Warga Desa Batu Limau di Karimun masih kesulitan mengakses internet

id Susah sinyal internet

Warga Desa Batu Limau di Karimun masih kesulitan mengakses internet

Warga Desa Batu Limau tengah memperbaiki jaring ikan. Sebagian besar penduduk setempat berprofesi nelayan. (Foto ANTARA/Ogen)

Karimun, Kepri (ANTARA) - Warga Desa Batu Limau, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau (Kepri) masih kesulitan mengakses jaringan internet karena kondisi sinyal putus-putus bahkan kadang tak ada sama sekali.

Kondisi tersebut berlangsung dari tahun ke tahun tanpa ada solusi perbaikan kualitas layanan internet dari pemerintah terkait maupun provider operator seluler.

"Internet di sini memang  lemot. Wajar, kalau kami agak susah mengikuti perkembangan informasi dari dalam hingga luar negeri melalui dunia maya," kata seorang warga, Deko di Batu Limau, Jumat.

Warga Batu Limau harus pergi ke Kelurahan Alai dengan jarak tempuh kendaraan sekitar 10-15 menit untuk mendapatkan sinyal internet yang memadai.

Alternatif lain, warga sekitar saat sore hari biasanya turun ke lokasi objek wisata Laut Tanjung (Batu Limau) dengan jarak tempuh kendaraan sekitar 5 menit.

"Di Laut Tanjung, jaringan internet cukup baik. Itu pun sinyalnya ditangkap dari tower di seberang atau Pulau Burung, Provinsi Riau," ujar Deko.

Warga lainnya Azli berharap pemerintah desa hingga pemerintah kabupaten meningkatkan kapasitas jaringan internet di daerah Batu Limau, sehingga warga setempat tidak gagap teknologi.

Dewasa ini, menurutnya, kehadiran teknologi seperti telepon seluler tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat dan lingkungan sosial.

Dengan teknologi itu, warga bisa berkomunikasi satu sama lain tanpa perlu bertatap muka langsung. Cukup lewat suara maupun video call.

Di sisi lain, teknologi bisa dimanfaatkan untuk menambah pundi-pundi uang, misalnya berjualan secara online melalui telepon pintar atau smart phone.

Internet berkualitas pun diyakini akan turut mendorong kemajuan suatu desa, karena berbagai potensi di desa mulai dari pariwisata, ekonomi, sosial dan budaya setempat dapat dipromosikan melalui teknologi, sehingga diharapkan dapat menarik orang-orang luar daerah datang ke daerah tersebut.

"Kalau sekadar telepon atau video call dengan keluarga dari jauh via telepon saja susah, bagaimana desa kita mau berkembang dan maju," demikian Azli.

 
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE