, bahkan cenderung mengarah pada kekerasan.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Natuna, Yuli Ramadhanita, di Natuna, Rabu, mengatakan pihaknya aktif menyambangi sekolah-sekolah untuk berdiskusi langsung dengan para pelajar.

"Dalam beberapa pertemuan, kami menemukan anak-anak yang mengalami luka batin akibat pola asuh yang keliru. Beberapa dari mereka bahkan mengatakan sering mendapatkan perlakuan kekerasan fisik dan verbal oleh orang tuanya," ucap dia.

Baca juga: Disbud Kepri sebut tradisi Mandi Safar upaya jaga warisan nenek moyang

Menurut Yuli, pola asuh yang menggunakan kekerasan baik secara fisik maupun verbal dapat berdampak serius pada tumbuh kembang dan kesehatan mental anak. Oleh karena itu, pihaknya mendorong orang tua untuk belajar mengenai pola asuh yang tepat melalui Puspaga.

Puspaga lanjut dia, adalah fasilitas gratis yang disediakan oleh Pemkab Natuna dan bisa dimanfaatkan semua kalangan.

Di lembaga ini, orang tua bisa berkonsultasi tentang berbagai permasalahan keluarga, termasuk cara mendidik anak dengan benar. Kerahasiaan setiap konsultasi pun dijamin sepenuhnya.

"Puspaga Natuna berlokasi di Jalan Pramuka, Kecamatan Bunguran Timur, dan beroperasi pada jam kerja kantor," ucap dia.

Baca juga: Disnaker Batam catat 244 pekerja disabilitas terserap sampai 2025

Selain mengunjungi sekolah, Yuli juga aktif melakukan kunjungan ke rumah-rumah anak yang mengalami masalah, dan sebagian besar kasus yang ditemui memiliki akar yang sama, yakni pola pengasuhan yang keliru.

Ia menegaskan pola asuh yang baik bukan hanya soal memenuhi kebutuhan dasar anak, seperti makanan dan tempat tinggal saja, tetapi juga mencakup pemberian kasih sayang, perhatian, dukungan emosional, serta menciptakan lingkungan yang aman dan positif bagi tumbuh kembang anak.

"Perubahan dalam pola asuh memang membutuhkan waktu. Meskipun orang tua telah menyadari kesalahan dan berusaha memperbaiki diri, hasilnya tidak selalu langsung terlihat. Butuh proses dan kesabaran untuk membentuk perilaku anak yang lebih baik," ujar Yuli.

Baca juga:
Dinas Kesehatan nyatakan Imunisasi MR di Batam sudah capai 55 persen

Polres Anambas beri santunan ke nelayan korban kecelakaan laut

Pewarta :
Editor: Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026


Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Komentar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE