DPRD Natuna tanggapi keluhan pedagang kopi terkait pembatasan kegiatan

id Natuna, DPRD, kedai kopi, PPKM

DPRD Natuna tanggapi keluhan pedagang kopi terkait  pembatasan kegiatan

Wakil Ketua l DPRD Natuna Daeng Ganda (kanan) saat mengikuti sidang di DPRD Natuna, Maret 2021 (Antara Kepri/HO/Cherman)

Ranai, Natuna (ANTARA) - Wakil Ketua l DPRD Kabupaten Natuna, Daeng Ganda Rahmatullah menanggapi keluhan pengusaha kedai kopi dan kuliner atas diberlakukannya jam malam dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro yang diterapkan di Natuna.

"InshaAllah akan kami tindaklanjuti dengan mengadakan rapat kerja", kata Daeng Ganda kepada Antara, Senin

Ia juga berjanji akan segera melakukan mediasi dan memanggil pihak terkait agar segera membicarakan teknis penerapan PPKM berbasis mikro di Natuna dalam waktu dekat.

"Rapat dengan satgas COVID -19 dan stakeholder terkait", kata Daeng Ganda.

Tidak hanya itu, ia juga mengatakan pertemuan atau rapat yang akan digelar melibatkan perwakilan dari para pedagang.

"Kita akan mengundang juga rekan-rekan perwakilan dari pegiat usaha", ungkapnya.

Sebelumnya, pemilik warung kopi, kedai jajanan dan para pedagang lainnya yang beroperasi pada malam hari mengeluhkan kebijakan diberlakukannya jam malam berdasarkan Edaran Bupati Nomor 2 Tahun 2021 tentang Larangan Melaksanakan Kegiatan Keramaian dalam Rangka Pengendalian Penyebaran Corona Virus Disease 2019 Kabupaten Natuna.

"Ada poin yang menyebutkan pembatasan jam operasional sampai jam 21.00 WIB", kata Robet, salah satu pemilik kedai kopi di Ranai, Natuna.

Adanya pembatasan kegiatan malam hari karena dianggap tidak adil bagi mereka pedagang kopi karena penyebaran COVID - 19 tidak hanya terjadi pada malam hari saja. 

"Kerumunan tidak terjadi hanya malam hari saja, ditempat tertentu siang hari juga terjadi, selanjutnya kenapa kerumunan malam hari saja yang dibatasi sementara siang tidak", keluh Robet.

Selain itu, mereka para pedagang juga mengeluhkan keterbatasan waktu hanya 3 jam jika dihitung mulai beroperasi jam 6 sore hingga jam 9 malam.

"Jam 9 itu baru mulai orang  pengen pergi ngopi setelah makan malam, sementara kita sudah bersiap mau tutup", lanjut Robet.

Ia juga mengungkapkan jika mereka sangat memahami pembatasan kegiatan masyarakat demi kebaikan bersama dan akan patuh jika kebijakan dianggap adil bagi para pedagang baik malam maupun siang hari.

"Yang terpenting pembatasan, bukan larangan, misalnya mengurangi jumlah meja, menjaga jarak, menggunakan masker, patuhi prokes, itu masih bisa diterima", ungkapnya.
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar