Logo Header Antaranews Kepri

TPID Sarankan Beras Sitaan Diserahkan ke Bulog

Kamis, 6 Agustus 2015 18:50 WIB
Image Print
Diharapkan peran aktif pemerintah agar proses pengalihan pasar induk dapat segera dilakukan

Batam (Antara Kepri) - Tim Pengendali Inflasi Daerah Kepulauan Riau menyarankan agar beras hasil sitaan aparat kepolisian dan bea cukai beberapa waktu lalu diserahkan ke Perum Bulog untuk disalurkan ke masyarakat demi menekan inflasi di provinsi yang kepulauan itu.

Rekomendasi itu disampaikan TPID melalui rilis yang dikirim Unit Komunikasi dan Koordinasi Kebijakan BI Kepri Bagus Maulana di Batam, Kamis.

"Menyusun skema resmi yang diatur dalam ketentuan pemerintah agar beras hasil sitaan oleh pihak berwajib dapat diserahkan ke Bulog untuk kemudian disalurkan ke masyarakat sebagai raskin setelah melalui proses pengecekan kualitas beras (layak konsumsi)," demikian rilis TPID.

Pada Maret 2015, Bea Cukai Kepri menyita ratusan karung beras hasil tegah upaya penyelundupan di Perairan Kepri.

Selain menyarankan agar beras sitaan diserahkan ke Bulog, TPID merekomendasikan agar dilakukan pemetaan surplus defisit komoditas oleh seluruh TPID di kabupaten kota.

Kemudian disarankan agar pemerintah daerah mengalokasi anggaran untuk stabilisasi harga melalui kegiatan pasar murah dan subsidi biaya angkut.

TPID juga menyarankan agar pemerintah fokus pada program peningkatan pasokan bahan pangan dari lokal agar tidak bergantung pada pasokan dari luar.

Dan rekomendasi terakhir, TPID menyarankan pemerintah menyelesaikan peralihan status Pasar Induk di Kota Batam pascapemekaran dari Provinsi Riau.

TPID menilai kondisi pasar tidak terawat.

Ketidak-jelasan pengelolaan Pasar Induk juga membuat fungsi pasar tidak berjalan.

"Diharapkan peran aktif pemerintah agar proses pengalihan pasar induk dapat segera dilakukan," demikian rilis.

Sementara itu, Bank Indonesia mencatat terjadi inflasi sebesar 1,67 persen (mtm) di Provinsi Kepulauan Riau pada Juli 2015, meningkat dibandingkan inflasi bulan sebelumnya yang hanya 0,83 persen.

BI memperkirakan laju inflasi diperkirakan pada Agustus, meski terdapat beberapa resiko inflasi yang patut diwaspadai.

Risiko inflasi pada Agustus dipengaruhi biaya sekolah dan peralatan sekolah akan mulai meningkat pada Juli, dan mencapai puncaknya pada Agustus dan September.

Selain itu, depresiasi nilai tukar rupiah berpotensi menambah tekanan inflasi kelompok inti.

Kekeringan yang berlangsung di Jawa dan sejumlah daerah lainnya di Indonesia dan potensi El Nino, juga akan berdampak pada penurunan hasil panen sejumlah komoditas volatile food. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026