Batam (ANTARA Kepri) - Sekitar 85 persen dari 1.669 unit Bank Perkreditan Rakyat yang berada di seluruh Indonesia tergolong sehat.

"Yang sehat di atas 85 persen," kata Direktur Pengembangan Kredit dan UMKM Bank Indonesia, Santoso Wibowo di sela-sela Rakernas BPR di Batam, Senin.

Ia mengatakan penetapan BPR sehat berdasarkan likuiditas, rentabilitas, rasio kecukupan modal (car), manajemen, NPL dan lainnya.

"Ada hitungannya tidak sehat," kata dia.

Ia mengatakan, ada beberapa kategori BPR, mulai dari sehat, cukup sehat, kurang sehat, tidak sehat, sekitar sehat.

Sedangkan BPR dalam kategori tidak sehat, kata dia, di bawah satu persen.

Bank-bank kurang sehat, kata dia, diberikan pengawalan oleh seorang pengawas BI untuk dapat pulih dan masuk kategori sehat.

"Supaya kalau rugi, bisa diberikan beberapa pilihan seperti injeksi modal atau cari investor baru," kata dia.

BI memberikan waktu kepada manajemen BPR untuk memulihkan kondisi bank selama 180 hari.

"Biar naik, kami evaluasi delapan bulan," kata dia.

Di tempat yang sama, Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia Joko Suyanto di Batam, Senin, mengatakan umumnya, kinerja BPR dalam kondisi baik.

Ia mengatakan nasabah BPR terus meningkat sepanjang tahun. Sampai September 2012, pertumbuhan nasabah BPR mencapai 1,35 persen.

Menurut dia, BPR memiliki konsumen fanatik.

"Pertimbangannya tidak hanya suku bunga, tapi pertimbangan kecepatan, kesederhanaan persyaratan," kata dia.

Kebanyakan, nasabah BPR adalah Usaha Mikro, Kecil Menengah dan masyarakat yang berpenghasilan rendah.

Ia mengatakan BPR memperkenalkan sistem perbankan kepada masyarakat kecil sehingga keuangan ekonomi kerakyatan meningkat.

"Kami di antara yang terdepan memperkenalkan perbankan kepada masyarakat marginal. Kami yang mendidik untuk menabung di bank," kata dia.

Di seluruh Indonesia, terdapat 1.669 unit BPR dengan total aset Rp63 triliun.

BPR di seluruh Indonesia memiliki nasabah 12,5 juta orang, yang delapan juta di antaranya adalah penabung, sedang 3,5 juta lainnya peminjam. (ANTARA)

Editor: Rusdianto