PPM SKK Migas dan KKKS berdampak pada perekonomian pedagang Sripanglima Natuna

id natuna, skk migas

PPM SKK Migas dan KKKS berdampak pada  perekonomian pedagang  Sripanglima Natuna

Bakri salah satu pedagang jajanan di kawasan Pantai Piwang

Natuna (ANTARA) - Pembangunan taman Pantai Piwang di Ranai, Natuna oleh Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dengan Program Pembangunan Masyarakat (PPM) melalui tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) berdampak pada meningkatnya perekonomian para Serikat Pedagang Kaki Lima 
Sripanglima) Kabupaten Natuna, Kepri.


Hal itu dikatakan Ketua Sripanglima, Bujang Sudirman yang juga selaku koordinator para pedangan untuk Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Pemukiman dan Pertanahan Natuna.


"Tidak dipungkiri dengan adanya  Taman Pantai  Piwang mengundang orang untuk datang bermain bersama keluarga, Itu menjadi peluang bagi kami pedagang untuk berjualan", kata Bujang Sudirman kepada ANTARA di Pantai Piwang, Senin (25/10) malam.


Diungkapkannya, meskipun keberadaan mereka tidak dalam kawasan hijau taman bermain Pantai Piwang namun mereka merasakan dampak dari aktifitas masyarakat ketika berkunjung ke tempat tersebut.


"Setidaknya ada lima puluh pedagang jajanan kaki lima yang berjualan di sekitar Pantai Piwang ini, itu baru pedagang kuliner, belum lagi yang berjualan mainan anak-anak, jasa sewa mobil-mobilan, odong-odong dan lain-lain ", kata Bujang Sudirman.


Namun, Ia berharap keberadaan mereka juga menjadi perhatian SKK Migas bersama KKKS untuk dapat difasilitasi melalui PPM. Serta tidak kalah pentingnya dukungan dari pemerintah daerah melalui dinas terkait terhadap keberlangsungan usaha mereka.


"Ini untuk yang kedua kalinya kami digusur, pertama saat itu masih bernama Pantai Kencana, kita digusur dengan alasan pembangunan taman bermain, selanjutnya kembali kami bergeser kke sini pada saat pembangunan tahap kedua Pantai Piwang", ungkap Bujang Sudirman.


Ia berharap jika ada kelanjutan tahap ketiga pembangunan  Pantai Piwang oleh SKK Migas dan KKKS, mereka diberikan ruang dan tempat yang selayaknya sebuah pusat jajanan kuliner.


"Kami berharap tidak digusur lagi, letaklah kami di posisi dan tempat yang layak, taman telahpun dibangun sedemikian indah, namun lapak pedagang belum di sediakan untuk pedang kaki lima seperti kami ini. Untuk masalah kebersihan kami berani jamin tidak akan mengganggu pengunjung atau kebersihan taman, kami harus menjaga kebersihan karena kami menjual makanan, katanya. 

Menurut Bujang saat ini sampah wajib dibawa pulang setelah berjualan, itu dilakukan untuk menghindari dari menumpuknya sampah yang akan menimbulkan bau tidak sedap.


Ia berkeinginan keberadaan mereka selain mendukung kehadiran para pengunjung di taman Pantai Piwang, juga menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi pemerintah setempat.


"Kami berharap bisa memberikan kontribusi bagi daerah melalui pajak, atau dalam bentuk lain, kami telah memiliki legalitas dan berbadan hukum, kami juga berencana Sripanglima ini nanti akan menjadi  koperasi", kata Bujang Sudirman.


Hal senada juga disampikan Bakri (53), ayah dari 4 anak itu juga berharap ada pembangunan tempat khusus bagi lapak jajanan kuliner mereka di kawasan Pantai Piwang tersebut.


"Saya dari Madura Jawa Timur, ada  4 orang anak, satu - satunya sumber ekonomi saya dan keluarga dari usaha ini, keberadaan Pantai Piwang sangat kami rasakan dampaknya, ramai pengunjung, Alhamdulillah meskipun dalam kondisi COVID-19 sekarang ini sudah mulai ramai lagi yang datang", ungkap Bakri.


Ia bersama anak dan istri telah berjualan selama 11 tahun di Ranai namun semenjak Pantai Piwang dibangun jumlah pengunjung semakin ramai dan terpusat dari berbagai kalangan mulai dari anak anak hingga orang tua.


"Dulu jarang ada anak-anak, sekarang semua kalangan datang, karena kita setiap hari buka, kecuali malam Jumat tutup", kata Bakri.


Saat ini Ia bersama keluarganya berjualan dengan cara bongkar pasang tenda setiap sore dan dini hari karena belum tersedianya lahan khusus bagi mereka.


"Iya begitulah kami, karenanya kita berharap ada tempat atau lapak yang tetap, supaya tidak bongkar pasang, bawa pulang", harapnya.


Namun Ia juga berterima kasih kepada Dinas Perkim Kabupaten Natuna telah memberikan kesempatan mereka untuk berjualan sementara waktu di kawasan tersebut.


"Kita dibolehkan bersihkan lahan, menata kawasan disini untuk jualan itu sudah sangat membantu", kata Bakri.


Saat disinggung berapa pendapatan rata-rata para pedagang setiap harinya, Bakri mengaku setidaknya Rp2 juta  per malam bisa mereka dapatkan pada akhir pekan.


"Kami hanya jual jagung rebus, kacang rebus, serta gorengan dan minuman, itu kalau malam Sabtu atau malam Minggu bisa mencapai dua juta, itu hasil jualannya, kotornya lah boleh dibilang begitu", kata Bakri.
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE