Gemarikan jadi upaya Kepri lawan stunting

id Kepri lawan stunting

Gemarikan jadi upaya Kepri lawan stunting

Ketua TP PKK Kepri Dewi Kumalasari melakukan sosialisasi pencegahan stunting di Desa Ponggak Laut, Kabupaten Lingga, Kamis (24/6). (Ogen)

Tanjungpinang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) berkomitmen penuh menurunkan kasus stunting, ini sejalan dengan target Presiden RI Joko Widodo agar angka stunting di Indonesia turun dari 27 persen menjadi 14 persen hingga tahun 2024.

Berdasarkan data BKKBN Kepri tahun 2019, angka stunting di daerah itu masih sekitar 16 persen dari total jumlah anak bawah lima tahun (Balita) yang tersebar di tujuh kabupaten/kota.

Kasus stunting di Kepri paling banyak tersebar di Kota Batam, sekitar 3.000 orang.

Jumlah angka stunting di Kepri diklaim terendah kedua secara nasional. Namun, untuk perkembangan kasus stunting tahun 2020, masih dalam tahap pendataan. 

Kepala BKKBN Kepri Medi Heriyanto mengaku khawatir angka stunting terus mengalami peningkatan sebagai dampak dari pandemi COVID-19. 

Ini, menurutnya, dipicu munculnya kemiskinan baru dan tidak mampunya keluarga miskin mengkonsumsi makanan yang layak dan gizi seimbang.

BKKBN bersama semua pemangku kepentingan di Kepri berupaya memberikan kontribusi terhadap penurunan angka stunting secara nasional.

Bahkan ditargetkan tahun 2024, khusus Kepri zero stunting.
 

Dari Desa

Upaya menurunkan angka stunting di Kepri dimulai dari Desa Ponggak Laut, Kabupaten Lingga.

Hal itu diwujudkan melalui kegiatan peringatan hari keluarga nasional (Harganas) sekaligus sosialisasi gerakan memasyarakatkan makan ikan (Gemarikan) yang diselenggarakan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepri, BKKBN, TP PKK Provinsi Kepri, dan TP PKK Kabupaten Lingga, di Posyandu Anggur, Kamis (24/6).

Sekretaris DKP Kepri Agus Soekarno menyampaikan acara gemarikan 2021 di Lingga berdasarkan SK Bappenas, dengan target sasaran balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan wanita masa subur.

Pihaknya pada kesempatan itu mengedukasi masyarakat mengenai manfaat ikan bagi kesehatan, pemberian bubur ikan, penimbangan anak, dan pemberian 30 paket ikan 300 paket olahan perikanan.

"Ini untuk meningkatkan konsumsi ikan nasional," ujar Agus.

Ketua TP PKK Lingga Maratusholiha Nizar mengatakan Desa Ponggak Laut dipilih karena Aparatur Pemerintah Desa setempat punya program pencegahan stunting pada balita dan perlu dicontoh oleh desa-desa lainnya.

Pemerintah Desa sangat peduli terhadap ibu hamil dan menyiapkan kebutuhan gizi seimbang untuk balita dengan stunting.

Mereka memberikan bantuan kelambu untuk ibu hamil agar terlindung dari malaria, serta makanan pendamping air susu ibu (ASI).

Selain itu, kehadiran balita penimbangan di desa itu sangat aktif. Tak perlu sweeping door to door, cukup  surat dari desa, setelahnya mereka langsung datang sendiri.

Desa tersebut juga punya inovasi lain, misalnya warga secara suka rela mengumpulkan iuran kesehatan untuk mencegah stunting, di samping iuran BPJS Kesehatan.

"Kami apresiasi Desa Ponggak Laut, semoga jadi inovasi bagi desa lain," imbuhnya.

Lanjut dia stunting tidak hanya masalah kabupaten/kota dan provinsi, melainkan masalah nasional. Semua harus bersinergi dan berkoordinasi agar stunting bisa teratasi.

Penanganan stunting dimulai dari bawah RT/RW dan Desa. Semua stakeholder bekerjasama untuk menurunkan dan mencegah stunting.

Fokus stunting ialah kurang gizi yang menyebabkan kerdil dan daya tahan tubuh rendah, sehingga rentan terserang penyakit.
 

Menggalakkan Gemarikan 

Ketua Tim Pengurus Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Provinsi Kepri Dewi Kumalasari menyampaikan bahwa pihaknya sedang menggalakan program gemar memasyarakatkan makan ikan (Gemarikan) untuk menurunkan angka kasus stunting di daerah itu.

Dewi menyebut ikan memiliki kandungan protein yang lebih baik dibandingkan sumber protein hewani lainnya.

Ada beberapa manfaat makan ikan, antara lain terdapat kandungan omega tiga yang bermanfaat untuk kesehatan mata, otak, jaringan saraf, jantung, dan mengurangi stroke.

Kemudian, kandungan vitamin B1, E, dan A untuk pertumbuhan kesehatan tulang mata serta memperkuat sistem imun tubuh.

Juga komposisi amino lengka mudah dicerna dan diserap tubuh. Mengandung sumber mineral, kalsium, kalium, zinc, dan fosfor untuk menyembuhkan luka, pertumbuhan tulang, dan meningkatkan imunitas tubuh.

"Ikan bukan hanya untuk dikonsumsi bayi, tapi semua kalangan umur," kata Dewi.

Dewi juga memaparkan berdasarkan infomedis masalah gizi tahun 2018, 38 persen anak balita di Indonesia mengalami stunting atau kerdil akibat kekurangan gizi kronis.

Selanjutnya di tahun 2019 prevalensi stunting turun 27 persen. Ini dibuktikan survei status gizi balita Indonesia.

"Prevalensi stunting Indonesia di atas toleransi angka WHO, yakni 20 persen," ujarnya.

Oleh karenanya, stunting anak balita perlu perhatian khusus karena dapat menghambat pertumbuhan fisik dan mental.

Studi terkini anak yang mengalami stunting berkaitan erat dengan prestasi di sekolah. Misalnya saat menerima pelajaran agak terhambat, dan saat mendapatkan proses belajar daya serap lemah.

Pun menjadi perhatian bersama, dari hasil penelitian kesehatan tahun 2015, anak dengan stunting memilki IQ 11 poin lebih rendah dari anak normal biasanya.

Gangguan tumbuh anak balita akibat kekurangan gizi akan berlanjut hingga dewasa jika tidak diantisipasi sejak dini.

"Mari perhatikan tumbuh kembang anak sebagai generasi penerus bangsa," ujar Dewi.

Dengan nilai gizi tinggi pada ikan, maka masyarakat khususnya orang tua diimbau jangan ragu memberikan makanan ikan kepada anak agar generasi muda cerdas, sehat, dan tidak bergizi buruk.

Ikan apa saja baik, contohnya ikan tamban. tinggal bagaimana mengolah, memasak, sehingga menjadi makanan yang disukai anak-anak.

"Bisa diolah jadi puding, bubur, hingga nugget," ungkap Dewi.

Ditambah lagi secara geografis, Kepri didominasi 96 persen lautan sehingga ketersediaan ikan masih sangat banyak dan luar biasa.

 

Pewarta :
Editor: Nurjali
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE