Tanjungpinang (ANTARA) - RSUD Raja Ahmad Tabib (RAT) milik Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terus berbenah menuju pusat layanan kanker, jantung, saraf, dan urologi (KJSU), serta layanan kesehatan ibu dan anak.
"Sebagai rumah sakit rujukan di Kepri, kami seoptimal mungkin menjadi rumah sakit yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat," kata Direktur Utama RSUD RAT Kepri Dokter Bambang Utoyo di Tanjungpinang, Senin.
Untuk mewujudkan layanan KJSU itu, kata dia, RSUD RAT mulai berbenah dengan mengoptimalkan teknologi kesehatan yang ada dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.
Menurut dia, dari segi peralatan kesehatan di RSUD RAT Kepri sudah cukup lengkap dan mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, terutama di bidang layanan jantung. RSUD RAT sudah bisa melakukan operasi bor jantung perdana pada November 2025 terhadap lima pasien.
"Seharusnya, kelima pasien ini dilakukan tindakan bedah jantung terbuka, namun kita pakai metode bor tanpa operasi. Alhamdulillah, berhasil tanpa perlu dirujuk ke Jakarta," ujarnya.
Di bidang saraf, RSUD RAT Kepri sudah menerapkan neurointervensi, yaitu prosedur medis minimal invasif untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit pada pembuluh darah otak dan tulang belakang, seperti stroke, aneurisma, tumor otak, atau malformasi vaskular, melalui kateterisasi pembuluh darah dengan bantuan alat pencitraan canggih.
Untuk bidang urologi, rumah sakit yang terletak di ibu kota Provinsi Kepri itu sudah bisa melakukan tindakan nonoperatif pada kasus bidang urologi.
Baca juga: Angka prevalensi balita stunting di Batam turun
"Tahun ini, kita dibantu lagi Kemenkes alat untuk urologi batu ginjal nonoperatif," ujarnya.
Untuk layanan kanker, pihaknya masih menunggu satu peralatan Linac atau alat radioterapi yang sedang proses pengiriman dari Kemenkes. Pertengahan tahun ini, ditargetkan sudah mulai beroperasi.
Sambil menunggu alat itu beroperasi, RSUD RAT telah menyiapkan sumber daya manusia (SDM) untuk radioterapi, sehingga ketika pasien memerlukan layanan itu tak perlu lagi dirujuk ke Jakarta.
"Kami juga bekerja sama dengan Rumah Sakit Johor dan Malaka (Malaysia) untuk bertukar pengalaman dan pengetahuan, khususnya terkait layanan radioterapi," kata Bambang.
Pemprov Kepri juga telah membangun rumah singgah, tepatnya di samping RSUD RAT Kepri bagi masyarakat yang memerlukan tempat tinggal selama proses pengobatan, apalagi untuk penanganan radioterapi memerlukan waktu cukup lama atau sekitar satu bulan.
"Kasihan kalau pasien harus bolak-balik rumah sakit, apalagi dari luar pulau, makanya disiapkan rumah singgah untuk pasien dan keluarga," ujar dia.
Ia mengatakan tingkat kunjungan pasien RSUD RAT Kepri terus meningkat dari waktu ke waktu, seiring pembenahan layanan yang dilakukan manajemen rumah sakit tersebut. Per hari tercatat 600 lebih pasien yang berobat di RSUD RAT.
Pihak RSUD RAT turut mendapatkan pendampingan dari RSUD Hasan Sadikin Bandung terkait peningkatan tata kelola rumah sakit yang lebih baik, transparan dan akuntabel. Program ini diinisiasi oleh Kemenkes RI.
Baca juga: Mentan Amran minta pemda untuk dorong hilirisasi komoditas pertanian lokal
Baca juga: Menteri Amran kecam praktik penyelundupan beras yang terjadi di Kepri

Komentar