Kapolresta: Kericuhan Warga Bengkong Disusupi
Selasa, 8 November 2016 22:01 WIB
Batam (Antara Kepri) - Kapolresta Barelang Kombes Pol Helmy Santika menyatakan kericuhan warga di Kampung Harapan Swadaya, Kota Batam, Kepulauan Riau, Selasa disusupi warga kampung lain yang membawa bom molotov.
"Peristiwa ini ada yang menunggangi. Ada bukan warga sini yang menyiapkan bom molotov," Kapolresta Helmy Santika saat menenangkan ratusan warga di Batam, Selasa.
Warga pembawa bom molotov dipastikan bukan warga Kampung Harapan Swadaya yang hendak dirubuhkan perusahaan pengembang.
Aparat telah mengamankan warga terebut dan akan menyelidiki motifnya.
"Apa tujuannya sehingga ingin lakukan itu," kata dia.
Ia meminta warga untuk tenang dan tidak bertindak anarkis.
Di tempat yang sama, Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad juga meminta warga untuk tenang dan menjaga kondusivitas keamanan bersama.
"Pemkot akan memfasilitasi warga dalam persoalan ini," kata dia.
Ketua DPRD Kota Batam Nuryanto yang juga hadir di tengah-tengah warga meminta warga berdoa dan bersabar.
DPRD bersama Pemkot dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah akan mengadakan rapat khusus untuk menyelesaikan persoalan itu.
Warga Kampung Harapan Swadaya, Dea menyatakan warga sepakat tidak akan meninggalkan kampung itu.
"Ini rumah kami, saya lahir di sini. Kami tidak akan meninggalkannya," kata Dea (36).
Ia berharap pemerintah dapat menyelesaikan persoalan itu.
Warga Kampung Harapan Swadaya lainnya, Nur (40) memperkirakan terdapat 3.000 warga yang tinggal di sana.
"Ada lima RT. Rumahnya ada banyak. Kami semua menolak digusur, kami bayar PBB," kata dia. PBB adalah Pajak Bumi dan Bangunan.
Sementara itu, sejumlah rumah mewah Perumahan Glory Home terbakar dalam kericuhan itu.
Kericuhan bermula dari sengketa lahan antara warga yang tinggal di Kampung Harapan Swadaya dengan perusahaan pengembang. (Antara)
Editor: Rusdianto
"Peristiwa ini ada yang menunggangi. Ada bukan warga sini yang menyiapkan bom molotov," Kapolresta Helmy Santika saat menenangkan ratusan warga di Batam, Selasa.
Warga pembawa bom molotov dipastikan bukan warga Kampung Harapan Swadaya yang hendak dirubuhkan perusahaan pengembang.
Aparat telah mengamankan warga terebut dan akan menyelidiki motifnya.
"Apa tujuannya sehingga ingin lakukan itu," kata dia.
Ia meminta warga untuk tenang dan tidak bertindak anarkis.
Di tempat yang sama, Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad juga meminta warga untuk tenang dan menjaga kondusivitas keamanan bersama.
"Pemkot akan memfasilitasi warga dalam persoalan ini," kata dia.
Ketua DPRD Kota Batam Nuryanto yang juga hadir di tengah-tengah warga meminta warga berdoa dan bersabar.
DPRD bersama Pemkot dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah akan mengadakan rapat khusus untuk menyelesaikan persoalan itu.
Warga Kampung Harapan Swadaya, Dea menyatakan warga sepakat tidak akan meninggalkan kampung itu.
"Ini rumah kami, saya lahir di sini. Kami tidak akan meninggalkannya," kata Dea (36).
Ia berharap pemerintah dapat menyelesaikan persoalan itu.
Warga Kampung Harapan Swadaya lainnya, Nur (40) memperkirakan terdapat 3.000 warga yang tinggal di sana.
"Ada lima RT. Rumahnya ada banyak. Kami semua menolak digusur, kami bayar PBB," kata dia. PBB adalah Pajak Bumi dan Bangunan.
Sementara itu, sejumlah rumah mewah Perumahan Glory Home terbakar dalam kericuhan itu.
Kericuhan bermula dari sengketa lahan antara warga yang tinggal di Kampung Harapan Swadaya dengan perusahaan pengembang. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta : YJ Naim
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Polresta Barelang dukung imbauan Disdik larang pelajar bawa kendaraan ke sekolah
15 August 2025 11:04 WIB
Kapolresta Barelang pastikan pembongkaran di kawasan Rempang berjalan kondusif
09 July 2025 10:11 WIB