Asril bangga jadi Linmas TPS sejak pemilih pemula

id pemilu, tps, linmas

Asril bangga jadi Linmas TPS sejak pemilih pemula

Asril saat mengamankan salah satu TPS di Dabo. Foto Nurjali/Antara Kepri

Sejak ditunjuk menjadi Linmas pertama kali itulah, dirinya selalu menjadi langganan Linmas TPS
Lingga (ANTARA) - Asril (42) adalah seorang petugas  Perlindungan Masyarakat (Linmas) yang bertugas di Tempat Pemungutan Suara (TPS) d Kabupaten Lingga, sejak memiliki hak pilih di usia 17 tahun hingga kini ia masih setia dengan tugasnya itu.

Awal dirinya menjadi Linmas, bukan karena melalui seleksi atau membuat lamaran layaknya suatu profesi atau pekerjaan. Namun menjadi Linmas lebih dari panggilan hati, sehingga dirinya bersedia ketika saat itu diminta oleh ketua RT setempat untuk ditunjuk menjadi petugas Linmas di  era Orde Baru kala itu.

"Waktu itu saya baru mengenal Pemilu, dan ditunjuk untuk jadi Linmas, pertama kali," kata Asril, saat ditemui Antara sambil menunggu antrian memilih di TPS 12, Kelurahan Sekop Darat, Kecamatan Singkep, Kabupaten Lingga, Rabu.

Panggilan untuk menjadi Hansip atau Linmas kala itu menurutnya, karena dirinya sangat nakal ketika di usia remaja, sehingga untuk menebus rasa bersalah tersebut Asril bersedia ditunjuk menjadi Linmas.

"Saya itu nakal, tapi dengan jadi Linmas setidaknya saya berperan menjaga keamanan, dan berbuat untuk lingkungan," ujarnya.

Sejak ditunjuk menjadi Linmas pertama kali itulah, dirinya selalu menjadi langganan Linmas TPS, hampir setiap kali ada pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah.

"Kalau bertugas di Pemilu Presiden seingat saya sudah lima kali," ujarnya.

Hal yang paling membanggakan saat menjadi Linmas ketika dirinya dipercayakan menjadi pemimpin pleton Linmas, meskipun diakuinya saat itu mereka bekerja siang dan malam mulai dari persiapan pencoblosan hingga pengantaran kotak suara yang selesai dihitung, dengan gaji yang waktu itu didapat Rp75.000,-  

"Waktu negara kita krisis, upah kami 180 ribu tapi itu sangat membanggakan, karena rata-rata teman-teman Hansip ini tidak mengharapkan upah," sebutnya.

Pria beranak tiga ini, mengatakan upah seorang Linmas dari tahun ketahun terus mengalami peningkatan, dan untuk Pemilu 2019 ini dirinya mengaku akan menerima upah sebesar Rp400.000,- 

"Sebenarnya upahnya beda-beda dengan petugas lain, tapi kami sepakat untuk dibagi rata," sebutnya.

Selayaknya Pemilu selalu menimbulkan sesuatu yang diluar dugaan, hal itu juga pernah dialami Asril, pada Pemilu yang kala itu dimenangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sempat terjadi kesalahan penghitungan oleh petugas di TPS, kondisi itu membuat jantungnya menjadi tidak normal.

Selain karena kelelahan, berbagai protes dari saksi partai menjadikan suasana saat itu begitu menenggangkan, beruntung masih dapat diredam oleh aparat setempat.

"Kami kalau jaga TPS pasti bergadang, karena biasanya tiap TPS itu dijatah dua Linmas kalau dulu namanya Hansip, nah kalau ada kesalahan otomatis waktu kerja akan diperpanjang," jelasnya.

Meski waktu kerja diperpanjang namun upah yang diterima tetap sama, tidak ada penambahan. Meskipun begitu, diakui Asril dirinya tetap saja tidak kapok untuk menjadi PAM TPS, karena dengan cara begitu dirinya merasakan bahwa masih berguna bagi masyarakat bangsa dan negara ditengah keterbatasan pendidikan yang ditempuhnya.

"Kami sekolah kan biasa saja, jadi dengan ini kami jadi merasa bangga karena jadi bagian untuk mengabdi bagi masyarakat, dan negara," cetusnya.

Terakhir Asril mengaku, selain mengalami berbagai pengalaman menjadi Hansip atau Linmas selama bertahun-tahun namun satu hal yang selalu terjadi setiap tahunnya yaitu dirinya dan rekan-rekan lainnya meskipun selalu datang diawal namun saat mencoblos atau menggunakan hak pilih selalu menjadi yang terakhir, karena harus memastikan semua warga bisa mencoblos barulah panitia TPS dan Linmas bisa menggunakan hak suaranya.(Antara) 
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar