Bintan (ANTARA News) - Seorang ustadz, imam dan guru ngaji di Surau Al Mujahidin Desa Bangun Rejo, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Syamsudin, 70 tahun, dibunuh beberapa preman di lokasi penambangan bauksit.
   
"Kami telah menetapkan seorang tersangka dari tiga pelaku yang diamankan tadi malam setelah beberapa jam kejadian," kata Kasat Reskrim Polresta Tanjungpinang, AKP Aris Rusdiyanto, Selasa.
   
Polisi menduga pelaku lebih dari satu orang. Karena itu, polisi menangkap KN dan KS setelah Ail ditetapkan sebagai tersangka.
   
"Bila dilihat dari luka yang dialami korban, maka patut diduga pelaku lebih dari satu orang," ujar Aris.
   
Peristiwa berdarah itu terjadi pada Senin sore (20/6-2011). Korban dianiaya pada saat sedang mencari kayu kering di lokasi penambangan bauksit yang dikelola PT KP.
   
Beberapa saksi mata mengatakan, korban dikejar oleh belasan preman berkulit hitam dan berambut keriting setelah kepalanya dipukul pakai parang.
   
Akibat penganiayaan tersebut kepala korban robek sepanjang 10 cm dan beberapa bagian tubuhnya terluka. Kemudian korban dilarikan ke Rumah Sakit TNI AL Tanjungpinang, Kepulauan Riau oleh beberapa tetangganya. 
   
"Kami menduga penganiayaan tersebut dipicu oleh permasalahan lahan antara Syamsudin dengan PT KP," ungkap Nanto, Ketua Pemuda RT3/RW3 Desa Bangun Rejo.
   
Akibat peristiwa tersebut, tadi malam Polresta Bintan dan aparat pemerintah setempat menggelar pertemuan dengan warga setempat di Surau Al Mujahidin untuk mencegah terjadinya konflik antarsuku. Warga sepakat untuk tidak membalas penganiayaan yang dilakukan beberapa preman tersebut.
   
Namun warga meminta pihak perusahaan untuk tidak pernah lagi menggunakan jasa preman untuk menjaga lokasi penambangan. 
   
"Tokoh melayu meminta pemerintah dan pihak kepolisian untuk menggelar pertemuan tokoh-tokoh dari berbagai suku. Jika itu tidak direalisasikan, maka permasalahan penganiayaan tersebut dianggap belum selesai," ungkap Nanto setelah menghadiri pertemuan di Surau Al Mujahidin.  

(ANT-NP/Btm1)