Tradisi unik lebaran di Natuna salam tempel dan uang kubur

id Natuna, tradisi unik lebaran, idul fitri, ziarah kubur, uang tempel, salam tempel, uang kubur

Tradisi unik lebaran di Natuna salam tempel dan uang kubur

(Ilustrasi) warga melakukan ziarah kubur pada saat lebaran. (HO-Antara Kepri/ Cherman)

Natuna (ANTARA) - Tiap daerah memiliki tradisi unik dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri, salah satunya tradisi "salam tempel dan uang kubur" yang biasa dilakukan warga Natuna pada setiap lebaran m.

Hal itu diketahui saat ANTARA Biro Kepri menggelar  “Sembang  Raya”  kegiatan silaturahmi virtual Idul Fitri melalui aplikasi Zoom dan disiarkan secara langsung di portal kepri.antaranews.com  serta media sosial Youtube, Facebook dan Instagram dengan tema "Barbagi keceriaan saat tak dapat berjabat tangan", pada Hari Raya pertama Ahad siang.

"Kami disini, di Natuna jika hari lebaran pertama seperti sekarang ini ada istilah salam tempel atau uang tepuk kening," kata Dimas Hafid Syaputra peserta sekaligus host asal Natuna itu.

Ia juga menjelaskan, salam tempel atau uang tepuk kening biasa dilakukan orang tua kepada anak-anak saat silaturahmi dan berkunjung baik ke rumah para saudara, maupun ke rumah para tetangga.

"Kenapa kami sebut salam tempel atau uang tepuk kening?, itu karena setiap mendapatkan uang pemberian sambil menepuk kening," kata Dimas sambil mencontohkan pada peserta Sembang Virtual Idul Fitri yang lain.

Kabupaten Natuna terdiri dari 154 Pulau, 127 Pulau tidak berpenghuni, hanya 27 Pulau yang berpenghuni. Namun tidak hanya memiliki beragam bahasa, Natuna juga memiliki beragam tradisi dan kebiasaan berbeda pula, salah satunya tradisi salam tempel atau uang tepuk kening bagi warga Ranai pada saat merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Sementara, bagi warga Pulau Serasan dikenal juga dengan tradisi Uang Kubur yang sering dilakukan warga untuk bersedekah kepada anak-anak usai melakukan ziarah kubur.

Disebut Uang Kubur karena uang didapatkan pada saat ziarah kubur yang dibagikan para keluarga orang yang telah meninggal kepada anak-anak setelah mengikuti ziarah kubur dan dibagikan di kuburan.

Kebiasaan pembagian uang kubur juga tidak hanya dilakukan warga setempat pada saat lebaran atau Idul Fitri saja, namun juga dilakukan warga Tionghua pada saat melakukan sembahyang kubur umat Kong Hu Cu.

Dengan adanya pandemi COVID-19, lebaran kali ini diakui Dimas terasa berbeda dari sebelumnya. Tradisi atau kebiasaan seperti salam tempel atau uang tepuk kening terasa sepi dilakukan warga setempat.

"Meskipun kami zona hijau, tapi tetap waspada, kami tetap menjalankan protokol kesehatan," kata Dimas.

Melalui talk show pertama kali dilaksanakan  Perum LKBN  ANTARA yang didukung oleh Jasa Raharja tersebut diisi oleh para Host diantaranya, Muthiara Maharani, Devie Angela, Tomi Saputra, Evi Susilawati (Tanjungpinang), Agita Cindiani (Lingga) dan Dimas Hafid Syaputra (Natuna).

"Mari bersama tetap bersemangat melawan COVID-19, bersama untuk negeri, tetap patuhi protokol kesehatan dan tetap lakukan silahturahmi dengan cara baru, yaitu secara virtual," kata Kepala Biro ANTARA KepriI, Evy Ratnawati Syamsir yang juga ikut bercerita dalam Talk Show tersebut.

Ia juga menyatakan ada banyak hal unik diketahui saat mengikuti Sembang Virtual Idul Fitri yang melibatkan para pemuda dari berbagai daerah Kepulauan Riau itu.

"Iya ternyata ada hal unik yang tidak banyak diketahui orang, masing masing daerah mempunyai tradisi berbeda meskipun masih satu rumpun," ujarnya.

Sembang Virtual Idul Fitri yang dimulai pada Minggu (24/5) akan berlanjut pada Senin (25/5) dimulai Jam 13.00 sampai dengan 15.00 WIB.

Melalui Join Zoom Meeting

https://us02web.zoom.us/j/8220051441 Meeting ID: 822 005 1441

Live streaming pula di https://kepri.antaranews.com/live-streaming.
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar