Kimak Memiliki Nilai Jual Tinggi

id Kimak,Nilai, Jual, Tinggi,kerang,natuna,minat,singapura,pulau,panjang,buton,teluk,kepri

Kimak Memiliki Nilai Jual Tinggi

Seorang nelayan Teluk Buton, Pulau Panjang, Natuna, Kepri, memperlihatkan kimak atau sejenis kerang besar yang merupakan kekayaan laut bernilai tinggi dan diminati warga Singapura, Sabtu (19/5). (kepri.antaranews.com/Rosyita/rd)

Natuna (ANTARA Kepri) - Kerang besar atau kimak yang dipelihara di sekitar Laut Natuna, tepatnya di perairan antara Desa Teluk Buton dan Pulau Panjang memiliki nilai jual tinggi, bahkan bisa mencapai Rp100.000,- per kilogram dan sangat dicari oleh warga Singapura.

"Kimak ini sengaja kami pelihara di laut hingga mencapai ukuran yang sangat besar," ujar Muhammad (38), nelayan Teluk Buton, Sabtu di Teluk Buton, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Dia mengatakan, kimak ini mengandung isi yang berwarna putih yang sangat dicari oleh warga Singapura.

"Kami tidak tahu persis untuk apa, tapi kami pernah dengar digunakan untuk bahan pembuatan kosmetik," katanya.

Karena itu, tak tanggung-tanggung warga Singapura itu sanggup membayar Rp100.000,- per kilogram. "Namun, untuk mencapai keuntungan besar, kami harus memelihara kimak dalam jangka waktu yang lama," katanya.

"Hingga dua tahun," ungkap Muhammad yang juga Ketua Rukun Tetangga Setepik di Desa Teluk Buton tersebut.

Di lokasi budi daya, untuk melihat isi atau mengetahui daging berwarna putih tersebut kimak dibuka dengan cara memukul kulit kerang besar tersebut.

"Inilah daging berwarna putih yang sangat dicari warga Singapura," kata Muhammad sambil mengambil dan menunjukkan kimak.

Tampak daging berwarna putih tersebut tidak kenyal seperti daging kimak lainnya. Untuk kimak berukuran sedang dengan berat sekitar satu kilogram hanya mengandung 0,5 ons daging berwarna putih tersebut.

"Untuk itulah kami memelihara hingga mencapai ukuran yang sangat besar, agar kandungan daging ini bisa mencapai satu kilogram," katanya yang diamini oleh Nasir (50) nelayan lainnya.

Nasir mengungkapkan saat ini ada sekitar 500 kimak yang dipelihara. "Dulu mencapai ribuan buk, tapi sudah dibeli," ujarnya. (KR-RST/S023)

Editor: Rusdianto

Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026


Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Komentar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE