Dinkes Karimun diminta cepat tanggap DBD

id Karimun,Demam berdarah ,DBD

Dinkes Karimun diminta cepat tanggap DBD

Ilustrasi: DBD Petugas Dinkes Karimun mengasapi halaman rumah penduduk untuk mencegah penularan demam berdarah dengue di Kelurahan Teluk Air,Kecamatan Tanjung Balai Karimun, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, beberapa waktu lalu.(Antaranews Kepri/Rusdianto)

Karimun (ANTARANews Kepri) - Dinas Kesehatan Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau diminta cepat dan tanggap melakukan upaya pencegahan merebaknya penyakit demam berdarah dengue (DBD).

"Di Kapling, Kecamatan Tebing ada warga terjangkit DBD, tapi belum ada tindakan seperti `fogging` atau upaya pencegahan lainnya," kata Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kiprah Jon Syaputra di Tanjung Balai Karimun, Selasa.

Ia berharap, Dinas Kesehatan melakukan langkah-langkah yang konkret dan cepat agar wabah DBD tidak merebak dan menimbulkan korban jiwa.

Menurut dia, pencegahan DBD tidak hanya bisa dilakukan dengan menyampaikan imbauan kepada masyarakat agar menggiatkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Akan tetapi, katanya, harus diiringi dengan pengerahan petugas kesehatan dan perangkat pemerintahan untuk menggalakkan gotong royong membersihkan lingkungan.

"Saya mendapat informasi kasus DBD selama Januari ini sudah cukup banyak. Dinas Kesehatan perlu melakukan upaya serius agar Karimun tidak lagi ditetapkan sebagai daerah KLB (Kejadian Luar Biasa) DBD seperti beberapa tahun lalu," tuturnya.

Pada kesempatan terpisah, Ketua LSM Transparansi Anggaran dan Pemerintahan (TAP) Yos Abrahamsyah menilai upaya pencegahan yang paling efektif adalah menggencarkan PSN melalui gotong royong membersihkan lingkungan.

"Gerakan 3M Plus harus digencarkan dan dilaksanakan terus menerus. Kami berharap pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan harus gencar mengimbau, mengajak, dan tampil di depan melaksanakan PSN," kata dia.

Kepala Dinas Kesehatan Karimun Rachmadi mengakui kasus DBD selama Januari 2019 cukup tinggi, mencapai 36 kasus.

"Cukup banyak disebabkan perubahan cuaca dari musim hujan ke musim panas. Musim panas dalam beberapa pekan ini mendorong pertumbuhan jentik menjadi nyamuk dewasa," tuturnya.

Ia merinci kasus DBD tertinggi di Kecamatan Karimun delapan kasus, Kundur (8), Meral, Tebing, dan Kundur Barat, masing-masing lima kasus, Kundur Utara dan Belat, masing-masing dua kasus, dan Meral Barat (1).

Dia menyatakan telah melakukan langkah-langkah penanganan terhadap daerah yang terkena DBD, antara lain pengasapan.

"`Fogging` langsung kita lakukan dan masih berjalan. `Fogging` dilakukan di sekitar rumah korban, dan kita ulangi lagi seminggu setelah itu," tuturnya.

Dia juga telah menggerakkan seluruh petugas medis hingga tingkat posyandu, termasuk melibatkan pemerintah kecamatan, kelurahan/desa, dan pihak-pihak lain untuk melaksanakan gerakan PSN.

"Kita terus galakkan gerakan 3M, menguras, mengubur, menutup, dan menabur bubuk abate pada wadah-wadah air," kata dia.

Rachmadi menyatakan sebagai daerah endemis, kasus DBD terjadi setiap tahun di Karimun.

Pada 2018, kata dia, kasus DBD tercatat 176 kasus dengan korban meninggal dunia empat orang.

"Dari empat orang yang meninggal dunia itu, tiga orang disebabkan penyakit lain, yakni penyakit TB, diabetes, dan HIV," kata dia.
Pewarta :
Editor: Kabiro kepri
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar