Anak nelayan itu kini memproduksi kapal

id pengusaha kapal,juragan kapal,kisah sukses pengusaha,Hengky Suryawan

Anak nelayan itu kini memproduksi kapal

Industri perkapalan milik Hengky Suryawan di Batam (Nikolas Panama)

Tanjungpinang (ANTARA) - Hengky Suryawan, bukan nama yang asing di telinga masyarakat Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), terutama di kalangan pengusaha.

Pria murah senyum itu, tetap bersahaja, meski usaha yang digelutinya berkembang pesat.

Ia pun tetap berpenampilan muda, meski usianya sudah 71 tahun.

Mengawali perbincangan dengan Antara di lantai tiga kantornya di Kompleks Pertokoan Bintan Mall, Hengky menyendok daun teh dalam wadah yang terbuat dari kaca.

Sambil mengambil dua gelas kecil di atas lemari yang sejajar dengan meja kerjanya, Hengky mengatakan teh itu bukan teh yang diminum masyarakat pada umumnya.

Teh ini pun hanya disuguhi untuk tamu-tamu khususnya. "Ini teh dari China untuk kesehatan. Harganya 10.000 dolar per kilogram," ucapnya sambil memanaskan teh yang sudah diisi air.

Pria kelahiran Tanjung Batu, Kabupaten Karimun, Kepri itu sekarang tinggal menikmati hasil kerja keras puluhan tahun yang lalu. Usahanya sudah berjalan, berkembang pesat seiring waktu.

Dalam kesempatan itu, Hengky ingin berbagi tips agar para generasi muda dapat menjadi pengusaha sukses, seperti dirinya. Tidak banyak yang tahu kalau usaha yang digelutinya dimulai dari nol, bermodal kerja keras selama puluhan tahun. Hengky tidak pernah menyerah meski usaha yang digelutinya tidak selalu menanjak.

"Modal bisnis yang paling utama bukan uang, tetapi percaya diri," katanya.

Rasa percaya diri akan tumbuh seiring dengan keinginan untuk meningkatkan kemampuan. Tanpa keahlian, menurut dia, tidak mungkin orang memiliki rasa percaya diri.

Karena itu, semakin tinggi kemampuan orang di bidang tertentu, semestinya semakin percaya diri. Namun hal itu akan membuat orang gagal atau jatuh di tengah jalan karena tidak diiringi dengan rasa syukur.

"Dengan modal itu, orang juga tidak bisa berbuat apa-apa kalau sombong," tutur Hengky.

Karena itu, berbisnis harus dimulai dari mental yang matang. Rasa percaya diri, dan kemampuan yang dimiliki akan membuat orang lain percaya.

Modal lainnya adalah menjaga kepercayaan yang sudah diberikan. Kepercayaan itu harus dianggap kesempatan terakhir sehingga harus dirawat.

"Itu tips untuk orang yang ingin memulai bisnis. Apapun bisnisnya, tipsnya sama," kata pengusaha yang pernah mendapat penghargaan sebagai pejuang Dwikora.

Jenis bisnis yang digeluti juga harus sesuai dengan kemampuan. Berbisnis tanpa pengetahuan sama saja bunuh diri, katanya.

"Bapak saya bekerja sebagai nelayan, tetapi saya lebih suka bisnis kapal, ingin memiliki kapal atau membuat kapal. Saya percaya Tuhan akan membantu saya meraih cita-cita saya," ucap mantan Ketua Walubi Tanjung Pinang itu.

Berbisnis dari usia muda hingga tua membuatnya semakin matang. Semakin banyak orang yang ditemui, bergaul dengan berbagai kalangan, "mencuri" dan berbagi pengetahuan dan pengalaman, membuatnya menjadi manusia yang beruntung.

Hengky sendiri memulai bisnis sejak usia muda. Ia pernah membangun usaha bekerja sama dengan pengusaha asing, termasuk yang berasal dari Singapura.

"Berbisnis itu seperti lautan, jangan berharap pasang terus, karena suatu saat akan surut," katanya.


Industri Kapal

Tahun 1971 Hengky muda sudah mampu memiliki kapal, meski belum produksi kapal sendiri. Kapal kayu dengan kapasitas 90 ton itu ia manfaatkan untuk mengangkut barang dari Tanjung Pinang menuju Jakarta maupun sebaliknya.

Saat itu ia mengaku membeli kapal dengan harga Rp2,5 juta yang dananya diperoleh dari orang tua sebesar Rp1 juta dan Rp1,5 juta pinjaman bank.

"Di usia 18 tahun saya harus memutar otak untuk memulai usaha," katanya.

Saat itu, kapal milik Hengky satu-satunya kapal di Kepri yang mengangkut sembako dari Jakarta ke Tanjung Pinang. Kapal ini banyak membantu mengembangkan pertumbuhan ekonomi daerah dan memenuhi kebutuhan masyarakat Kepri yang bergantung dengan negara tetangga. Saat itu, kata dia, untuk telur saja masih harus impor dari Singapura.

Sejak mengembangkan usaha pelayaran untuk angkutan barang itu, Hengky yang merupakan putra ketujuh dari 14 bersaudara tersebut merasa memperoleh banyak pengalaman dan rekan bisnis. Meski tidak selalu berjalan mulus, Hengky tetap optimistis usaha yang ditekuninya itu akan berkembang pesat.

Tahun 1991 ia mendirikan PT Pelayaran Nasional Bahtera Bestari Shipping yang menaungi bisnis jasa angkutan laut. Setahun kemudian ia mendirikan perusahaan baru bernama PT Bintan Marina Shipyard yang bergerak di bidang perawatan dan reparasi kapal di Tanjung Pinang.

"Sampai sekarang masih ada usaha perawatan kapal di Tanjung Pinang," katanya.

Tahun 2005, pria vegetarian itu membangun pabrik pembuatan kapal di Batam. Usaha ini di bawah naungan PT Bahtera Bahari Shipyard yang bekerja sama dengan pengusaha asal Singapura.

Kerja sama dengan pengusaha asing itu hanya bertahan lima tahun. Selanjutnya Hengky menjalankan bisnis itu secara mandiri sampai sekarang.

Awalnya, tenaga ahli dalam pembuatan kapal itu berasal dari berbagai negara. Namun sejak beberapa tahun lalu, Hengky merekrut tenaga ahli dari Makassar dan para pekerjanya kebanyakan asal berbagai pulau di Kepri.

"Kalau ada tenaga ahli asal Kepri tentu kami utamakan," katanya.

Bisnis perkapalan menguntungkan, terutama saat banyak pesanan. Kapal yang dibuat antara lain kapal tongkang, kapal pesiar, dan kapal feri. Kapal pesiar diproduksi berdasarkan pesanan, sedangkan kapal tongkang berdasarkan pesanan dan kebutuhan perusahaan.

Saat ini, kata dia, sebanyak 200 unit kapal tongkang beroperasi. Sekitar 50 persen kapal tongkang mengangkut batu bara memenuhi kebutuhan PLN di seluruh provinsi. Kebutuhan batu bara untuk sumber energi listrik mencapai 90 juta ton per tahun membuat usaha Hengky berkembang pesat.

Sementara untuk penjualan satu unit kapal tongkang seharga Rp40 miliar, sedangkan kapal pesiar tergantung modelnya. Tahun ini, seorang pengusaha batu bara memesan kapal pesiar senilai Rp200 miliar.

Sebagian kapal yang dibuat tidak dijual melainkan disewa kepada pengusaha pertambangan.

"Paling banyak kami memproduksi kapal tongkang, sebagian dijual, dan sebagian lagi disewa untuk mengangkut batu bara dan bauksit," katanya.

Industri perkapalan di Batam sudah sekitar 20 tahun. Dua tahun lalu ketika perekonomian melemah, banyak pengusaha perkapalan "tiarap" menunggu perkembangan perekonomian. Pengalaman Hengky justru mengarahkan dirinya untuk memproduksi kapal, meski belum ada yang order.

"Saat pertumbuhan ekonomi hanya dua persen di Kepri, orang banyak menganggap saya tidak waras karena membuat kapal. Fakta menunjukkan justru sebaliknya, saya untung besar karena tahun 2018 sebanyak 50 unit kapal terjual," katanya.

Tahun ini, perusahaan raksasa Hengky juga memproduksi 50 unit kapal, satu di antaranya kapal pesiar mewah mirip kapal roro, yang dapat mengangkut kendaraan dan helipad.

"Kapal mewah itu dijual dengan harga Rp200 miliar," ucapnya.


Pandai lobi

Roda bisnis yang digeluti pengusaha di Kepri tidak selalu lancar, terutama saat diberlakukannya bea cukai untuk kapal. Hengky salah seorang pengusaha yang memperjuangkan agar tidak diberlakukan kebijakan yang lahir dari Peraturan Menteri Keuangan Nomor 120 Tahun 2016.

Jika bea cukai kapal itu diberlakukan, maka banyak perusahaan yang bangkrut. "Satu kapal saat itu bisa dikenakan bea cukai sebesar Rp2,9 miliar. Tentu ini memberatkan," tegasnya.

Saat memperjuangkan penghapusan bea cukai kapal, Hengky menemui Menko Perekonomian, Menko Kemaritiman, Menteri Keuangan, dan Ketua DPR, namun tidak berhasil.

"Setelah saya berdialog dengan Wapres, akhirnya ditemukan jalan keluar. Ini akhir dari keberhasilan negosiasi," ucapnya.

Hengky pun merasa perjuangan itu tidak hanya membantu pengusaha, melainkan juga masyarakat. Hikmah dibalik perjuangan itu pula, ia memiliki banyak teman pejabat teras pemerintahan pusat.

"Saya bergaul dengan siapa saja. Saya menikmatinya," kata Hengky yang kerap menjadi pembicara dalam forum bisnis maupun narasumber dalam kuliah umum sejumlah kampus itu.
Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar