Kala si Kabel hitam penerang Tambelan

id tambelan,kepri,indonesia,pln,rayon,ranai,tanjung,pinang,bumn,listrik,persero,antara,tagihan,beban,mesin,sejarah,melayu,dolar,rupiah

Kala si Kabel hitam penerang Tambelan

Salah satu warga menunjukkan bukti tagihan listrik milik PLN Tambelan 2016. Bukti tagihan ini merupakan rangkaian perihal kelistrikan di Tambelan sebelum kini resmi beroperasi 24 jam. (foto/saudmckashmir)

Tambelan, Bintan (ANTARA) - Kelistrikan di Kecamatan Tambelan memiliki perjalanan kisah yang panjang. Mulai dari peralihan lampu tradisional berjenis "mintol" atau petromaks, sampai pada pola pengoperasian energi listrik dari 14 jam menjadi 24 jam.

Perihal kelistrikan di Tambelan, sebenarnya tidak hanya dibicarakan baru-baru ini. Buah karya Ampere Michael Faraday tersebut justru telah lama menjadi harapan tersirat bagi masyarakat Tambelan.

Perkenalan perdana listrik di Tambelan dimulai pada suatu masa, tepatnya 1948. Seorang H. Hasnan bin H. Yahya adalah tokoh yang disebut-sebut pelopor masuknya teknologi listrik tersebut ke Tambelan.

Menyandang gelar "Dato' Kaye", H. Hasnan bin H. Yahya adalah sosok pemimpin yang diibaratkan sebagai kepala daerah untuk Tambelan kala itu. Bisa dikatakan bahwa ia adalah tokoh central pergerakan perekonomian di Tambelan.  Serta, sebagai sosok orang nomor 1 yang memiliki pengaruh besar terhadap perubahan Tambelan.

Kilas balik kelistikan di Tambelan ini disampaikan langsung oleh anak Dato' Kaye tersebut, H. Haspan Hasnan. 

Pria kelahiran Tambelan, 14 Desember 1939 tersebut menjelaskan bahwa di masa 1948, Dato' Kaya Tambelan mendatangkan  mesin berukuran besar yang diletakkan di "Bom Lame" (nama salah satu pelabuhan di Kecamatan Tambelan, Bintan).

"Pada waktu itu, seluruh masyarakat Tambelan bergotongroyong menarik mesin tersebut, termasuk dari kalangan anak-anak yang berstatus pelajar di Sekolah Rakyat," ujar H. Haspan.

Haspan yang ketika itu pelajar kelas 3 di Sekolah Rakyat Tambelan mengaku turut ambil andil bersama sebayanya menarik mesin dengan menggunakan tambang.

Mesin dengan ukuran besar tersebut sengaja dipindahkan dari Bom Lame yang terletak di daerah Aik Tebarung atau Desa Kukup saat ini, menuju Mentayan yang berada di Desa Batu Lepuk. Tepatnya di belakang rumah "Dato' Kaye".

Proses perpindahan pun dilakukan tanpa teknologi modern. Karena memanfaatkan balok kayu sebagai galang sisi bawah untuk memudahkan mesin bergerak. Gotong royong menarik mesin tersebut dilakukan selama 8 hari dengan jarak sekitar 3 kilo meter dari Bom Lame ke Mentayan.

Listik yang berasal dari mesin itu dialiri ke rumah warga menggunakan sepasang kabel kecil yang dibeli dari Singapura. Sementara, tiang penyangga kabel yang berada di jalan raya menggunakan
 kayu berjenis "resak" setinggi 4 meter.

Uniknya, pembayaran pemakaian listrik dilakukan masyarakat dengan menggunakan mata uang asing, dolar Singapura.

"Jaman itu, rupiah belum ada di Tambelan, uang sebagai alat pembayaran yang sah waktu itu adalah dolar Singapura," ujar H. Haspan kepada Antara.

Listrik dari masin yang dikelola secara pribadi oleh Dato' Kaye tersebut cukup mampu melayani seluruh pemukiman warga dan untuk penerangan jalan. Meliputi Kampung Teluk Sekuni, Kampung Batu Lepuk, Kampung Melayu, dan Kampung Hilir.

Pola pengoperasian listrik dari mesin milik Dato' Kaye tersebut dimulai dari pukul 17.00 WIB sampai  pukul 06.00 WIB, atau lebih kurang selama 12 jam.

Masuknya listrik di Tambelan pada 1948 tersebut, seolah membuka lembaran baru dalam mengenal ilmu dan teknologi. Lembaran baru itu dilihat dari penggunaan sumber cahaya tradisional seperti "pelite" atau lampu minyak tanah,  dan "mintol" ke bohlam listrik untuk penerangan di malam hari.

Kisah kelistrikan ini terputus oleh H. Haspan ketika ia merantau meninggalkan Tambelan. Karena, setelah ia pulang dari perantauan sekitar 1963, listrik dari mesin Dato' Kaya tidak lagi beroperasi maksimal.

"Saya lupa kapan mesin Dato' mulai stop beroperasi. Seingat saya, tepatnya setelah rupiah masuk ke Tambelan menggantikan dolar, ketika itu PLN masuk ke Tambelan," tegasnya.

Di sisi lain, antusias masyarakat Tambelan dalam memanfaatkan listik mulai terlihat. Seperti mendengarkan siaran radio dan menonton televisi bergambar hitam putih. 

Sebagaimana yang diceritakan H. Haspan bahwa ketika listrik menjadi suatu hal baru dan mulai dirasakan manfaatnya, masyarakat Tambelan kembali dikenalkan dengan radio. 

Ibarat suatu hal baru, mendengarkan radio seperti menjadi rutinitas wajib masyarakat Tambelan usai melaksanakan shalat Isya, tepatnya di halaman rumah "Dato' Kaye" di Desa Batu Lepuk.

"Radio itu diletakkan di kamar depan dan dihadapkan ke lapangan yang dipenuhi masyarakat Tambelan ketika itu," ungkapnya sambil menunjukkan kamar yang dimaksud.

Menurut dia, ketika siaran radio tersambung dengan suara jernih dari maksimal volume perangkat tersebut, ketika itu pula warga yang sudah menanti lama, terdiam dan fokus menelaah suara yang keluar dari speaker radio. 

Bahkan, ada yang membawa tikar untuk dapat  dengan santai menikmati setiap siaran yang  dibawa penyiar radio tersebut, dan banyak hal yang terjadi dengan masyarakat pasca listrik menerangi Tambelan.

Kini setelah listrik diresmikan beroperasi 24 jam oleh Gubernur Kepri Isdianto (28/10), H. Haspan sangat berharap agar masyarakat Tambelan dapat memanfaatkan listrik dengan sebaik-baiknya, terutama untuk meningkatkan perekonomian rakyat yang dimulai dari meningkatnya industri rumah tangga yang ada di Tambelan.

"Alhamdulillah, listrik di Tambelan telah beroperasi 24 jam semoga dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh masyarakat Tambelan," ujar H. Haspan di kediamannya.

Sementara itu, seiring berjalannya waktu, perihal kelistrikan pasca masuknya PLN khusus di Tambelan mulai bermunculan. Seperti yang diberitakan Antara pada 2016 tentang masyarakat yang meminta perbaikan listrik di Tambelan.

Kilas baliknya, masyarakat Tambelan yang diwakili Edy sebagai narasumber meminta agar PLN pusat melakukan pemeriksaan langsung terhadap kondisi kelistrikan di Tambelan.

Kekecewaan masyarakat adalah tentang aksi pemadaman yang acap kali dilakukan pihak PLN Tambelan era 2016. Selain itu, tagihan listrik yang dibebankan kepada masyarakat juga tidak mengalami pengurangan ketika kegiatan pemadaman masih terjadi. 

Bahkan yang menjadi keluhan pelanggan pada waktu itu adalah tentang mekanisme penagihan yang cukup menggunakan kertas hvs kecil bertuliskan nama pelanggan dan jumlah tagihan yang harus dibayar. tanpa dicantumkan tarif dasar listrik sebagaimana mestinya bentuk suatu tagihan listrik.

Antara juga sempat memberitakan tentang pengoperasian listik di Tambelan yang menyala hanya 6 jam dari aturan normal pengoperasian sekitar 12 jam persisnya dari pukul 17.00 WIB - 06.00WIB pada hari Senin sampai Sabtu, dan 24 jam untuk hari Minggu.

Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (Kammi) Tanjungpinang, Zulfikar juga angkat suara mengkritisi tentang solusi perbaikan kelistrikan oleh pihak PLN Tambelan.

Ia mengkhawatirkan kondisi masyarakat Tambelan dari sisi kesehatan,  ekonomi, serta keamanan ketika pemadaman listrik sering terjadi pada 2016 di Tambelan. Ditambah lagi waktu itu ada buronan kapal pengebom ikan yang belum bisa ditangkap berada di Tambelan.

Zulfikar menyimpulkan bahwa kondisi krisis listrik yang terjadi saat ini justru menambah keterisoliran Tambelan.

Ragam keluhan masyarakat tentang PLN Tambelan ketika itu turut menjadi perhatian PLN cabang. Salah satunya ditanggapi oleh General Manager PLN cabang Tanjungpinang, Armunanto.

Kepada Antara, Armunanto menjelaskan bahwa pemadaman yang terjadi disebabkan kerusakan mesin pembangkit milik PLN Tambelan.

Tim perbaikan yang disiapkan PLN cabang Tanjungpinang untuk menyeberang ke Tambelan juga terkendala transportasi. Sehingga mesti melewati Pontianak, Kalimantan Barat untuk tiba di Tambelan.

Termasuk permasalahan tentang bentuk tagihan listrik yang beredar di Kecamatan Tambelan yang diindaklanjuti oleh pihak PLN cabang dengan mengkonfirmasi PLN Rayon Ranai.





Riak riuh peristiwa kelistrikan di Tambelan akhirnya mencapai final. Di bawah kepemimpinan Sunarto sebagai Kepala PLN Tambelan, keluhan masyarakat tentang listik mulai terobati. 

Dimulai dari pembenahan secara internal, pemasangan tiang,  jaringan baru, gardu, meteran vocer, sampai pada peresmian perubahan pola operasi PLN dari 14 jam menjadi 24 jam di Tambelan oleh Gubernur Kepri Isdianto dari Gedung Daerah Tanjungpinang usai peringatan Sumpah Pemuda ke-91 2019.

Sunarto menyampaikan bahwa saat ini daya PLN Tambelan mencapai 550kw, sementara  beban pemakaian 390kw. Pemakaian bahan bakar juga mencapai 2 ton per 24 jam masa pengoperasian dari 100 ton bahan bakar yang ditampung dalam tangki PLN Tambelan.

Sambung dia, pemasangan meteran vocer di Tambelan juga sudah mencapai 70 persen atau sudah lebih banyak dari pelanggan yang menggunakan meteran lama.

Tak berhenti sampai di situ, PLN Tambelan juga sudah mengusulkan tambahan mesin dengan daya 170kw kepada PLN Tanjungpinang.

"Alhamdulillah, selamat kepada masyarakat Tambelan atas beroperasinya listrik 24 jam. Marilah kita bersama-sama menjaga aset milik PLN ini dengan sebaiknya," ujar Sunarto.






Humas Ikatan Keluarga Tambelan (IKT) Tanjungpinang melalui Robby Patria turut mengucapkan syukur atas pengoperasian listrik 24 jam di Tambelan.

Ia menyarankan bahwa berubahnya pola operasi listrik ke 24 jam tidak hanya digunakan untuk menonton siaran televisi atau memutar lagu, melainkan harus ada usaha produktif yang dapat menaikan perekonomian masyarakat.

Mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Tanjungpinang ini menambahkan bahwa pemerintah desa di Tambelan diharapkan juga dapat mendorong masyarakat untuk maju dengan cara memperhatikan usaha produktif yang dilakukan warga.

Pemerintah desa juga dituntut untuk bisa meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Artinya tidak ada lagi hambatan-hambatan dalam memberikan pelayanan administrasi yang menggunakan fasilitas kantor dari listrik.

"Dengan demikian tentunya perekonomian warga Tambelan akan lebih tumbuh karena mereka bisa produksi pada siang hari. Hal itu membuka usaha UMKM akan bergerak di Tambelan," tegas mahasiswa program doktor di University Tun Hussein Onn Malaysia tersebut.

Di sisi lain, PLN diminta harus menjamin pasukan daya listrik 24 jam berjalan baik. Karena, jangan sampai dibuat 24 jam, kehandalan mesin listrik menjadi berkurang. Terlebih, dengan kondisi mesin yang cukup tua.

Rasa syukur juga terucap dari warga yang hadir dalam video conference di Kantor Camat Tambelan, Muhammad Yuza (28/10).

Secara pribadi, Yuza yang kesehariannya bekerja sebagai pengrajin kayu di Desa Kukup, Tambelan ini sangat berterimaksih kepada pemerintah karena telah memudahkan pekerjaannya melalui pengoperasian listrik 24 jam.

"Alhamdullillah," kata Yuza sebagai ucapan syukur beroperasinya listik 24 jam di Tambelan.

Warga Kampung Melayu, Tambelan, Syafriadi turut memberikan apresiasi kepada PLN saat ini. Honorer SMA Negeri 1 Tambelan ini mengatakan bahwa sebagai masyarakat awam ia tidak takut akan pemadaman ketika listrik menyala, bahkan ia tenang-tenang saja apabila terjadi pemadaman.

Karena, ia merasakan kini PLN Tambelan jauh lebih baik, dan cepat menyelesaikan perihal kerusakan. Sehingga tidak sempat terjadi pemadaman yang berlarut-larut.

"Ditambah lagi kini listrik sudah 24jam, Tambelan harus berkembang dan maju, ini adalah tonggak perubahan untuk Tambelan. Sebagaimana Sumpah Pemuda  menjadi bagian perjuangan kemerdekaan, begitu juga listrik 24 jam menjadi bagian dari perjuangan Tambelan untuk melepas keterisolirannya sebagai daerah 3T," tegas Syafriadi kepada Antara.
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar