MRI-ACT santuni guru honorer 20 tahun mengabdi di Aceh Utara

id ACT,aksi cepat tanggap,mri,masyarakat relawan indonesia

MRI-ACT santuni guru honorer 20 tahun mengabdi di Aceh Utara

Ketua MRI Aceh Utara Muhadaruddin (keempat kiri) menyerahkan santunan kepada Badruddin, guru honorer yang telah 20 tahun mengabdi di SD Negeri 13 Blang Talon, Kecamatan Kutamakmur, Aceh Utara, Jumat (6/12/2019). (FOTO ANTARA/HO-MRC-ACT Aceh)

Banda Aceh (ANTARA) - Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Aceh Utara-Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh menyantuni seorang guru honorer yang telah 20 tahun mengabdi di Sekolah Dasar (SD) Negeri 13 Blang Talon, Kecamatan Kutamakmur, Aceh Utara.

"Guru ini bernama Badruddin (55), dan kita telah serahkan bantuan biaya hidup guru dari program Sahabat Guru Indonesia (SGI) ACT pekan lalu," kata Ketua MRI Aceh Utara, Muhadaruddin saat dihubungi dari Banda Aceh, Senin.

Ia menjelaskan guru tersebut dipilih untuk mendapat bantuan program SGI sebagai bentuk apresiasi ACT atas jasa para guru yang telah mendidik generasi bangsa demi kemajuan negara dan agama di Tanah Air.

Badruddin, ujar dia, setiap hari menempuh perjalanan ke sekolah sejauh dua kilometer, dan terkadang dilakukan dengan mendayung sepeda ontel atau sesekali mengendarai sepeda motor.

Guru tersebut memiliki semangat yang tinggi dalam mendidik setiap murid-muridnya, sehingga waktu tidak terasa begitu cepat berlalu, walau statusnya cuma sebagai guru honorer.

Badruddin,  pria kelahiran tanggal 1 Februari 1964 ini sudah mengajar di SD Negeri 13 Blang Talon, Kecamatan Kutamakmur, Aceh Utara sejak tahun 2.000 hingga menjelang 2020 dengan honor sebesar Rp300 ribu per bulan.

Badruddin memiliki pribadi yang dikenal cukup dekat dengan murid-muridnya. Karena selalu tampil ceria dan ramah, termasuk ketika MRI Aceh Utara mengunjungi sekolah tempatnya mengajar pada Jumat (6/12).

"Bukan hanya mengajar, tapi ia kerap ringan tangan dalam menjaga kebersihan sekolah. Allah SWT lah yang memberikan rezeki, dan memberkahi kehidupan," kata Muhadaruddin.

Badruddin mengaku, upah yang didapat dari mengajar memang belum mencukupi dalam menghidupi istri dan anaknya yang menetap di Gampong (Desa) Buket, Kuta Makmur, Aceh Utara.

Oleh sebab itu, ia membagi waktunya dengan bertani di sawah maupun kebun ketika luar jam mengajar sekolah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang semakin meningkat.

"Saya memilih bertahan demi mendedikasikan ilmu yang saya dapat ke anak-anak. Istri saya tidak pernah mengeluh dengan kondisi saya," ujar dia.

Terkadang tetangga di sekitar rumah ikut membagikan kepeduliannya kepada keluarga Badruddin, meski tidak pernah diminta.

"Beliau dikenal sebagai sosok yang rajin beribadah, dan taat beragama," demikian Muhadaruddin.

Baca juga: ACT dorong penyaluran Lumbung Pangan Wakaf

Baca juga: ACT bantu bea guru honorer di Sulteng

Baca juga: ACT luncurkan "Lumbung Beras Wakaf" di Blora-Jateng
Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar