Pompong, kapal ikan yang butuh keahlian khusus membuatnya

id Keahlian khusus membuat Pompong penangkap ikan,kapal pompong,kapal ikan

Pompong, kapal ikan yang butuh keahlian khusus membuatnya

Neko Wesha Pawelloy saat berada di lokasi pembuatan Kapal Pompong (Nurjali)

Dulu itu kami gotong royong, kalau ada yang buat Pompong, kalau sekarang semua serba upah
Lingga (ANTARA) - Pompong atau boat kapal berukuran sedang, yang biasa digunakan oleh sebagian besar nelayan di Kabupaten Lingga untuk mencari ikan, membutuhkan keahlian khusus untuk membuatnya.

Para pembuat kapal pompong ini mengaku mendapatkan keahlian tersebut secara turun menurun yang dibawa oleh para perantau dari Sulawesi Selatan yang masuk ke Kabupaten Lingga, ratusan tahun yang lalu.

"Pompong di Lingga ukurannya berbeda dengan daerah lain, karena lebih besar dan proses pembuatannya, lebih mirip dengan pinisi di Sulawesi Selatan," kata Neko Wesha Pawelloy, salah satu anggota DPRD Lingga yang menyaksikan langsung pembuatan pompong miliknya, kepada Antara, Minggu.

Menurut anggota DPRD Lingga ini dirinya tertarik dengan kapal motor yang terbuat dari kayu ketimbang menggunakan fiber, apalagi kayu yang digunakan oleh pembuat kapal pompong tersebut adalah kayu-kayu pilihan. Sehingga sangat cocok dengan kondisi ombak yang ada di Kabupaten Lingga.

"Laut Lingga hampir semuanya berombak, bisa satu sampai dua meter, pompong buatan orang sini sangat mumpuni untuk berlayar di ombak," sebutnya.

Sebagai politisi dirinya merasa terpanggil untuk mencarikan solusi bagi pengrajin pompong, apalagi nilai ekonomis dari pembuatan pompong ini cukup besar.

Berkisah tentang pompong di Kabupaten Lingga, Neko juga sempat menyampaikan beberapa pengetahuannya tentang kapal pompong di Kabupaten Lingga, menurutnya dari cerita para pembuat kapal pompong yang ia temui, keterampilan membuat pompong merupakan kebiasaan turun temurun dari masyarakat sekitar.

Di Desa Sekanak, Kecamatan Lingga Timur contohnya, masyarakat yang ahli membuat pompong di desa ini awalnya belajar membuat kapal pompong tersebut, dari orang tua atau ada juga yang dari saudara mereka.

"Rata-rata mereka berasal dari suku Bugis yang merantau ke Kabupaten Lingga, sejak zaman kesultanan dulu," sebutnya.

Awalnya kapal pompong dibuat seperti pinisi di Sulawesi Selatan dengan ukuran yang besar, yang digunakan sebagai transportasi untuk menyeberangi pulau-pulau. Kemudian perahu tersebut diubah menjadi salah satu kebutuhan untuk menangkap ikan dilaut namun bentuknya pun berubah tidak lagi memakai layar, namun lebih banyak memakai mesin.

Bentuk pompong untuk melaut juga diubah sedemikian rupa, agar sesuai dengan mesin yang digunakan dan kebutuhan yang akan dimanfaatkan. Kapal pompong yang terbuat dari kayu tidak mudah pecah dihantam gelombang, bahkan dirinya sudah beberapa kali memiliki kapal pompong.

"Hobi memancing, yang membuat saya senang membuat pompong," sebutnya.

Harga satu buah pompong juga bervariasi, mulai dari lima jutaan untuk ukuran kecil, bahkan sampai puluhan juta hingga ratusan juta untuk ukuran yang lebih besar. Waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu buah kapal pompong juga membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan bisa berbulan-bulan.

"Kalau yang saya buat, sekitar tiga puluhan juta, karena kapasitasnya lebih besar," sebutnya.

Para pengrajin kapal pompong di pulau-pulau di Kabupaten Lingga, awalnya membuat kapal pompong untuk keperluan sendiri yang mereka gunakan untuk kelaut. Dulu masyarakat yang membuat kapal pompong selalu bergotong royong tanpa mengharapkan upah, dan saling bahu membahu menyelesaikan satu perahu pompong.

Karena perubahan zaman, hingga saat ini pengrajin perahu pompong di Lingga lebih benyak yang mengkomersilkan hasil ketrampilannya.

"Dulu itu kami gotong royong, kalau ada yang buat pompong, kalau sekarang semua serba upah," ujar Redo salah satu pengrajin pompong di Desa Bakong, Kecamatan Singkep Barat.

Selain itu menurutnya kondisi sekarang juga berbeda dengan tahun-tahun yang lalu, dimana bahan pokok untuk membuat pompong sangat mudah didapat dan tanpa konsekuensi hukum yang ditempuh. Akibat maraknya pembalakan liar yang sering terjadi di Kabupaten Lingga, beberapa tahun silam hal tersebut berdampak pada pembuat kapal pompong.

"Kita tidak bisa ambil kayu sembarangan, sehingga harganya menjadi mahal, itu akibat ulah para pembalak liar yang membawa kayu keluar dari kabupaten kita," sebutnya.

Hingga saat ini meskipun sudah banyak kapal-kapal fiber yang mudah didapat, namun bagi nelayan menggunakan kapal pompong lebih aman dan nyaman, untuk mencari ikan di lautan Kabupaten Lingga, khususnya.
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar