
Dinkes Tanjungpinang: Kasus malaria meningkat tiga tahun terakhir

Tanjungpinang (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan kasus malaria dalam periode tiga tahun terakhir.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tanjungpinang Sri Handono mengatakan kasus malaria di daerah itu mulai meningkat pada 2024, setelah menyandang status eliminasi malaria sejak 2014.
"Tahun 2024 ada 129 kasus malaria di Tanjungpinang, lalu 2025 ada 59 kasus, dan 2026 sampai April sudah ada 29 kasus," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tanjungpinang Sri Handono dihubungi, Jumat.
Handono menyebutkan, dari total 18 kelurahan di Kota Tanjungpinang, masing-masing punya karakteristik berbeda dan tingkat risiko penularan malaria.
Namun, menurutnya, ada dua kelurahan yang paling rawan, atau berisiko tinggi malaria, yaitu Kampung Bugis dan Senggarang.
Dua kawasan ini termasuk daerah reseptif, yakni wilayah yang memiliki kepadatan vektor (nyamuk Anopheles) tinggi, faktor lingkungan, serta iklim yang mendukung penularan malaria.
"Salah satunya, banyak terdapat kolam pascatambang dengan air payau, sehingga menjadi tempat yang paling disenangi nyamuk Anopheles, dan berpotensi menimbulkan malaria," ujarnya.
Selain faktor lingkungan, kata dia, manusia juga berpengaruh terhadap penularan malaria.
Menurutnya sebagai Ibu Kota Provinsi Kepri, migrasi manusia di Tanjungpinang relatif cepat. Ketika ada pekerja datang dari daerah yang belum bebas malaria, maka ia berpotensi menularkan penyakit tersebut.
Handono menyampaikan, berbagai upaya pencegahan dan pengendalian terus dijalankan agar jangan sampai perkembangan kasus malaria di Tanjungpinang menjadi tidak terkendali.
Beberapa upaya yang telah dilakukan Dinkes Tanjungpinang, di antaranya menaburkan ikan pemakan jentik di kolam-kolam bekas galian guna mengendalikan perkembangan nyamuk.
Kemudian, menggunakan larvasida aktif untuk mengganggu pertumbuhan nyamuk agar lahir tidak normal dan bereproduksi.
Berikutnya, melakukan survei migrasi terhadap pekerja dari luar daerah melalui pemeriksaan kesehatan, terutama dari daerah belum bebas malaria.
Selain itu, dalam melakukan pengendalian peningkatan kasus malaria, diagnosis dan pengobatan menjadi langkah yang paling penting.
"Temukan dan obati. Segera berikan obat kepada pasien positif malaria untuk menghilangkan risiko menularkan kepada orang lain," ungkapnya.
Dinkes turut mengimbau masyarakat segera berobat ke puskesmas atau rumah sakit apabila mengalami gejala khas malaria, yang diawali menggigil satu sampai dua jam, lalu diikuti demam, kemudian berkeringat serta sakit kepala kepala yang hebat.
"Segera ke puskesmas sehingga cepat diobati dan dikendalikan lebih awal agar tak menular," demikian Handono.
Pewarta : Ogen
Editor:
Ogen
COPYRIGHT © ANTARA 2026
