IMF: pandemi COVID-19 akan berpengaruh besar bagi ekonomi Afrika sub-Sahara

id COVID-19,pertumbuhan ekonomi Afrika,IMF

IMF: pandemi COVID-19 akan berpengaruh besar bagi ekonomi Afrika sub-Sahara

Seorang pria berdiri di sampaing poster ucapan Selamat Tahun Baru China selama konferensi pers soal virus corona di Abuja, Nigeria, 3/2/2020. ANTARA/REUTERS/Afolabi Sotunde/tm (REUTERS/AFOLABI SOTUNDE)

Washington (ANTARA) - Penyebaran virus corona atau COVID-19 ke Afrika sub-Sahara akan berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi di kawasan itu, dengan gangguan langsung terhadap mata pencaharian masyarakat, kondisi finansial yang lebih ketat, berkurangnya perdagangan dan investasi, dan penurunan tajam harga komoditas, menurut Dana Moneter Internasional (IMF).

Dalam sebuah unggahan di situs IMF, para pejabat tinggi di Departemen Afrika IMF mengatakan mereka telah menerima permintaan untuk pembiayaan darurat dari lebih dari 20 negara di kawasan itu dan memperkirakan setidaknya 10 negara segera mengajukan permohonan serupa.

Pada Selasa (24/5), IMF mengumumkan bahwa Ghana telah meminta pinjaman darurat cepat-dicairkan untuk memerangi pandemi virus corona.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva pada Senin (23/3) mengatakan sekitar 80 negara telah meminta pinjaman untuk fasilitas darurat, di mana sekitar 50 miliar dolar AS tersedia, dengan setidaknya 20 permintaan lain akan diajukan.

"Di seluruh kawasan, pertumbuhan akan terpukul keras. Persisnya betapa keras masih sulit untuk dikatakan. Tetapi jelas bahwa perkiraan pertumbuhan kami dalam prospek regional April akan jauh lebih rendah," tulis Direktur Departemen Afrika IMF Abebe Aemro Selassie, dan Kepala Misi IMF untuk Sierra Leone Karen Ongley dalam unggahan itu.

Selama krisis keuangan global lebih dari satu dekade lalu, negara-negara Afrika terhindar dari dampak ekonomi, karena banyak yang kurang terintegrasi dengan pasar keuangan global dan rantai pasokan, tulis Selassie dan Ongley.

Tingkat utang juga lebih rendah, dan negara-negara memiliki lebih banyak ruang untuk meningkatkan pengeluaran guna mendorong pertumbuhan.

Dalam menghadapi pandemi virus corona, sejumlah negara telah menutup perbatasan dan membatasi pertemuan publik, yang akan mengurangi banyak pekerjaan berbayar.

"Bagi masyarakat yang paling rentan di kawasan ini, 'jarak sosial' tidak realistis. Gagasan bekerja dari rumah hanya mungkin bagi segelintir orang," tulis Selassie dan Ongley.

Dampak terhadap eksportir minyak

Gangguan terhadap mata pencaharian akan berarti lebih sedikit pendapatan, lebih sedikit pengeluaran, dan lebih sedikit pekerjaan. Perbatasan tertutup berarti perjalanan dan pariwisata akan mengering, bersama dengan perdagangan dan pengiriman.

Penutupan sebagian dari ekonomi utama berarti bahwa permintaan global akan turun, yang selanjutnya mengganggu rantai pasokan dan perdagangan. Dan kondisi keuangan global yang lebih ketat akan membatasi akses ke keuangan dan menunda investasi dan proyek pengembangan, tulis mereka

Dengan harga minyak turun 50 persen sejak awal 2020, dampak pada eksportir minyak di Afrika akan sangat besar.

"Kami memperkirakan bahwa setiap penurunan 10 persen harga minyak, rata-rata, akan menurunkan pertumbuhan eksportir minyak sebesar 0,6 persen dan meningkatkan defisit fiskal keseluruhan sebesar 0,8 persen dari PDB," catat mereka.

Meskipun demikian, mereka merekomendasikan peningkatan pengeluaran fiskal---pertama untuk kesehatan masyarakat, tetapi juga untuk memberikan dukungan ekonomi yang luas, termasuk transfer uang tunai kepada individu dan rumah tangga yang berada di bawah tekanan.

"Jika memungkinkan, pemerintah harus mempertimbangkan target dan dukungan sementara untuk sektor-sektor yang terpukul keras seperti pariwisata. Misalnya, keringanan pajak sementara melalui pengurangan yang ditargetkan atau penundaan dalam membayar pajak dapat membantu mengatasi kekurangan arus kas untuk bisnis yang terkena dampak," catat mereka.

Sumber: Reuters

Penerjemah: Yashinta Difa Pramudyani
 
Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar