Jelajah Anambas - Tiga hari jelajahi pulau di ujung negeri (II)

id kepulauan anambas,kota tarempa,jelajah ujung negeri,kuliner kahs mie tarempa

Jelajah Anambas - Tiga hari jelajahi pulau di ujung negeri (II)

Kawasan Loka di Tarempa, Kepulauan Anambas (Nikolas Panama)

Anambas (ANTARA) - Sebelum memasuki tahun 2018, Kepulauan Anambas adalah tempat sunyi. Orang-orang dari berbagai daerah di Provinsi Kepulauan Riau jarang ingin mengunjungi pulau berbatasan dengan Vietnam, Malaysia dan Thailand tersebut.

Alasan klasik yang selalu muncul, transportasi dan sinyal telepon terbatas. Menjamah Anambas pun tidak mudah, meski keindahan pantainya mengemuka di berbagai negara.

Sejak dua tahun lalu, kondisi Kepulauan Anambas berubah. Jaringan internet mulai dapat dirasakan masyarakat, meski belum merata. Jaringan internet di kawasan pesisir di Desa Temburun dan kawasan perbukitan di Tarempa, contohnya masih belum terjangkau sinyal dan akses internet.

Warga Tarempa mulai beralih dari menggunakan ponsel tanpa internet menjadi ponsel pintar.Tarempa merupakan salah satu kelurahan yang ada di kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau 

Kapal-kapal dari Tanjungpinang, ibu kota Kepri, dan Batam menuju Tarempa maupun Letung pun mulai banyak seiring keinginan pemerintah daerah dan pusat membuka akses transportasi antarpulau. Selain itu, Bandara Letung di Kecamatan Jemaja juga mulai beroperasi pada Oktober 2020.

Geliat pertumbuhan perekonomian dan pariwisata semakin berkembang, meski penyebaran penduduk belum merata di daerah yang memiliki 255 pulau tersebut.

Di Tarempa, ibu kota Kepulauan Anambas, contohnya, penyebaran penduduk tidak merata. Penduduk lebih banyak tinggal di sejumlah kawasan pesisir, yang membentuk komunitas, yang dipimpin oleh kepala dusun dan kepala desa.

Aktivitas terpadat berada di Loka, kawasan pusat perdagangan dan jasa. Sejumlah kantor pemerintahan dan instansi vertikal pun dibangun di sekitar Loka.

Sementara lahan yang terbentang luas di perbukitan Tarempa jarang dihuni penduduk. Salah satu alasannya, bangun rumah di kawasan perbukitan membutuhkan biaya yang besar.

"Kami memilih tinggal di tepi pantai karena sejak dahulu kehidupan kami dekat dengan laut, bukan darat," kata Elya, salah seorang warga Tarempa.

Warga dari berbagai pulau di Anambas setiap hari berkunjung ke Tarempa. Mereka ada yang hanya sekadar jalan-jalan, bekerja, sekolah dan keperluan lainnya.

Amelia, warga Letung, Pulau Jemaja, setiap pekan ke Tarempa, hanya untuk membeli barang. "Saya mau beli barang, sekalian jalan-jalan," katanya.

Biaya transportasi laut dari Tarempa menuju Letung mencapai Rp150.000. Perjalanan laut dengan menggunakan kapal cepat hampir dua jam.



Mie Tarempa

Makanan khas Tarempa sebelum Anambas ditetapkan sebagai kabupaten (2008) sudah populer di kalangan masyarakat Tanjungpinang, Bintan dan Batam.

Luti gendang dan mie tarempa. Dua makanan khas asal Tarempa itu pun sudah banyak ditemukan di berbagai daerah seperti Jakarta dan Bandung. Di Tanjungpinang dan Batam, usaha mie tarempa dan luti gendang digeluti oleh pengusaha asal Tarempa.

Luti gendang seperti roti goreng yang berisi daging ikan yang dibuat seperti abon. Luti gendang kerap dijadikan oleh-oleh. Di Tanjungpinang, harga satu luti gendang Rp2.000, sama seperti di Tarempa.

Mie tarempa berbahan alami, mulai dari tepung gandum hingga saos ikan diracik sendiri oleh pedagang. Di Tanjungpinang mie tarempa yang dijual pedagang rata-rata Rp15.000/piring, sedangkan di Tarempa Rp17.000.

Di Tarempa, hampir seluruh kedai kopi menyediakan mie tarempa sebagai menu sarapan pagi dan makan siang.

"Mie tarempa dan luti goreng ini lezat," kata Suheimi, warga Letung di Tarempa.



Pulau Nirwana

Jangan ragukan keindahan alam Kepulauan Anambas, kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Anambas, Samad.

"Pantai dan alam bawah laut yang indah, seperti surga di ujung negeri. Pulau-pulau dan gunung terbentang kokoh memukau," ucapnya.

Daerah penghasil migas di utara Indonesia itu tidak hanya terkenal dengan keindahan alam, melainkan juga masyarakat yang ramah dan terbuka menerima pendatang.

Festival Padang Melang menjadi agenda pariwisata yang rutin diselenggarakan di Letung, Pulau Jemaja. Festival ini mendorong tingkat kunjungan wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara.

Kemungkinan kegiatan tidak dilaksanakan dalam dua tahun ke depan karena dipengaruhi COVID-19.

"Sebelum daerah dan negara melakukan pembatasan berskala besar, banyak wisatawan yang berenang dan menyelam di perairan Anambas. Mereka terpukau melihat keindahan alam bawah laut," katanya.

Keunggulan lainnya, Anambas memiliki berbagai objek wisata dan tarian khas daerah yang sudah dipromosikan ke berbagai negara dan daerah.

Tari Zapin, Gubang, Inai, Redat dan Hadroq sudah dipromosikan ke Roma awal tahun 2020.

"Kami terus memperkenalkan tarian tradisional dikenal masyarakat domestik dan internasional untuk menambah minta wisatawan ke Anambas," tuturnya.

Ical, salah seorang wisatawan asal Tanjungpinang, mengatakan Tarempa merupakan tempat yang nyaman. Ia sudah hampir sebulan berada di Tarempa, dan sesekali mengunjungi Letung.

Selain menikmati keindahan alam, setiap hari Ical juga menjelajahi sejumlah kawasan wisata di Tarempa, seperti Air Terjun Temburun.

"Saya bosan dengan hiruk-pikuk di perkotaan. Di sini saya dan keluarga lebih nyaman," kata Ical, yang tinggal di rumah saudaranya.

Berbeda dengan Roy, warga Batam yang telah sepekan di Tarempa. Ia tidak hanya menikmati keindahan alam Tarempa, melainkan berupaya menjauh dari kota yang sudah ditetapkan sebagai zona merah COVID-19.

"Alhamdulillah daerah dan masyarakat Anambas dilindungi Allah dari COVID-19," katanya.
 
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar