Jelajah Anambas - Tiga hari jelajahi pulau di ujung negeri (I)

id Tiga hari,jelajahi,pulau di ujung negeri,tarempa anambas

Jelajah Anambas -  Tiga hari jelajahi pulau di ujung negeri (I)

Kapal angkutan barang antarpulau di Pelabuhan Tarempa, Anambas, Selasa. (ANTARA/Nikolas Panama)

Anambas (ANTARA) - Petualangan menuju Tarempa, Ibu Kota Kepulauan Anambas berlanjut setelah empat hari menjelajahi Bunda Tanah Melayu, Kabupaten Lingga.

Perjalanan menuju Kepulauan Anambas tidak terlalu sulit jika menggunakan Pesawat Wing dari Bandara Hang Nadim, Batam. Lama perjalanan udara hanya sekitar sejam menuju bandara di Letung, Kecamatan Jemaja.

Alternatif menuju Kepulauan Anambas yang berbatasan dengan Malaysia, Vietnam dan Thailand, dapat menggunakan kapal MV Putri Anggraeni 01, Putri Anggraeni 05 dan MV VOC Batavia, kapal yang dapat mengantarkan penumpang dari Tanjungpinang, ibu kota Kepulauan Riau.

Untuk mengetahui bagaimana petualangan di lautan lepas, Antara didampingi Zuhaimi, 29 tahun, warga Letung yang sekitar enam tahun lalu menyelesaikan kuliah di Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang, menumpang MV Putri Anggraeni 05 menuju Tarempa.

Kapal dengan kapasitas penumpang 185 orang itu, pukul 07.00 WIB sandar di Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang, Ahad (1/11). Harga tiket kapal untuk satu orang penumpang Rp470.000.

Penumpang pun wajib menunjukkan surat hasil pemeriksaan dengan menggunakan tes cepat (rapid test).

MV Putri Anggraeni mulai berlayar pukul 07.30 WIB menuju Batam. Sekitar pukul 08.30 WIB, kapal cepat tersebut sandar, dan mengangkut penumpang di Pelabuhan Punggur, Batam.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Tarempa. Tiga jam kapal berlayar, suasana di dalam kapal mulai agak tegang. Angin kencang dan gelombang tinggi menghempas kapal.

Sejumlah penumpang pun mulai was-was. Beberapa penumpang juga sudah mempersiapkan kantong. Mereka mulai mual, dan muntah sepanjang perjalanan.

"Ini sudah memasuki angin utara," kata Zuhaimi.

Tidak ada yang dapat dikerjakan di dalam kapal. Penumpang hanya dapat duduk, dan tidur. Ponsel yang dipegang mereka tidak mendapatkan sinyal telepon maupun internet.

Perjalanan kapal mengarungi lautan lepas masih cukup lama. Beberapa kali kapal goyang dihempas gelombang dan angin kencang. Penumpang hanya bisa duduk, diam.

Jam dinding menunjukkan pukul 15.30 WIB. Perasaan lega pun mulai menghiasi wajah penumpang yang sudah berlayar selama sekitar delapan jam. Pulau-pulau mulai terlihat setelah beberapa jam melintasi lautan lepas.

Pulau pertama yang tampak jelas terlihat adalah Jemaja. Namun, kapal ini tidak singgah ke pulau itu. Butuh waktu sekitar 1,5 untuk sampai di Pelabuhan Pelni Tarempa.

Kala itu cuaca mendung. Awan hitam menutupi langit. Angin kencang masih mengancam kapal.

"Ada angin ribut," ucal Yusri, penumpang yang duduk di lantai dua kapal.

MV Putri Anggraeni akhirnya berhasil sandar di Pelabuhan Pelni Tarempa tepat pukul 17.00 WIB.

Satu persatu penumpang mulai keluar dari kapal. Petugas gabungan menyambut kedatangan para penumpang. Mereka menyemprot disinfektan kepada seluruh penumpang.

Petugas kesehatan juga mengukur suhu tubuh para penumpang, kemudian memeriksa surat bukti nonreaktif berdasarkan hasil rapid test.

"Bapak mau ke mana? Menginap di mana?" tanya salah seorang petugas kesehatan dengan dialek Melayu khas Anambas kepada seluruh penumpang.

Tiga orang petugas bersiaga menggunakan alat pelindung diri yang lengkap. Mobil ambulans pun disiapkan untuk membawa penumpang bergejala COVID-19 ke rumah sakit.


Geliat ekonomi

Dari pelabuhan menuju penginapan hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit, dengan berjalan kaki. Warga setempat begitu ramah menyapa setiap pendatang.

Dalam perjalanan menuju penginapan yang diberi nama Hang Tuah, tampak ratusan pedagang makanan siap saji berjejeran di tepi jalan. Sebagian mereka membuka kedai kopi.

Harga sewa kamar di penginapan itu pun relatif murah, berbeda dengan Batam, Karimun dan Tanjungpinang.

Dari lantai tiga di penginapan itu, tampak aktivitas perekonomian dan tempat tinggal menumpuk di kawasan pasar, yang dekat dengan penginapan. Mereka membangun usaha dan tempat tinggal di bibir Tarempa, Pulau Siantan.

Hingga pukul 12.00 WIB suasana di kawasan yang dikenal dengan nama Loka, masih ramai.

"Kedai kopi di sini tutup jam 02.00 WIB," kata Mochtar, salah seorang warga.

Harga makanan dan minuman di Tarempa jauh lebih mahal dibanding Lingga, Tanjungpinang, Bintan, Batam dan Karimun. Meski Anambas terkenal dengan ikan, harga satu ekor ikan bakar bisa mencapai Rp30.000 - Rp40.000, atau setara dengan harga dua ekor ikan bakar di Tanjungpinang.

Begitu pula harga satu potong ayam goreng atau ayam sambal bisa mencapai Rp30.000-Rp35.000. Di Tanjungpinang, konsumen masih dapat membeli ayam goreng dengan harga Rp10.000-Rp15.000.

Satu cangkir kopi hitam atau dikenal dengan nama kopi O Rp6.000-7.000, sedangkan kopi susu Rp8.000-Rp10.000.

"Warga Tarempa ini konsumtif," ucap Jupri Budi, mantan wartawan media lokal, yang kini menjabat sebagai Ketua KPU Anambas.

Daya beli warga Tarempa relatif tinggi. Karena itu, kata Budi roda perekonomian berjalan lancar. Warga Anambas pun terkenal kaya, karena sumber daya lautan yang melimpah.

"Walaupun di ujung negeri, nelayan Anambas ini penghasilannya besar. Coba lihat, banyak sekali motor baru. Itu hanya contoh," ucapnya.

Ngopi menjadi tradisi sebelum bekerja. Tak heran bila aktivitas di Loka hingga di pelabuhan kembali ramai, padahal masih pukul 05.00 WIB. Pedagang mulai membuka usahanya.

Aktivitas para pedagang dan buruh pun terdengar riuh hingga terdengar dari kamar penginapan. Harum aroma kopi yang digoreng pun mulai menggoda.

Para pekerja mulai memasuki satu persatu kedai kopi.

Pendapatan pemilik kedai kopi yang juga menjual beraneka makanan cukup tinggi. Rata-rata penghasilan mereka mencapai Rp1,5 hingga Rp2 juta.

"Ramai, setiap hari ramai. Yang jualan di tempat lain juga ramai pembeli," kata pemilik kedai kopi di dekat pelabuhan.


Nelayan berada

Orang-orang Anambas dikenal sebagai orang kaya oleh pedagang di Tanjungpinang. Mereka kerap membeli barang-barang baru tanpa meminta diskon.

"Kalau mereka datang dari Tarempa, kami senang, bawa uang banyak. Ini konsumen yang tidak cerewet dan royal," kata Joni, salah seorang pedagang di Tanjungpinang.

Di Tarempa jarang terlihat rumah mewah. Rata-rata warga membangun tempat usaha dan rumah dari kayu dan papan di pelantar dekat bibir pantai.

Ratusan orang sehari-hari lalu lalang dari berbagai pulau menuju Pelabuhan Pelni Tarempa. Mereka rata-rata bekerja sebagai pengangkut dan pengantar barang antarpulau.

Tidak semua buruh memiliki perahu, yang dikenal dengan sebutan pompong. Harga satu perahu yang dilengkapi mesin lebih dari Rp100 juta, sama seperti satu mobil bekas merek Avanza.

Bagi masyarakat pesisir, lautan seperti daratan yang dilalui dengan kapal. Pelabuhan seperti terminal bus. Mereka tidak pernah mengeluh dengan gelombang (Menjaga Indonesia Dari Kepri, 2012).

Sunadi yang bekerja sebagai buruh musiman di pelabuhan, sehari-hari memperoleh pendapatan Rp200.000-Rp350.000.

Abdul Razak pun memperoleh pendapatan Rp200.000 lebih dalam sehari bekerja sebagai buruh yang mengangkut dan mengantar barang-barang milik pedagang ke pulau-pulau.

Mokhtar juga berpenghasilan yang hampir sama dengan Sunadi dan Abdul Razak.

Mereka tidak menyelesaikan bangku pendidikan dasar, kecuali Sunadi tamat SMP.

Pekerjaan mereka sehari-hari sebagai nelayan. Namun, sesekali mereka menjadi buruh angkut di pelabuhan ketika cuaca kurang baik.

Sekarang musim angin utara, gelombang tinggi, jadi dia dan teman-temannya sekali-kali bekerja sebagai buruh angkut.*
 
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar