Tari 'Si sundul-sundul pacul'

id tari duta bp batam

Duta BP Batam, Rachma Utari Damarasri. (Antaranews Kepri/Messa Haris)

Apabila komentator dalam pertandingan sepak bola atau futsal kaku, suasana menjadi mati dan permainan di lapangan terlihat membosankan.
Batam (Antaranews Kepri) - "Bola digiring, dioper ke depan disundul-sundul pacul, namun sayang pemainnya terjatuh dan terjatuh lagi,"

Kalimat ini dilontarkan oleh Rachma Utari Damarasri saat menjadi komentator turnamen futsal antar media di Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau, untuk memperebutkan piala bergilir Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam yang diadakan pada Sabtu (3/3) dan Minggu (4/3) kemarin.

Meski tidak memiliki ketertarikan dengan dunia sepak bola khususnya futsal, namun kata-kata unik dan spontan yang dikeluarkannya membuat pemain dan penonton sedikit melirik ke arahnya.

Dara manis yang akrab disapa Tari itu mengatakan, tugas utamanya di turnamen tersebut hanya sebagai Master of Ceremony (MC), bukan menjadi komentator. Tetapi sebagai Duta BP Batam Tari harus siap ketika diminta untuk mengisi di setiap acara yang diselenggarakan institusi tersebut.

"Ketertarikan khusus dengan pertandingan bola secara pribadi jujur tidak ada, tapi karena ini acara dari BP Batam ya saya harus bisa memberikan yang terbaik," kata dia.

Alumni SMA 3 Kota Batam itu mengatakan apabila komentator dalam pertandingan sepak bola atau futsal kaku, suasana menjadi mati dan permainan di lapangan terlihat membosankan.

Tetapi jika komentator melontarkan kata-kata lucu dan unik akan membuat para penonton dan pendukung dari tim yang bertanding menjadi lebih ceria.

"Kalau komentatornya lucu pasti akan membawa atmosfer yang berbeda," katanya.

Gadis kelahiran Batam 5 Januari 1997 itu menambahkan, sebelum menjadi komentator di turnamen futsal antar media yang diselenggarakan BP Batam, dirinya pernah beberapa kali membawakan acara yang sama.

Dia mengaku secara ototidak mempelajari bagaimana menjadi seorang pengulas pertandingan futsal, yaitu dengan melihat video-video Valentino Radot Simanjuntak alias Bung Jebret dan Hadi Gunawan alias Bung Ahay yang tenar saat menjadi pemerhati laga sepakbola tim nasional Indonesia.

"Saya dalam setahun itu maksimal nonton bola satu kali," kata Tari.

Baca juga: Lukita: Ciptakan kebersamaan media melalui kompetisi olahraga

Anak dari pasnagan Artinius dan Rita Mainy itu mengatakan, salah satu daya tarik sepak bola adalah kekompakan tim karena akan menjadi performa terbaik dalam olahraga khususnya pada pertadingan sepak bola.

Penyuka tahu goreng buatan ibundanya itu mengatakan tidak akan menolak jika dirinya ditawari menjadi komentator di setiap pertandingan asalkan tidak menganggu pekerjaan utamanya sebagai Duta BP Batam.

Pada turnamen antar media itu, anak pertama dari tiga bersaudara itu tertarik dengan tim Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Provinsi Kepri. Karena para pemainnya benar-benar menikmati laga saat bertanding dengan tim Koran Sindo Batam.

"Mereka terlihat lebih santai dan tidak seintens tim-tim yang lain walaupun mereka pengen menang dalam pertandingan itu," katanya.

Tari mengatakan olahraga yang dikaitkan dengan silahturahmi antara BP Batam dan media merupakan kolaborasi kegiatan yang sangat baik.Karena itu dapat meningkatkan tali silahturahmi antar media massa dan BP Batam. (Antara)

Editor : Pradanna Putra
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar