Budak Pulau Membangun Pulau

id Budak, Pulau, Membangun, Pulau,iskandarsyah,dprd,kepri,perbatasan

ANAK pulau kembali ke pulau, meski sudah merantau jauh ke Belanda, negara yang pernah menjajah Indonesia selama 3,5 abad.

Ing Iskandarsyah, pria asal Moro, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), yang kini berusia 40 tahun, sejak duduk di bangku sekolah dasar berada di negeri Kincir Angin.

Ia merasa beruntung dapat kembali ke kampung halamannya, dan membawa segudang ilmu pengetahuan yang diperolehnya di Belanda.

"Saya ini kombinasi antara orang Alai, Kundur dan Moro. Istri saya orang Betawi Tangerang, bernama Siti Rojiah dan anak saya Zhilal Robbani Iskandar berumur 3 tahun lahir di Delft-Belanda," ucapnya.

Pria yang memiliki moto hidup harus senantiasa optimistis itu memiliki berbagai pengalaman organisasi kemasyarakat di bidang charity dan sosial, seperti menjadi Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Belanda, Ketua Organisasi Keluarga Islam Delft-Belanda, pengurus dan khatib Masjid Al-Hikmah Den Haag dan pendiri Indonesische Stichting Nederland (ISNED).

Selain itu, ia juga sebagai pengurus Yayasan Indonesia-Belanda. Di Kepri, dia mendirikan Komunitas Kepri Mengajar, yang memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak putus sekolah dan pelajar kurang mampu.

"Sewaktu musibah bencana tsunami di Aceh dan Gempa di Yogyakarta, saya aktif sebagai Ketua Tim Fundrising Indonesia di Belanda," kata Iskandarsyah, di Tanjungpinang, Kamis.

Berbekal pengalaman di organisasi itu, dia masuk ke organisasi politik. Baginya terjun ke dunia politik merupakan salah satu cara untuk memberikan konstribusi bagi masyarakat luas, khususnya di Kepri. Oleh sebab itu, baginya, hakikat politik adalah pekerjaan yang sangat mulia karena membantu masyarakat.

Partai Keadilan Sejahtera merupakan partai pilihannya untuk mengimplimentasikan ilmu pengetahuan dan pengalamannya di organisasi. Ia pernah menjabat sebagai pengurus DPP PKS di Biro Hubungan Luar Negeri Bidang SDM. Kemudian ia ditunjuk dan diminta untuk mencalonkan diri sebagai calon legislatif Kepri Pemilu  2009 untuk daerah pemilihan Kabupaten Karimun.

Setelah berhasil terpilih menjadi anggota DPRD Kepri periode 2009-2014, Iskandar kembali beruntung karena dipercaya partainya untuk menjabat sebagai wakil ketua di lembaga legislatif itu.

Kemudian ia menyadari menjadi anggota DPRD merupakan cerminan dari kesadaran akan tanggung jawab sebagai salah satu fungsi manusia yang memang harus peduli dan berbuat nyata untuk kepentingan publik, meski melalui peran yang berbeda sesuai fungsi DPRD, yakni pengawasan, anggaran dan legislasi.

Tanggung jawab moral ini dijalani sebagai refleksi keterpanggilan bahwa sebaik-baiknya manusia harus juga bermanfaat untuk orang lain. Sementara pemimpin adalah pelayan umat, merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan bukan saja kepada masyarakat, tapi juga kepada Allah SWT.

"Semula, saya tidak pernah bercita-cita menjadi sebagai anggota legislatif. Pada awalnya, saya berpolitik untuk menyalurkan bakat dan ilmu saya melalui partai," ujar suami dari Siti Rojiah itu.

Terlepas dari hal itu, sebenarnya benih politisi sudah ditanamkan oleh H Abdul Manaf Awang, ayahnya yang pernah menjadi anggota DPRD Kepulauan Riau dapil Karimun dari partai Golkar.

Iskandar menegaskan jabatan di legislatif bukanlah tujuan dan target utamanya. Adapun yang utama, adalah bagaimana menjadikan kesempatan dan peluang untuk menghadirkan perubahan yang lebih baik, bukan peluang memenfaatkan kekuasaan dan jabatan.

"Sering masyarakat beranggapan bahwa berpolitik dan menjadi politikus cenderung berkonotasi negatif dan kecurangan. Baginya, dunia politik merupakan pengabdian serta pelayanan, memberi bukan menerima," katanya.

Ia berniat mengubah paradigma tersebut, bahwa politik dan politikus dapat dilakukan dengan santun dan bermoral serta punya tujuan mulia sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Khaldun, ilmuwan besar Islam.

"Berpolitik adalah sarana menuju keteraturan dan sebuah cara menuju peradaban. Partai politik selayaknya menjadi wadah pengabdian dan pelayanan yang harus berorientasi pada nilai- nilai kebenaran, kejujuran dan keadilan," katanya.

Sentuhan Teknologi
  
Sebagai salah satu provinsi termuda, Kepri masih perlu banyak membenahi diri. Dengan karakteristik daerahnya yang unik, lebih luas lautannya (95,79 persen) daripada daratannya yang hanya 4,21 persen perlu perhatian dan formula khusus untuk maju.

Kepri memiliki tujuh kabupaten/kota yakni Kota Tanjungpinang sebagai ibukota provinsi, Kota Batam, Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Lingga dan terakhir Kabupaten Anambas. Daerah itu terpisah oleh perairan Kepri yang luas, kecuali Tanjungpinang dan Bintan berada di Pulau Bintan.

Iskandar menyayangkan, karena selama ini dikenal, Kepri hanya Batam saja. Mengingat selama ini Kota Batam penyumbang angka ipm (indeks pembangunan manusia) yang terbesar untuk Kepri. 
 
Tahun 2008 Batam sebagai peringkat 14 antarkabupaten/kota, sedangkan Anambas menduduki peringkat ke-387. Antara Batam dan Anambas memiliki perbandingan nilai yang sangat jauh berbeda. Untuk itu daerah-daerah lain dari Provinsi Kepri harus juga mendapatkan perhatian khusus.

"Perlu diketahui bahwa ada dua kabupaten yang termasuk katagori daerah tertinggal yaitu Karimun dan Lingga. Artinya pembangunan yang belum merata terjadi di Kepri," katanya.

Menurut dia, ada tiga permasalahan yang mendasar yang harus dibenahi jika Kepri ingin menjadi provinsi yang unggul. Selama ini potensi yang dimiliki Kepri antara lain perbatasan dengan Singapura dan Malaysia, potensi laut yang luas serta ditetapkannya Batam, Bintan dan Karimun sebagai daerah kawasan ekonomi khusus FTZ.

Namun sayangnya itu semua masih belum mampu  juga mempercepat proses kemajuan dan keunggulan Kepri. Pemerintah pusat juga harus membantu pengembangan FTZ.

"Permasalahan utama yang dihadapi Kepri adalah minimnya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Tanpa SDM yang unggul, Kepri tidak akan mampu bersaing dengan daerah lain," katanya.

Selama ini banyak penduduk Kepri baik yang lahir di Kepri maupun yang sudah lama menetap di Kepri menjadi pengangguran. Nelayan dan petani walaupun bekerja belum mampu untuk mendapatkan penghasilan yang layak. Masih menggunakan cara-cara tradisional dalam mengolah potensi laut, pertanian dan perkebunan. 
  
"Jika dicermati, kenapa Belanda bisa menjajah kita dan menjadi negara maju baik dibidang kelautan dan pertanian? Padahal penduduknya sangat kecil dan berada di bawah permukaan laut, apalagi tahun 1602  waktu zaman VOC," ujarnya.

"Kekuatan mereka adalah faktor SDM. Bayangkan saja, di era perang Diponegoro, mereka sudah ada universitas," katanya.

Ia merasa optimistis Kepri dapat semakin maju sebagai beranda terdepan yang berhadap dengan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Vietnam. Minimal ada dua syarat yang harus disiapkan jika ingin Kepri maju dan bersaing dengan daerah lain, yakni kekuatan SDM dan ada sentuhan teknologi.

"Perekonomian Kepri masih banyak menggunakan teknologi yang tidak efisien, bahkan menggunakan cara manual sehingga hasilnya tidak optimal," ujarnya.

Di samping itu, kekayaan laut Kepri belum optimal digarap, sehingga Kepri menjadi miskin di tengah kekayaan yang dimilikinya. Baginya, hal ini terlihat aneh, namun ini merupakan kenyataan terutama di daerah hinterland.

"Banyak nelayan yang miskin, laut tidak banyak memberikan PAD sumbangan karena kurangnya perhatian kita dalam menggali potensi laut. Berapa banyak kerugian negara dan nelayan lokal disebabkan pencurian ikan oleh nelayan. Belum lagi potensi pantai untuk pembudidayaan dan pertanian rumput laut yang belum tergarap optimal," katanya.

Selanjutnya, listrik merupakan kebutuhan utama masyarakat untuk menunjang ekonomi, investasi dan kehidupan yang lebih baik. Kelangkaan listrik di Kepri kecuali Batam memberikan pengaruh negatif bagi peningkatan mutu kualitas SDM maupun dunia bisnis dan investasi.

"Tidak ada gunanya mengeluhkan FTZ Batam, Bintan dan Karimun, atau peningkatan mutu pendidikan dan menstimulasi pertumbuhan dan peningkatan ekonomi para pengusaha kecil dan menengah tanpa menyelesaikan permasalahan listrik di Kepri. Pemprov bersama DPRD Kepri harus memberikan perhatian khusus tentang masalah ini. Jika kita bersama, pasti bisa," katanya.

Pemuda Perbatasan
  
Sebagai wilayah kepulauan yang berbatasan dengan negara asing, permasalahan perbatasan merupakan manifestasi utama dalam menjaga kedaulatan. Perbatasan suatu negara mempunyai peranan penting dalam penentuan batas wilayah kedaulatan dan pemanfaatan sumber kekayaan alam.

Secara umum terdapat dua hal penting yang harus dilakukan yaitu pembangunan daerah perbatasan dengan pendekatan kesejahteraan untuk mengangkat taraf kehidupan masyarakat setempat dan pendekatan keamanan yang diperlukan guna terciptanya stabilitas politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan sehingga memungkinkan terwujudnya keserasian hidup berdampingan secara damai dengan negara-negara tetangga di sepanjang daerah perbatasan.

"Penerapan kedua pendekatan tersebut melandasi tujuan program-program pembangunan di wilayah perbatasan secara terintegrasi dan berkelanjutan," katanya.

Pembangunan wilayah perbatasan pada hakekatnya merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, yang memiiki nilai strategis seperti memiliki pengaruh yang penting bagi kedaulatan negara, sebagai pendorong bagi peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat dan pertahanan keamanan nasional.

Wilayah perbatasan hampir tidak mungkin hanya mengandalkan kekuatan dari pemerintah aparat aparat yang berwenang. Pemuda di perbatasan memiliki andil yang cukup besar untuk bersama-sama pemerintah, aparat keamanan dan masyarakat membangun pulau-pulau terdepan.

Sinergitas antara pemuda dengan pemerintah dibutuhkan dalam menjaga dan pengelola potensi di pulau-pulau milik Kepri yang berbatasan dengan Negara tetangga. Pemerintah dan berbagai pihak yang terkait dengan permasalahan perbatasan memiliki kewajiban untuk meningkatkan karakter dasar pemuda yang berjiwa nasionalis, berwawasan nusantara, berjiwa patriotik, pro pembangunan dan memiliki kepekaan yang tinggi menggunakan kekuatannya untuk menjaga NKRI.

Pemerintah sudah sewajarnya membuka kran komunikasi dengan pemuda dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia dan mendorong pemuda untuk peduli terhadap permasalahan perbatasan.

Pemuda dapat merekomendasikan pemikirannya kepada pemerintah atau dapat melakukan kegiatan yang positif dalam meningkatkan perekonomian dan sumber daya manusia di Kepri. Semakin banyak pemuda yang memikirkan permasalahan perbatasan, maka semakin besarlah kontribusinya menjaga perbatasan sebagai beranda depan Kepri.

"Generasi muda tidak dituntut untuk berperang, melainkan ikut berperan aktif memberi kontribusi pemikiran dan tindakan yang dapat menumbuhkembangkan wilayah perbatasan sebagai bagian dari NKRI," katanya. (NP/H-KWR)

Editor: Rusdianto
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar