Pemerintah tidak fasilitasi ibadah tarwiyah
Minggu, 19 Agustus 2018 12:08 WIB
Dokumentasi sejumlah jamaah calon haji dari Sumatera Utara memakai ihram saat tiba di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah Arab Saudi, Jumat (14/10). Berbeda dengan gelombang pertama yang ke Madinah, untuk gelombang dua langsung ke Mekkah untuk melaksanakan umroh. (ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo)
Batam (Antaranews Kepri) - Pemerintah tidak memberikan fasilitas kepada jamaah calon haji yang hendak melaksanakan tarwiyah dalam rangkaian ibadah pada musim haji 2018.
Kepala Sub Bidang Informasi dan Humas Panitia Pelaksana Ibadah Haji Embarkasi Hang Nadim Batam, Syahbudi di Batam, Sabtu, mengatakan pemerintah memiliki empat alasan tidak memfasilitasi ibadah tarwiyah.
"Pertama, dari aspek fiqih atau hukum, tarwiyah bukan termasuk rukun atau wajib haji. Melainkan sunnah menapaktilasi rute saat Rasul SAW melaksanakan haji," kata dia.
Kemudian, dari aspek kesehatan, jamaah bisa kelelahan, energinya bisa terkuras dan menjadi kelelahan karena harus melakukan perjalanan tambahan ke Mina baru kemudian bergabung dengan jamaah lainnya di Arafah.
Lalu, dari aspek keamanan, tidak ada unsur penyelenggara pada tarwiyah.
"Muassasah dan Maktab fokus di Arafah. Perlindungan dan monitoring jamaah tidak maksimal dan rawan keamanan," kata dia.
Serta dari aspek kenyamanan. Karena sejak 8 Dzulhijjah, seluruh penyelenggara haji dari Arab Saudi maupun Indonesia fokus di Arafah, maka pelayanan terhadap jamaah tidak akan maksimal. Air, listrik, makanan, tenda dan transportasi tidak tersedia.
Sementara itu, meski tidak difasilitasi pemerintah, namun sepuluh orang JCH Kloter 27 Embarkasi Hang Nadim Batam tetap menjalankan ibadah tarwiyah. (Antara)
Kepala Sub Bidang Informasi dan Humas Panitia Pelaksana Ibadah Haji Embarkasi Hang Nadim Batam, Syahbudi di Batam, Sabtu, mengatakan pemerintah memiliki empat alasan tidak memfasilitasi ibadah tarwiyah.
"Pertama, dari aspek fiqih atau hukum, tarwiyah bukan termasuk rukun atau wajib haji. Melainkan sunnah menapaktilasi rute saat Rasul SAW melaksanakan haji," kata dia.
Kemudian, dari aspek kesehatan, jamaah bisa kelelahan, energinya bisa terkuras dan menjadi kelelahan karena harus melakukan perjalanan tambahan ke Mina baru kemudian bergabung dengan jamaah lainnya di Arafah.
Lalu, dari aspek keamanan, tidak ada unsur penyelenggara pada tarwiyah.
"Muassasah dan Maktab fokus di Arafah. Perlindungan dan monitoring jamaah tidak maksimal dan rawan keamanan," kata dia.
Serta dari aspek kenyamanan. Karena sejak 8 Dzulhijjah, seluruh penyelenggara haji dari Arab Saudi maupun Indonesia fokus di Arafah, maka pelayanan terhadap jamaah tidak akan maksimal. Air, listrik, makanan, tenda dan transportasi tidak tersedia.
Sementara itu, meski tidak difasilitasi pemerintah, namun sepuluh orang JCH Kloter 27 Embarkasi Hang Nadim Batam tetap menjalankan ibadah tarwiyah. (Antara)
Pewarta : YJ Naim
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
KPK sebut Yaqut Cholil sempat bagi 20.000 kuota haji tambahan 2024 sesuai UU
13 March 2026 15:35 WIB
Kemenhaj Batam pastikan pemberangkatan jamaah umrah tetap berjalan sesuai jadwal
04 March 2026 13:45 WIB