Asrama Haji Batam jadi IGD pasien COVID-19

id igd asrama haji,asrama haji batam, lokasi isolasi covid-19 di batam,wali kota batam 2021, muhammad rudi,ppkm darurat di

Asrama Haji Batam jadi  IGD  pasien COVID-19

Asrama Haji Batam. (ANTARA/ Naim)

Batam (ANTARA) - Pemerintah Kota Batam Kepulauan Riau mempersiapkan instalasi gawat darurat di asrama haji sebagai tempat pemeriksaan awal bagi warga yang sakit sebelum ditempatkan di rumah sakit rujukan.

"Asrama haji menjadi IGD darurat. Pemeriksaan IGD di sana (rumah sakit rujukan) tidak muat lagi, sehingga kita limpahkan ke sini," kata Wali Kota Batam Muhammad Rudi usai meninjau asrama haji, Ahad.

Saat ini IGD di sejumlah rumah sakit rujukan penuh dengan warga yang ingin mendapatkan penanganan darurat. Mereka tidak hanya yang dengan gejala COVID-19, namun juga penyakit lainnya. Karenanya dibutuhkan solusi agar tidak terjadi penumpukan pasien.

Pemerintah menyiapkan 100 tempat tidur di IGD asrama haji. Namun, untuk awal akan dioperasikan 35 tempat tidur, dan bisa ditambah sesuai kebutuhan.

Di IGD Asrama Haji, pasien akan diperiksa. Setelah dinyatakan positif, maka akan dirawat sementara di sana, sampai mendapatkan ruang perawatan di rumah sakit rujukan.

"Kalau di sana (rumah sakit rujukan) ada tempat tidur, kita pindahkan lagi di rumah sakit yang sudah kita tunjuk menjadi rujukan untuk COVID-19," kata Wali Kota.

Dengan begitu, IGD rumah sakit tidak akan penuh. Dan pelayanan bisa jadi lebih maksimal.

Namun, apabila jumlah pasien yang harus dirawat terus bertambah dan rumah sakit rujukan tidak bisa lagi menampung, maka asrama haji akan dijadikan rumah sakit rujukan pasien COVID-19.

"Tapi mudah-mudahan tidak terjadi. Mudah-mudahan kira-kira 10 hari ke depan atau sepekan ke depan ada perubahan," kata dia.

Saat ini, tambahan pasien COVID-19 di Batam terus meningkat, bahkan sudah lebih dari 500 orang pada Ahad saja.

Ia berharap, penerapan kebijakan PPKM Darurat yang sudah berlangsung sepekan bisa menekan laju pertumbuhan penularan COVID-19.

Menurut dia, sesuai dengan sifat virusnya, maka butuh sekitar 14 hari sebelum angka penularan melandai.

"Perubahan akan didapati kalau masyarakat mematuhi protokol kesehatan," kata Wali Kota menegaskan.
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE