Lebaran - Yuliati 22 Tahun Jualan Lontong Lebaran

id lontong, yuliati, batam, lebaran, ketupat, singapura

Batam (ANTARA News) - Yuliati Ningrum, perempuan berusia 32 tahun asal Bojonegoro, Jawa Timur, 22 tahun berjualan lontong dan ketupat pada setiap musim Lebaran di Batam, Kepulauan Riau.

"Saya meneruskan usaha yang dirintis ibu tahun 1989 di Pasar Penuin," kata Yuliati ketika bersama Deddy Suhardi (36), suaminya, melayani pembeli di sebuah lapak Pasar Mitra Raya Batam Kota, Senin ketika sebagian besar umat Muslim negeri ini masih menanti pengumuman resmi dari pemerintah mengenai 1 Syawal 1432 H.

"Kebanyakan calon pembeli masih menunggu-nunggu apakah malam takbiran nanti malam atau besok," kata perempuan yang di Kavling Senjulung Telagapunggur Batam menggunakan empat dandang besar dan api kayu untuk mengolah beras dan ketan menjadi ketupat dan lontong lebaran.

Meski banyak konsumen masih menunggu kepastian, puluhan lontong berbahan beras yang dibungkus dengan daun pisang segera ludes dibeli pengunjung Pasar Mitra Raya.

"Sebentar. Sebentar lagi kiriman baru datang," kata Yuliati kepada calon pembelanja yang menghadapi wadah kosong di atas meja.

Harga lontong beras Rp14 ribu/kg dan ketupat per biji Rp4 ribu.

Yuliati dan Deddy mengatakan menyiapkan delapan karung beras atau setara dengan dua kwintal untuk memanfaatkan empat hari persiapan dan hari-hari pertama Lebaran di gerai Pasar Mitra Raya dan Penuin serta pelayanan antar ke rumah-rumah pemesan.

"Kemana pun asal di Batam dapat kami antar. Syaratnya, pemesanan tidak mendadak terutama ketika harus membuat lontong yang baru sebab untuk merebusnya pun memerlukan waktu lima jam," kata Dedi yang sehari-hari berdagang di pusat jajanan Kawasan Industri Cammo dan giat dalam bisnis pemasaran bertingkat sebuah merek makanan-minuman kesehatan.

Menurut Yuliati, biasanya pada setiap Lebaran mendapat omset antara Rp 4 juta hingga Rp5 juta.

"Alhamdullilah, tembus Rp5 juta," kata Deddy, Selasa sore, ketika di rumahnya masih menyiapkan pengiriman beberapa pesanan di haru mendung dan hujan setelah pada Senin hingga tengagh malam menyelesaikan pengantaran ke rumah-rumah pemesan.

"Usaha kami masih skala keluarga. Semua anggota keluarga bekerja di dapur dan mengantar. Kami belum mengupah pekerja tetap," kata Deddy, pria asal Dabo Singkep, Kepulauan Riau yang bersama keluarga meneruskan usaha mertuanya, Husen Mulyadi dan Sabariah.

Lontong dari usaha keluarga Yuliati berciri khas. Berbentuk silinder dengan diameter sekitar 4 centimeter, panjang 40 centimeter dan berat rata-rata 1 kilogram, tanpa bambu pengikat dua ujungnya.

Metode itu didapat Yuliati dari ibunya yang pernah bekerja di Singapura.

"Ibu saya," katanya, "waktu di Singapura mendapati cara merebus lontong besar dengan selongsong terbuat dari plat aluminium. Kami kemudian membuat selongsong itu di Jawa."

(ANT-JSB/Btm1)


Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026


Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Komentar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE