Hamidah, penulis perempuan dari Bangka

id Tribute to hamidah,Hamidah,Senandung selo,Sastra bangka

Hamidah, penulis perempuan dari Bangka

Poster tribute to Hamidah. (ANTARA/ desain Anung Nungser)

Mentok, Babel (ANTARA) - Sejumlah pegiat seni di Mentok Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengenang seorang penulis perempuan dari Tanah Bangka angkatan Pujangga Baru, Hamidah, sebagai bentuk penghormatan atas jasa yang telah diberikan dalam bidang sastra.

"Kami berharap kolaborasi kawan-kawan lintas bidang seni ini mampu mengenalkan lebih dalam sosok Hamidah kepada masyarakat luas, agar generasi muda semakin kenal akan penulis perempuan dari Mentok dan bisa memaknai karya-karyanya," kata penggagas Tribute to Hamidah, Bambang Haryo Suseno di Mentok, Minggu.

Dalam “Tribute to Hamidah” yang digelar di tengah pandemi COVID-19, para pegiat seni di daerah itu mempersembahkan musikalisasi salah satu puisi karya Hamidah berjudul Berpisah yang dikemas dalam sajian dokumentasi dan akan diunggah melalui link youtube, https://www.youtube.com/watch?v=REAeYoG8di4.

"Kebetulan setiap 21 Maret kita peringati Hari Puisi Dunia, dan tahun ini kami persembahkan untuk menghormati tokoh sastra yang berasal dari daerah ini. Harus ada yang kemudian melanjutkan jejak pengkaryaan di kota ini. Kepada generasi muda harapan itu dititipkan," katanya.

Musikalisasi puisi tersebut bagian dari gerakan mengenang dan mengenalkan lebih dalam sosok Hamidah (1915-1953), penulis asal Kampung Tanjung, Mentok, Kabupaten Bangka Barat itu bernama asli Fatimah binti H Mukti, dikenal juga dengan Fatimah Delais atau yang lebih populer dikenal dengan Hamidah sesuai nama tokoh utama dalam novelnya.

Karya puisi Berpisah, ditulis pada 1935 bersamaan dengan tahun pencetakan novelnya yang terkenal Kehilangan Mestika oleh Balai Pustaka.

Musikalisasi puisi Berpisah dipersembahkan oleh duo penggiat musik dari Mentok Senandung SeLo, yang terdiri dari Seno dan Leo, bersama dengan Karin (biola) dan Dayni (perkusi).

Dalam penggarapan kegiatan ini juga melibatkan para penggiat lain, Kelompok seni rupa rindudendam yang digawangi Donatus, Anung, David dan kawan-kawan berjibaku membuat plang nama jalan “Hamidah” di Kelurahan Tanjung.

Pihak Kelurahan Tanjung yang diwakili oleh Lurah Dipa Pandu, sudah merancang nama jalan tersebut sesuai dengan aspirasi warga setempat untuk kembali mengingat dan mengenang putri asal Kampung Tanjung tersebut agar lebih dikenal dan menjadi suri tauladan bagi generasi muda untuk mencintai dunia literasi.

Pegiat cinematografi dari Mentok, Silo Sandro dan Sekaban Picture, juga memberikan kontribusi dalam hal penggarapan video musikalisasi dengan mengangkat konsep semi dokumenter dengan penggunaan lokasi yang kuat akan ikon Mentok, seperti Menumbing, Masjid Jamik, Kelenteng Kung Fuk Miau, dan Jalan Hamidah.

Sebagai sebuah gerakan bersama dalam mengenalkan kembali Hamidah kepada masyarakat, rangkaian Tribute to Hamidah juga didukung banyak, antara lain Pandu Dwi Setya membantu instrumen Bass, suara latar dan sound enggineer, Dani Oktawira menyediakan rumah dan properti untuk kebutuhan latihan dan pengambilan video, serta Anung Nungser menyumbangkan sketsa untuk kebutuhan materi dan publikasi.

"Satu hal yang menjadi harapan bersama para penggiat seni yang terlibat dalam garapan ini adalah mengajak masyarakat terus berkarya membangun negeri lewat seni, olahraga, pendidikan, budaya atau apapun," katanya.

Melalui penghormatan tersebut generasi muda bisa mengambil semangat dari para pendahulu untuk kembali menegaskan jati diri dan kekuatan untuk kemudian melanjutkan jejak pengkaryaan di kota ini.

"Hamidah adalah tonggak kesusastraan di tanah Bangka yang harus selalu diingat dan kepada generasi muda harapan itu dititipkan," katanya.
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar