Warga Pulau Pejantan Rindukan Azan

id pulau pejantan, tambelan, guru ngaji,bintan, lsm kepri peduli

Masyarakat saat akan melaksanakan sholat di salah satu lokasi perkampungan (Saud)

"Karena memang ketika kami di Pejantan, tidak ada warga yang bisa shalat jenazah, bahkan salah seorang warga mengaku pasrah jika meninggal saat ini tanpa ada yang bisa menshalatkan," tegasnya.
Tambelan (Antaranews Kepri) - Warga Pulau Pejantan Kecamatan Tambelan, melalui Kepri Peduli mengaku merindukan suara Adzan selama hidup di pulau terjauh dari Kabupaten Bintan tersebut.

"Bahkan, ada juga warga yang mengaku rindu melaksanakan shalat Jumat yang belum dilakukan selama 35 tahun di Pulau Pejantan," kata anggota LSM Kepri Peduli, Hariun Sagita kepada Antara di Tambelan.

Hariun mengatakan bahwa pernyataan warga tersebut ia dengar ketika Kepri Peduli memberikan bantuan sejumlah Alquran, Iqra, dan perangkat sholat secara langsung kepada masyarakat di Pulau Pejantan, Kabupaten Bintan, (25/9).

Sebelumnya, kunjungan Kepri Peduli ke Pejantan disebabkan viralnya berita tentang akun Facebook atas nama Budi Sahrul yang meng-upload tentang kondisi Pulau Pejantan beberapa waktu lalu.

Untuk memastikan hoax atau tidaknya informasi yang diunggah Budi tersebut, maka Kepri Peduli datang ke Pejantan secara langsung dengan membawa sebagian bantuan.

"Dengan sampainya kami ke Pejantan baru kami tau bahwa apa yang dinarasikan dalam  akun Facebook Budi Sahrul tersebut sangat berpotensi terjadi di Pejantan," tegasnya.

Kata dia, setelah menempuh sekitar 9 jam perjalanan laut ke Pejantan dari Tambelan, barulah Kepri Peduli mengetahui bahwa jika ada warga yang meninggal di Pejantan saat ini (25/9), maka berpotensi tidak akan dishalatkan.

"Karena memang ketika kami di Pejantan, tidak ada warga yang bisa shalat jenazah, bahkan salah seorang warga mengaku pasrah jika meninggal saat ini tanpa ada yang bisa menshalatkan," tegasnya.

Kata dia, seandainya harus memanggil ustadz  atau imam dari pulau lain, tentu membutuhkan waktu yang lama. Sementara kondisi mayat harus cepat ditangani, sebelum membusuk.

Selain itu, Kepri Peduli menyimpulkan bahwa kondisi intelektual siswa kelas jauh di Pejantan, Kabupaten Bintan tidak bisa membaca dan menulis. Bahkan sulit mengidentifikasi status pendidikan para peserta didik di SD Kelas Jauh Pulau Pejantan.
Masyarakat saat akan melaksanakan sholat di salah satu lokasi perkampungan (Saud)

"Warga mengaku tidak memiliki rapor anak mereka yang sekolah, sehingga tidak bisa diketahui status tingkat pendidikan para siswa yang sudah berusia 14-17 tahun di SD kelas jauh di Pejantan tersebut," tegasnya.

Menurut dia, posisi Pejantan memang serba jauh dari segala hal. Pulau yang terlihat dari kejauhan berbentuk orang berbaring tersebut juga tidak memiliki mushola.

"Insya Allah kami berencana akan membangun mushola dan mengirim guru yang juga bisa menjadi ustadz untuk mengajarkan agama ke Pulau Pejantan," ujarnya.

Kepri Peduli juga menyatakan akan mendanai sendiri pembangunan mushola dan guru yang akan bertugas di Pejantan, Kecamatan Tambelan tersebut.

"Guru yang kami kirim akan kami carikan gaji lima kali lebih besar dari gaji guru yang bertugas di SD Kelas Jauh Pulau Pejantan sekarang ini," ungkapnya.

Sementara itu, menurut Wakil Ketua Kepri Peduli, Riswandi di Tambelan kepada Antara menyatakan bahwa masyarakat Pulau Pejantan Kecamatan Tambelan membutuhkan segala hal, di antaranya guru dan ustadz.

"Dengan sampainya kami ke Pejantan, artinya  upload akun Facebook atas nama Budi Sahrul yang sempat viral beberapa waktu lalu tentang kondisi Pulau Pejantan adalah benar adanya, bukan hoax," kata Wakil Ketua Kepri Peduli, Riswandi di Tambelan.

Menurut info yang ditangkap Kepri Peduli, sejumlah warga Pejantan juga telah melontarkan ultimatum menolak guru mengajar jika tidak betah bertugas di Pejantan. 

Usai melakukan kunjungan perdana ke Pejantan tersebit, Kepri Peduli akan kembali datang untuk kembali membawa bantuan dan merealisasikan rencana tersebut untuk masyarakat Pulau Pejantan. (Antara)
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar