Singapura dan Malaysia buka kembali penjualan ikan dari Kepri

id ikan, pasar kepri, pasa singapura

Singapura dan Malaysia buka kembali penjualan ikan dari Kepri

Para nelayan sedang memilah ikan. Foto Antara/Ogen

Tanjungpinang (ANTARA) - Kegiatan ekspor ikan nelayan di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dengan tujuan Malaysia dan Singapura mulai menggeliat sejak sebulan terakhir, sebab kedua negara jiran tersebut sudah membuka kembali kran penjualan ikan, sebelumnya memang sempat ditutup imbas pandemi COVID-19. 

"Alhamdulillah, sekarang ekspor ikan kembali normal, dan harga pun sudah lumayan tinggi," kata Pengurus Kapal Nelayan Kabupaten Karimun dan Kabupaten Natuna, Dedek Ardiansyah..

Menurut Dedek, ekspor ikan di pulau terluar Indonesia tersebut dilakukan per 10 hari sekali, dengan rata-rata sebanyak 12 ton untuk sekali pengiriman. 

"12 ton untuk sekali pengiriman, setara sekitar Rp1 miliar lebih," ungkapnya.

Lanjutnya, ikan yang diekspor terdiri dari berbagai jenis. Khusus Malaysia ialah ikan merah. Sementara Singapura, di antaranya ikan anggoli, ikan kurisi, dan ikan kerapu.

Ikan-ikan tersebut ditangkap oleh puluhan nelayan di seputaran Ranai dan Pulau tiga. Mereka menggunakan kapal berkapasitas 26 GT, 22 GT, 5 GT, dan 2 GT.

Selanjutnya, ikan dijual oleh nelayan ke pengepul di Natuna. Lalu dari Natuna diangkut menggunakan kapal kayu menuju ke Karimun.

Tiba di Karimun, ikan dibongkar dan dipindah ke kapal lainnya, baru kemudian diekspor ke Malaysia dan Singapura.

"Jadi ekspor ke Malayasia dan Singapura melalui Karimun," sebutnya.

Lebih lanjut, Dedek menyampaikan sampai saat ini tidak ada kendala untuk ekspor ikan ke Malaysia maupun Singapura.

Ikan-ikan yang dikirim pun sudah terjamin keamanan dan kesehatannya, karena sudah melalui rangkaian pemeriksaan oleh Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan Domestik di Natuna.

"Cuma, saat ini kondisi cuaca sudah mulai masuk musim selatan. Maka dapat dipastikan hasil tangkapan nelayan berkurang. Tapi mau bagaimana lagi, memang sudah faktor alam," demikian Dedek.
 
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar