Pejantan, pulau terpencil Tambelan tanpa guru

id pulau pujantan, tambelan,guru, pulau terpencil

Tukong Berlayar adalah satu dari beberapa pulau di Kecamatan Tambelan yang tak berpunghuni dengan jarak tempuh 6 jam perjalanan kapal Pelni dari Tambelan. (Antaranews Kepri/ Saud Mc Kashmir)

Pergerakan memberikan ilmu agama sampai ke Pejantan memang tak terpantau oleh pihak kecamatan karena kecamatan hanya berharap pada laporan kepala desa.
Pejantan, pulau terpencil yang berada dalam wilayah Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau ini pernah sempat heboh dengan masuknya peneliti dari Jepang beberapa tahun lalu.

Kini, pulau yang berjarak sekitar 9 jam perjalanan laut dari Tambelan tersebut kembali ramai di medsos berkat dokumenter yang diunggah dari sebuah akun Facebook atas nama Budi Sahrul (31/8).

Di dalam deskripsinya, Budi Sahrul menulis "Satu bulan saya di Pulau Pejantan, pulau yang dihuni sekitar 60 jiwa, mereka muslim semua, namun mereka tidak bisa mengaji, tidak bisa sholat, bahkan ketika ada warga yang meninggal mereka hanya mengkafani saja tidak disholatkan langsung dikubur kata salah satu penduduk yang cerita ke saya, di sana tidak ada sarana ibadah mushola atau masjid, sekolah ada tapi tidak ada guru, miris rasanya, jadilah saya guru ngaji dadakan, sekiranya ada di sini  yang mau menyisihkan sedikit hartanya mari kita galang dana untuk membangun mushola atau masjid dan mengirim guru agama ke sana".

Secara tiba-tiba, unggahan yang berasal dari akun Budi Sahrul menjadi buah bibir medsos, khususnya di dalam beberapa grup Whatsapp warga Tambelan sendiri, mulai dari kritik, saran, apresiasi, bahkan cari solusi dari unggahan konten tersebut.

Menanggapi deskripsi dari akun di atas, Kepala Kemenag Kabupaten Bintan, Nasir berpendapat agar mencari kebenaran informasi dari unggahan akun Budi Sahrul.

"Waspadai berita hoax namun perlu diselidiki kebenarannya," kata Nasir pada Antara Biro Kepri, Sabtu.

Sambung mantan Kepala Kemenag Kota Tanjungpinang tersebut, di Kabupaten Bintan sudah memiliki 8 penyuluh di setiap kecamatan yang tugasnya berdakwah secara maksimal, dan dari penyuluh tersebut belum ada laporan seperti yang dituliskan oleh akun Budi Sahrul.

Akan tetapi, Nasir belum menanggapi pertanyaan lanjutan tentang program yang ia maksud, khususnya di Tambelan yang berkaitan dengan topik agama di Pulau Pejantan. 

Sementara, akun Budi Sahrul yang dikonfirmasi Antara melalui pesan Facebook juga belum memberikan respon apapun. 

Di sisi lain, Sekretaris Kecamatan Tambelan, Baharuddin (1/9) justru membenarkan adanya program ustadz yang memberikan pendidikan agama di Tambelan dari Kabupaten Bintan, sebagaimana yang dimaksud oleh Muhammad Nasir tetang 8 penyuluh yang berdakwah tersebut.

"Hanya 5 orang ustadz yang diutus oleh Pemkab Bintan ke Kecamatan Tambelan, yang kami tau itu ada Ustadz Edi Alwi, Ustadz Mutohir, Ustadz Khatimul Asum, Ustadz Ali Mitfah, dan ada satu lagi," ungkap Baharuddin.

Tambah dia, program yang dicetuskan era Bupati Ansar Ahmad tersebut masih berlanjut sampai saat ini, bahkan para ustadz masih mendapatkan gaji dari Pemkab Bintan.

Tapi, pergerakan memberikan ilmu agama sampai ke Pejantan memang tak terpantau oleh pihak kecamatan, dengan alasan bahwa kecamatan tidak memiliki perpanjangan tangan di pulau-pulau tersebut. Hanya berharap pada laporan kepala desa masing-masing.
 
Lanjutnya, secara pemerintahan, Pejantan masuk dalam wilayah Desa Mentebung yang saat ini kondisi jabatan kades tengah kosong menunggu penunjukan sementara mengisi kekosongan tersebut dari Pemkab Bintan.

Baharuddin yang pernah berada di Pejantan, mengaku bahwa ada satu orang yang biasa mengurus jenazah atau imam untuk setiap ibadah di pulau tersebut, bernama Mansyur. 

Akan tetapi, sosok Mansyur yang disampaikan Baharuddin tidak berdomisili di Pejantan, melainkan di pulau lain yang lebih dekat dengan jarak tempuh sekitar 3 jam perjalanan laut menggunakan kapal kayu.

"Jadi, informasi dari akun yang mengatakan bahwa masyarakat Pejantan tidak ada yang bisa sholat itu, saya rasa tidak sepenuhnya benar," tegas mantan Kepala UPT Pendidikan Bintan di Tambelan tersebut.

Di wawancara terpisah, Camat Tambelan Hidayat mengaku akan memanggil koordinator para ustadz di Tambelan untuk membicarakan  tentang pengajaran ilmu agama Islam di Pejantan.

Hidayat menjelaskan bahwa lima ustadz yang ditugaskan di Kecamatan Tambelan oleh Pemkab Bintan era Bupati Ansar Ahmad memiliki daerah dakwahnya masing-masing. Termasuk berdakwah di Desa Mentebung yang di dalamnya terdapat pulau Pejantan.

"Memang Pejantan itu tidak tersentuh oleh ustadz, sehingga kami tidak memungkiri apa yang di upload tersebut benar adanya," kata Hidayat.

Ia berharap agar ustadz yang dibiayai oleh Pemkab Bintan untuk memberikan ilmu agama di Tambelan dapat menjangkau pulau-pulau di sekitar Tambelan yang juga memiliki penduduk, seperti Pejantan.

Pejantan semakin terpojok dengan minimnya jumlah pendidik, yang secara umum kondisi pendidikan di Tambelan jadi perhatian sejak dihapusnya Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan di Kecamatan Tambelan beberapa waktu lalu. (Antara)

Camat Tambelan Hidayat mengungkapkan bahwa sejak hilangnya UPT Pendidikan di Tambelan, guru yang mengajar di pulau-pulau sulit diawasi, bahkan tidak diketahui apakah para pendidik tersebut menjalankan disiplin mengajar atau tidak.

"Sejak UPT Pendidikan ini tak ada, guru-guru yang mengajar di pulau sekitar Tambelan merajalela, susah kami nak cakap," ungkap Hidayat.

Sambung dia, memang UPT digantikan dengan istilah Koordinator Wilayah (Korwil), tapi korwil tidak bisa berbuat banyak terhadap tingkah laku guru di Kecamatan Tambelan.

"Di Pejantan guru hanya ada 2 orang yang mengajar itu juga tidak terpantau oleh kami," tuturnya.

Sementara itu, Korwil Pendidikan di Tambelan, Rajmiadi yang dikonfirmasi Antara belum memberikan keterangan apapun terkait fungsinya di Kecamatan Tambelan.

Kembali kepada Baharuddin, mantan Kepala UPT Pendidikan Tambelan itu mengatakan bahwa sejak UPT Pendidikan Tambelan ditutup, disiplin guru dalam mengajar sulit diawasi. 

UPT bagi Baharuddin, adalah perpanjangan tangan dari dinas pendidikan untuk melakukan monitoring, menegur, atau tindak lanjut yang lain kepada pendidik yang tidak disiplin mengajar.

"Memang UPT digantikan dengan korwil, tapi korwil sifatnya hanya urusan administrasi, misalnya gaji, laporan, absen, tidak bisa memberikan kebijakan seperti kewenangan yang dimiliki UPT," tegasnya.

Tetapi, ketika ia menjabat Kepala UPT Pendidikan di Tambelan, Baharuddin memiliki cara khusus untuk melakukan fungsi pengawasan, antara lain memfasilitasi kapal kayu untuk akses ke pulau jauh atau Pejantan.

Ia menyadari bahwa Pejantan itu adalah pulau yang jauh dari Tambelan, jarang penduduk, tanpa teknologi, tanpa listrik, tanpa dermaga, dan serba minim dengan jumlah penduduk 46 orang.

Bahkan persepsi masyarakat tentang Pejantan itu adalah belantara dengan kisah-kisah kepercayaan rakyat yang masih kental membuat pulau tersebut memang membutuhkan pendidik yang memiliki mental kuat untuk menjalankan profesi sebagai guru.
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar