Yohanes Supriyanto, anak panti yang dirikan panti asuhan

id profil

Yohanes Supriyanto adalah penerima piagam Satyalencana Kebaktian Sosial tahun 2018 dari Presiden Republik Indonesia. Dia adalah sosok di balik Panti Asuhan Anugerah Tanjungpinang, satu-satunya panti kristiani di Provinsi Kepulauan Riau. 

Panti asuhan yang berda di Jalan Merpati Gang Pipit Nomor 18 Kampung Bangunsari RT 02 RW 10 Kelurahan Batu Sembilan, Kecamatan Tanjungpinang Timur, Kota Tanjungpinang tersebut didirikan  pria kelahiran Bandung 13 mei 1962 itu sejak Tahun 1999 silam. Alumni SDN Ngalmes 1 Madiun itu mendirikan panti karena rasa keprihatinan terhadap para anak-anak terlantar yang juga pernah dirasakannya pada saat berusia 11 tahun.

“Saya juga dibesarkan oleh panti asuhan di Surabaya,“ ucapnya kepada Antara saat dijumpai di Panti Asuhan Anugerah 16 Desember lalu.

Yohanes adalah alumni SMP Kristen Bethel Nglames Madiun, dan STM Siang Madiun. Usai menyelesikan pendidikan, ia sempat bekerja di Yayasan YPTL Pelayanan Kasih Surabaya. Selama enam tahun itu, dia aktif dalam pelayanan sosial sejak Tahun 1986.

Pada tahun 1991, untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki di Tanah Gurindam Kota Tanjungpinang, saat itu belum berstatus Provinsi Kepulauan Riau.

Selama berada di Kepulauan Riau, ia menjajaki Pulau Segantang Lada itu dari pulau ke pulau dan banyak menemukan anak-anak tidak berkesempatan mengenyam pendidikan formal. Berangkat dari itu pada Tahun 1992 ia membuka kelas jauh melalui program paket A. 

“Pada saat itu ada sekitar 25 siswa setingkat SD yang saya bina,” ujarnya. 

Untuk berbuat lebih bagi lingkungannya, pada maret 1999 beliau mendirikan Yayasan Sosial Pelayanan Kasih (YSPK) Anugerah Tanjungpinang. Di tahun yang sama, tepatnya pada bulan November, melalui yayasan tersebut ia mendirikan sebuah panti asuhan untuk menampung 12 anak dari berbagai wilayah di sekitar Tajungpinang.

Yohannes menceritakan pahit manisnya berjuang demi menghidupi anak asuhnya yang terus bertambah dari tahun ke tahun. 

“Jumlah anak asuh pada 2005 mencapai 70 orang anak, pernah suatu ketika kita tidak memiliki sedikitpun makan, saya harus berusaha agar anak anak saya bisa makan,“ kisahnya.

Saat itu, agar anak asuhnya tetap bisa makan, ia bersama anak-anaknya mengumpulkan kayu bekas untuk di jual. Hingga kini, Yohannes masih menampung 37 anak di panti itu.

“Sebagian sudah tidak lagi tinggal di panti, karena telah bekerja ada pula yag melanjutkan kuliah,“ kata Yohanes.

Dia bisa berbangga, dari jerih payahnya, saat ini telah banyak anak asuhnya yang bekerja di berbagai bidang. Ada yang menjadi penerbang, TNI, Polri, pegawai bank, guru dan tenaga kesehatan. Setelah mandiri, banyak alumni yang kemudian kembali ke panti untuk membantu sekadar biaya operasional.

Tidak hanya itu, menurutnya  bagi para warga yang tidak mampu juga merasakan dampak dari kegiatan yayasan. Dari sejumlah donatur, yayasan dapat mengadakan berbagai kegiatan seperti penyaluran bantuan bagi pelajar tidak mampu, dan bantuan untuk warga di 34 lokasi di sekitar Pulau Bintan.

"Bantuan kebanyakan berupa peralatan sekolah, sembako, pakaian, obat-obatan dan lainnya,” jelasnya.

Setelah cukup lama mengabdi untuk Tanjungpinang, Yohanes mulai menjangkau keluar wilayah. Dia melebarkan jangkauannya hingga ke Tanjung Balai Karimun, Lingga, Dendun, Numbing, pesisir Bintan dan daerah lainnya di Kepulauan Riau.

Yohanes belum merasa cukup membantu. Berbekal pengalamannya membantu penderita gangguan kejiwaan di RS Surabaya dan fasilitas sejenis di wilayah Bogor, Jawa Barat, dia bertekad membangun Panti Werdha atau Panti Jompo. Saat ini melayani 19 orang lanjut usia yang terlantar.

Para lansia tersebut ia temukan dari sejumlah rumahsakit, jalanan, bahkan dari luar wilayah Tanjungpinang. Panti asuhan yang masih berada satu komplek dengan sekolah itu bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal.Yohanes juga memberikan konseling moril secara gratis, bekerjasama dengan rumahsakit.

Sedangkan untuk didunia pendidikan formal, Yohanes sejak Tahun 2007 mendirikan sebuah lembaga pendidikan anak usia dini dilanjutkan jenjang sekolah dasar pada tahun 2008. 

Dia cukup serius menjalankan lembaga pendidikannya. Sebuah papan plang bertuliskan AKREDITASI : A merupakan bukti kesungguhannya. Selain itu, sederet prestasi akademik dan non akademik baik lokal maupun tingkat provinsi dapat diraih sekolah dengan 300an siswa yang menerapkan pembiayaan sistem subsidi silang itu.
 


 
Pewarta :
Editor: Joko Sulistyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar