Tanjungpinang (Antara Kepri) - Pemerintah Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, mengirim lima orang peserta yang terdiri dari para pelaku usaha kecil dan menengah untuk mengikuti pelatihan  membuat tenun di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

"Kegiatan dimaksud merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan keterampilan para perajin tenun, khususnya di Kota Tanjungpinang, agar bisa menghasilkan kain tenun dengan menampilkan motif atau corak khas Kota Tanjungpinang," kata Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah, Rabu.

Pusat tenun berada di Desa Sukarare, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Lis didampingi Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Tanjungpinang Wan Kamar, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Tanjungpinang Yuniarni Pustoko Weni, serta anggota DPRD Kota Tanjungpinang Sukandar dan Asep Nana Suryana mengantar lima orang peserta magang tenun tersebut hingga ke Desa Sukarare.

Kegiatan magang dijadwalkan akan berlangsung dari tanggal 12 hingga 27 Mei dan dikoordinir langsung oleh Disperindag Kota Tanjungpinang.

"Para peserta harus serius menyerap ilmu dari pelatihan yang diikuti selama dua minggu. Belajarlah sebanyak-banyaknya tentang ilmu tenun, dan harus dipraktikan di Tanjungpinang," ucapnya.

Hal senada juga dikatakan oleh epala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Tanjungpinang Wan Kamar.

Ia mengatakan bahwa rombongan dari Kota Tanjungpinang diterima dengan sangat ramah oleh penduduk setempat.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Perajin Tenun Desa Sukarare, Satriadi, salah satunya, yang menyambut para peserta magang dengan hangat.

"Peserta magang dari Kota Tanjungpinang akan diberi latihan dasar dulu, yaitu menenun tanpa dasar. Hal ini, menurut Satriadi, adalah untuk melatih kelenturan tangan dalam menjalankan alat tenun," katanya.

Desa Sukarare merupakan desa khusus penghasil kain tenun dan merupakan ikon tenun di Kabupaten Lombok Tengah. Daerah yang memiliki 12 Kecamatan dan 139 Kelurahan ini merupakan daerah yang beradab dan potensial.

"Masyarakatnya sendiri wajib memiliki keahlian menenun, baik laki-laki atau perempuan. Itulah sebabnya, sejak usia dini anak-anak di Desa Sukarare sudah diajarkan bagaimana cara menenun. Selain sebagai petani, mata pencaharian di Desa Sukarare adalah menenun," ujar Wan Kamar.

Salah satu penenun di Desa Sukarare adalah Simah, yang sudah menenun sejak berusia 10 tahun. Saat ini, kata Wan Kamar, Simah merupakan salah satu dari penenun yang memiliki keahlian sebagai penenun kain bermotif.

"Semua orang bisa menenun namun tidak semua orang bisa membuat motif, dan Simah merupakan satu di antara sedikit orang yang memiliki keahlian tersebut," katanya. (Antara)

Editor: Rusdianto