Batam (Antara Kepri) - Sebuah gerobak lontong pecel milik pedagang kaki lima dibakar di seberang Kantor Wali Kota Batam, Selasa, usai puluhan pelaku Usaha Kecil Menengah menggelar unjuk rasa menolak Upah Minimum Kota Batam sebesar Rp2,5 juta.
       
Namun, usai membakar gerobak, tidak satu pun pelaku UKM berada di sekitar tempat kejadian. Petugas Satuan Pamong Praja pun langsung berupaya memadam api.
       
Dalam unjuk rasa, perwakilan UKM  Abah Obos Bustaman meminta Wali Kota tegas menetapkan UMK, dan tidak mewakilkannya kepada Asisten II bidang Perekonomian, Suzairi.
       
"Kami minta Wali kota jangan buang badan, Suzaeri jangan seenaknya bicara masalah besaran UMK," kata Obos.
       
Pelaku UKM protes pernyataan Suzairi di media massa yang mengatakan UMK Batam idealnya Rp2,4 juta.
       
"UMK Rp 2,44 juta itu tidak masuk akal,  memaksa pelaku UKM untuk gulung tikar," kata dia.
       
Ia meminta pemerintah kota lebih berpihak pada pelaku UKM dengan tidak menetapkan UMK tinggi, seperti yang dituntut pekerja.
      
"Pemkot sudah tidak peduli dengan pelaku UKM yang ada di Batam. Kami minta Ahmad Dahlan bijak," kata dia.
       
Sementara itu, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Kota Batam bidang Koperasi dan UKM meminta Wali Kota Batam tegas. Ia juga menolak UMK Rp2,4 juta.
       
"Kalau sempat itu disahkan, kami gulung tikar. Pengangguran akan semakin banyak di Batam," katanya.
       
Padahal, kata dia, UKM adalah motor penggerak ekonomi di Indonesia.
       
Ia juga meminta pelaku UKM dilibatkan dalam pembahasan UMK di dwipartid dan tripartid yang selama ini hanya diisi perwakilan pengusaha, pekerja dan pemerintah.
       
Kadin Batam mengusulkan upah khusus untuk pekerja Usaha Kecil Menengah karena tidak mampu menggaji karyawan dengan ketentuan UMK.(Antara)

Editor: Dedi