Karimun (ANTARA Kepri) - Razia pada sejumlah rumah kos, hotel dan tempat hiburan dengan sasaran menjaring pelajar yang terlibat pergaulan bebas dinilai tidak efektif dan hanya menimbulkan keresahan.

"Kami menilai tidak tepat merazia hotel atau wisma untuk mencegah maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja atau pelajar. Yang muncul justru keresahan di kalangan wisatawan yang berkunjung. Apa dampak ini tidak dipikirkan sebelum menggelar razia?" kata anggota DPRD Karimun Zulfikar di Tanjung Balai Karimun, Kamis.

Pada Rabu (15/2), Tim Pengentasan Penyakit Masyarakat (Pekat) yang diketuai Wakil Bupati Karimun Aunur Rafiq, yang terdiri atas Satpol-PP, TNI dan Polri merazia sejumlah rumah kos, hotel dan wisma dengan target menjaring pelajar atau remaja yang telibat pergaulan bebas atau seks bebas.

Razia kemudian dilanjutkan hingga Rabu malam dengan merazia seluruh tempat hiburan malam serta kawasan Jalan Pesisir Tanjung Balai Karimun. Dalam dua razia itu, tim hanya menemukan sejumlah orang dewasa yang tidak dilengkapi identitas yang sah.

"Timbul kesan razia ini hanya untuk menakut-nakuti, padahal yang harus diberikan penekanan untuk mencegah kenakalan remaja adalah pembinaan dan penyaluran hobi, minat serta bakat generasi muda agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas," katanya.

Menurut dia, pencegahan seks bebas di kalangan remaja yang ditengarai marak di hotel dan wisma hanyalah dampak dari pengaruh lingkungan serta minimnya fasilitas bagi remaja untuk menghabiskan waktu luang sepulang dari sekolah.

"Akibat minimnya fasilitas itu, remaja mudah terjerumus pergaulan bebas yang berawal dari keingintahuan terhadap hiburan malam. Kami pikir, dengan menggelar razia belum memberikan efek jera," ucap politisi Partai Hati Nurani Rakyat itu.

Dia berpendapat, salah satu cara yang paling efektif untuk mencegah pergaulan bebas adalah pembinaan terpadu mulai dari sekolah hingga pembinaan dalam keluarga. Orang tua juga wajib mengawasi anaknya agar tidak terjerumus dalam dunia hiburan malam yang dekat dengan seks bebas.

"Kalau pembinaan terpadu sudah berjalan, maka harus diimbangi dengan penyiapan fasilitas pembinaan sehingga remaja dapat menyalurkan minat dan bakatnya, persoalannya wadah pembinaan ini yang masih kurang sehingga angka kenakalan remaja masih cukup tinggi," tuturnya.

Dia berharap pemerintah daerah mulai mengembangkan satu dari empat azam Karimun, yaitu peningkatan kualitas sumberdaya manusia dengan memperbanyak sarana pembinaan bagi remaja.

"Remaja juga butuh hiburan dan tempat berkreasi, kalau itu sudah tidak ada maka mereka sangat mudah terpengaruh dengan hal-hal yang negatif, tidak terkecuali narkotika," lanjut Zulfikar.

Sebelumnya, Wakil Bupati Karimun Aunur Rafiq mengatakan razia yang dilakukan akan dievaluasi per tiga bulan untuk mengetahui seberapa efektif menekan angka kenakalan remaja.

"Tim akan mengevaluasi hasil razia apakah mampu menekan kenakalan remaja. Kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak sekolah, tokoh masyarakat agar sama-sama memberikan pembinaan kepada generasi muda agar tidak terjerumus seks bebas," ucapnya.

Diberitakan, Tim Pekat dibentuk dilatarbelakangi dengan banyaknya pelajar yang terlibat seks bebas dengan cara menginap di hotel dan terjaring razia Satpol-PP beberapa waktu.

Tim Pekat resmi menjalankan tugasnya setelah resmi dilepas Wakil Bupati Aunur Rafiq di Kantor Bupati Karimun, Rabu (15/2).

(KR-RDT/E010)