Air Terjun Ranai bebas sampah plastik

id natuna, lingkungan hidup, wisata

Air Terjun Ranai bebas sampah plastik

Linmas beserta warga Kelurahan Ranai Darat, Kecamatan Bunguran Timur, Natuna saat melakukan gotong royong bersihkan sampah dari kawasan objek wisata Air Terjun Ranai, Natuna, Sabtu (27/7). (Cherman)

Ranai (ANTARA) - Aparatur Pemerintah Kelurahan Ranai Darat, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, bersama masyarakat melakukan kegiatan gotong royong untuk membersihkan sampah plastik di kawasan Air Terjun Gunung Ranai.



"Kita hari ini melakukan gotong royong untuk membersihkan kawasan objek wisata, khususnya Air Terjun Gunung Ranai," kata M Basri, Lurah Ranai Darat kepada Antara disela kegiatan pemungutan sampah plastik di kawasan Air Terjun Gunung Ranai, Natuna, Sabtu, (27/7).



Hal itu dilakukan karena Gunung Ranai merupakan bagian dari Geoside Geopark Nasional berdasarkan penetapan status kawasan Natuna menjadi Geopark Nasional dan ditandai dengan penyerahan sertifikat oleh Komite Nasional Geopark Indonesia pada November tahun lalu.



Pemerintah daerah setempat terus melakukan kegiatan lintas sektoral dalam upaya pelestarian alam, serta pengelolaan kawasan Geopark Natuna menjadi objek wisata.



M Basri menjelaskan kegiatan tersebut bertujuan untuk menjaga kawasan Air Terjun Gunung Ranai agar  tetap lestari dan bebas dari sampah plastik.



"Terbukti kesadaran pengunjung masih kurang, karena banyak ditemukan sampah-sampah plastik," ungkapnya.



Melihat kondisi tersebut, Ia beserta anggota Linmas, Babinsa, Babinkamtibmas, RT, RW, Kepala Lingkungan serta para komunitas pemuda setempat menyepakati akan melakukan kampanye dan kegiatan gotong royong secara rutin.



"Kami akan terus menghimbau kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah plastik di kawasan Gunung Ranai, selain itu, kita juga akan menyusun jadwal rutin dengan jangka waktu tertentu melakukan gotong royong," jelasnya.



Sementara, Viktor, pengunjung wisata air terjun asal Lampung membenarkan banyaknya sampah di kawasan tersebut.



"Saya beserta rekan-rekan kemping di sini sejak kemaren, namun sayang tempat sebagus ini terusik dengan sampah plastik, "kata Viktor.



Menurut dia, Kawasan Gunung Ranai dengan air terjun pada ketinggian 307 Mdpl itu memiliki lintasan yang sangat menarik.



"Rute yang ditempuh sebelum sampai di sini sangat bagus sekali, menarik, sayang jika tidak dikelola dengan baik," kata Viktor.



Ia juga berharap kepada para pengunjung untuk sadar lingkungan, tidak membuang sampah di hutan.



"Semestinya sampah plastik itu harus kita bawa kembali ke bawah, jangan dibuang disini," tegasnya.



Untuk diketahui, dari catatan Antara, persiapan Natuna menjadi Geopark Nasional memang sudah lama dilakukan, namun sosialisasi kepada masyarakat masih kurang maksimal.



Tidak dipungkiri, sosialisasi, kajian dan berbagai rekomendasi secara administrasi dan teknis kawasan Natuna telah dilakukan sehingga ditetapkan sebagai Geopark Nasional Indonesia.



Karenanya, hal itu mengharuskan sebuah konsep manajemen pengembangan suatu kawasan (dengan luas tertentu) secara berkelanjutan yang memadu-serasikan tiga keanekaragaman alam, yaitu geologi (geodiversity), hayati (biodiversity) dan budaya (culturaldiversity) menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.



Dalam pengembangannya, konsep harus memenuhi unsur konservasi, edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ekonomi masyarakat lokal melalui geowisata.



Walaupun Natuna 99 persen lautan, namun Pulau Natuna besar bagian selatan hingga ke utara, 50 persennya terdapat batuan granit, bukit, Gunung, dan air terjun, hal itu menjadi daya tarik utama bagi situs Geopark.



Setidaknya ada 8 geoside masuk dalam Geopark Natuna yaitu Pulau Akar, Batu Kasah, Gunung Ranai, Pantai Gua Kamak, Pulau Senua, Pulau Setanau, Senubing, dan Tanjung Datuk.

Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar