Kepri tambah ruang karantina antisipasi membludaknya pasien COVID-19

id Pemprov Kepri,perbanyak ruang karantina,antisipasi pasien COVID 19, membludak

Kepri tambah ruang karantina antisipasi membludaknya pasien COVID-19

Puluhan orang yang kontak erat dengan Gubernur Kepri dan belasan staf Pemprov Kepri antre untuk diambil swab di RSUP Kepri. (ANTARA/Nikolas Panama)

Tanjungpinang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau memperbanyak ruang karantina untuk mengantisipasi membeludaknya jumlah pasien COVID-19 di Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan.

Sekretaris Daerah Kepri Tengku Said Arif Fadillah di Tanjungpinang, Minggu mengatakan penambahan ruang karantina disebabkan ruang karantina di Rumah Singgah SUP Kepri sudah penuh sehingga perlu penambahan ruang lainnya.

"Penambahan ruangan ini perlu dilakukan karena jumlah orang yang kontak erat dengan Gubernur Kepri (Isdianto) dan belasan staf yang positif COVID-19 berdasarkan hasil penelusuran tenaga kesehatan, cukup banyak. Ada ratusan orang yang sudah diambil swab di posko khusus di RSUP Kepri, termasuk pejabat dan staf, tokoh masyarakat dan wartawan," ucapnya.

Asrama di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Kepri di Kecamatan Toapaya, Kabupaten Bintan, akan dipergunakan untuk lokasi observasi atau karantina pasien COVID-19. Di LPMP terdapat 40 kamar, yang masing-masing kamar terdapat dua tempat tidur.

Selain itu, Pemprov Kepri juga mempersiapkan puluhan kamar di salah satu hotel di Tanjungpinang sebagai ruang karantina.

Pilihan lainnya, yakni kamar di Asrama Haji akan dipergunakan untuk karantina pasien COVID-19.

"Barusan kami mengunjungi lokasi karantina. Pilihan pertama di LPMP, kemudian di Hotel Sunrise, dan yang terakhir di Asrama Haji," ujarnya.

Arif menuturkan pengawasan terhadap pasien COVID-19 akan diperketat untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Sejumlah anggota Satuan Polisi Pamong Praja Kepri yang mengenakan alat pelindung diri akan menjaga kawasan karantina.

Pelaksanaan karantina, kata dia, harus menaati protokol kesehatan, seperti tidak ada interaksi antara pasien dengan pihak keluarga atau pihak lainnya.

"Pasien akan berolahraga, dan dihibur. Diberi makanan yang bergizi," katanya.
Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar