Siprianus sempat berteriak, "Mama mati ajalah aku"
Senin, 12 April 2021 19:09 WIB
Suasana dialog wartawan bersama teman sekamar Siprianus. Foto Antara Kepri/HO/Arfan NK
Batam (ANTARA) - Sebelum meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah, Siprianus Apiatus Bin Philipus sempat berteriak dalam Rutan Kelas IIA Batam, “Mama Mati Sajalah Aku".
Hal ini diungkapkan oleh teman sekamar Siprianus, Dofan Fernandes saat ANTARA Kepri berkunjung ke Rutan Batam, Senin (12/4).
Saat disinggung mengenai kondisi Siprianus sebelum meninggal dunia, Dofan mengatakan bahwa Siprianus mengeluhkan sakit sejak hari Kamis (8/4).
"Pas hari Kamis dia sudah mengeluh sakit, kami langsung lapor ke petugas, dibawa ke klinik dan diberikan obat. Namun, obat itu tidak ada reaksi, dia muntah-muntah, selang beberapa menit dia makan dan minum obat lagi, namun tetap muntah-muntah," ucapnya.
Dofan melanjutkan, bahwa keesokan harinya Jum'at (9/4) Siprianus masih mengeluhkan sakit sehingga dibawa ke klinik dan diberikan obat lagi.
"Keesokan harinya masih mengeluhkan sakit, dia mengeluhkan sakit di bagian lambung dan ulu hatinya sakit. Diberikanlah obat lagi, namun tetap muntah-muntah. Jum'at malamnya sudah membaik," ucapnya.
Keesokan harinya Sabtu (10/4), Dofan mengatakan bahwa Siprianus dibawa ke klinik, namun selang 10 menit Siprianus meminta untuk beristirahat di kamar.
"Sabtu pagi dirinya masih mengeluhkan sakit sehingga dibawa ke klinik, namun selang 10 menit, Siprianus meminta untuk istirahat di kamar. Setelah sampai di kamar, Siprianus meminta untuk di kerok, katanya masuk angin," jelasnya.
Namun, setelah di kerok kondisi Siprianus semakin parah sehingga teman-temannya memanggil petugas rutan.
Dofan pun mengatakan bahwa tidak ada pemukulan yang terjadi selama di rutan, namun Siprianus sudah mengeluhkan sakit dalam beberapa waktu lalu.
"Tidak ada pemukulan, saya kan tidur persis disampingnya dan dia sudah mengeluhkan sakit sejak kemarin Kamis. Kalau pun ada pemukulan, tidak mungkin kami ‘liatin’ saja, dan dia pun orang kami juga" ucapnya.
Dofan juga mengatakan, selama Siprianus sakit sudah dipaksa untuk makan.
"Saya sudah paksa makan, saya tanya abang tidak makan? Siprianus menjawab tidak karena ulu hatinya sakit, perutnya sakit. Tiap makan muntah, disuruh istirahat namun Siprianus gelisah, sampai sempat teriak dengan bahasa flores "Mama Mati Sajalah Aku", dia teriak mama bapa," ungkapnya.
Sampai akhirnya Siprianus pun dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah karena kondisi yang tidak kunjung membaik dan meninggal dunia pada hari Sabtu (10/4) siang.
Siprianus merupakan warga binaan Rutan Kelas IIA Batam, yang dihukum karena melakukan tindak pidana pengeroyokan dengan hukuman 1 tahun 6 bulan penjara dan sudah menjalankan hukuman kurang lebih 1 tahun.
Saat ini, mayat Siprianus sedang berada di RS Bhayangkara Batam. Informasi terakhir yang diterima ANTARA Kepri, sejak Senin siang tadi mayat Siprianus sedang diautopsi.
Hal ini diungkapkan oleh teman sekamar Siprianus, Dofan Fernandes saat ANTARA Kepri berkunjung ke Rutan Batam, Senin (12/4).
Saat disinggung mengenai kondisi Siprianus sebelum meninggal dunia, Dofan mengatakan bahwa Siprianus mengeluhkan sakit sejak hari Kamis (8/4).
"Pas hari Kamis dia sudah mengeluh sakit, kami langsung lapor ke petugas, dibawa ke klinik dan diberikan obat. Namun, obat itu tidak ada reaksi, dia muntah-muntah, selang beberapa menit dia makan dan minum obat lagi, namun tetap muntah-muntah," ucapnya.
Dofan melanjutkan, bahwa keesokan harinya Jum'at (9/4) Siprianus masih mengeluhkan sakit sehingga dibawa ke klinik dan diberikan obat lagi.
"Keesokan harinya masih mengeluhkan sakit, dia mengeluhkan sakit di bagian lambung dan ulu hatinya sakit. Diberikanlah obat lagi, namun tetap muntah-muntah. Jum'at malamnya sudah membaik," ucapnya.
Keesokan harinya Sabtu (10/4), Dofan mengatakan bahwa Siprianus dibawa ke klinik, namun selang 10 menit Siprianus meminta untuk beristirahat di kamar.
"Sabtu pagi dirinya masih mengeluhkan sakit sehingga dibawa ke klinik, namun selang 10 menit, Siprianus meminta untuk istirahat di kamar. Setelah sampai di kamar, Siprianus meminta untuk di kerok, katanya masuk angin," jelasnya.
Namun, setelah di kerok kondisi Siprianus semakin parah sehingga teman-temannya memanggil petugas rutan.
Dofan pun mengatakan bahwa tidak ada pemukulan yang terjadi selama di rutan, namun Siprianus sudah mengeluhkan sakit dalam beberapa waktu lalu.
"Tidak ada pemukulan, saya kan tidur persis disampingnya dan dia sudah mengeluhkan sakit sejak kemarin Kamis. Kalau pun ada pemukulan, tidak mungkin kami ‘liatin’ saja, dan dia pun orang kami juga" ucapnya.
Dofan juga mengatakan, selama Siprianus sakit sudah dipaksa untuk makan.
"Saya sudah paksa makan, saya tanya abang tidak makan? Siprianus menjawab tidak karena ulu hatinya sakit, perutnya sakit. Tiap makan muntah, disuruh istirahat namun Siprianus gelisah, sampai sempat teriak dengan bahasa flores "Mama Mati Sajalah Aku", dia teriak mama bapa," ungkapnya.
Sampai akhirnya Siprianus pun dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah karena kondisi yang tidak kunjung membaik dan meninggal dunia pada hari Sabtu (10/4) siang.
Siprianus merupakan warga binaan Rutan Kelas IIA Batam, yang dihukum karena melakukan tindak pidana pengeroyokan dengan hukuman 1 tahun 6 bulan penjara dan sudah menjalankan hukuman kurang lebih 1 tahun.
Saat ini, mayat Siprianus sedang berada di RS Bhayangkara Batam. Informasi terakhir yang diterima ANTARA Kepri, sejak Senin siang tadi mayat Siprianus sedang diautopsi.
Pewarta : Arfan NK
Editor : Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kepala lapas diduga paksa napi makan daging anjing dicopot dari jabatannya
03 December 2025 12:35 WIB
Petugas lapas Batam raih perunggu pada Prison FitX Challenge kategori individu di Brunei
27 October 2025 12:17 WIB
Terpopuler - Hukum
Lihat Juga
Polda Kepri mengungkap modus penyelundupan 70 ton daging beku dari Singapura
27 January 2026 16:25 WIB