Penuba pulau kecil yang jadi saksi sejarah

id Penuba pulau kecil yang jadi saksi sejarah

Penuba pulau kecil yang jadi saksi sejarah

Tulisan Penuba di Pulau ini sudah ada sejak tahun 1992 yang berdiri kokoh menghadap kelaut dan Pulau Singkep yang menjadi sumber kekayaan Bijih Timah. (Nurjali)

Penuba itu seperti gerbang, letak geografisnya sangat strategis untuk melabuhkan kapal-kapal mereka karena laut diselat ini juga sangat dalam
Lingga (ANTARA) - Pulau Penuba salah satu pulau kecil, di wilayah Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, merupakan bagian dari tanah Kerajaan Riau-Lingga di masa lampau dan menjadi salah satu saksi sejarah  perubahan zaman mulai dari Kerajaan Riau-Lingga, penjajahan Belanda,  dan Jepang, masa kemerdekaan hingga  masa kini.

Pulau ini menyimpan begitu banyak sejarah dari sejak jaman kerajaan Riau-Lingga, hingga di masa penjajahan Belanda, karena pernah dijadikan pusat pemerintahan di era itu. Bahkan pulau kecil ini juga menjadi salah satu saksi sejarah berkibarnya Sang Saka Merah Putih untuk pertama kalinya di wilayah dengan sebutan Bunda Tanah Melayu.

Seiring perkembangan zaman dan bergantinya era kepemimpinan dari zaman penjajahan, orde lama, orde baru hingga  demokrasi saat ini. Dan terbitnya Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah sehingga banyak wilayah yang kemudian dimekarkan dari undang-undang produk reformasi tersebut.

Provinsi Kepulauan Riau yang dulunya tergabung dengan Provinsi Riau, akhirnya juga memisahkan diri dari provinsi induknya, dan terbentuklah Kabupaten Lingga yang menjadi salah satu dari tujuh kabupaten yang ada di Provinsi Kepulauan Riau, sebagai salah satu syarat administrasi pemekaran suatu wilayah.

Dari hasil pemekaran itu jugalah, Pulau Penuba, merubah statusnya dari mulai pusat pemerintahan setingkat kewedanaan, kemudian turun menjadi pemerintahan desa dan kembali menjadi kecamatan, yang kini disebut dengan Kecamatan Selayar sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Lingga, Nomor 19 tahun 2012 yang kemudian disahkan oleh Menteri Dalam Negeri RI ditahun yang sama.

"Yang saya ingat Penuba ini, dulu jadi pusat pemerintahan, dan orang-orang tua dan abang kami ada yang menjadi pasukan keamanan yang digaji dari pemerintahan Belanda," sebut Mukhlis salah satu warga asli Pulau Penuba, kepada ANTARA.

Dalam beberapa catatan referensi sejarah ada nama Hawai Van Lingga yang merupakan sebutan untuk sebagian besar wilayah Kepulauan Riau di masa penjajahan Belanda, dan untuk wilayah Penuba atau Pulau Penuba sendiri merupakan salah satu bagian dari ibukota yang kala itu disebut sebagai Onder afdeling.
 
Kantor Bea dan Cukai dimasa penjajahan Belanda yang kini dialih fungsikan sebagai Kantor Desa Penuba tanpa merubah bangunan aslinya dan sempat menjadi Kantor Camat Selayar. (Nurjali)
Onder afdeling

Onder afdeling adalah suatu wilayah administratif setingkat kawedanaan, yang diperintah oleh seorang wedana bangsa Belanda yang disebut Kontroleur yang kemudian disebut juga sebagai patih dalam rilisan naskah sejarah Indonesia.

Arsip tentang Pulau Penuba tersebut juga tercatat dalam Lembaran Negara Pemerintah Hindia Belanda Nomor 66 Tahun 1922, yang juga pernah diubah pada lembaran Nomor 201 Tahun 1924 yang menyebutkan bahwa Pulau Penuba adalah pusat pemerintahan di abad ke - 19, di saat Belanda melebarkan sayap di wilayah Kepulauan Riau, dengan melakukan ekspansi untuk menguasai sumber daya alam di Pulau Singkep.

Rais salah satu tokoh masyarakat  di pulau tersebut sempat mengingat masa-masa remajanya di Pulau Penuba di kala dipimpin oleh seorang Belanda yang bernama Kapten Sandi atau Sunday yang juga bisa berbahasa Melayu, meski tidaklah selancar orang Melayu di Pulau Penuba.

"Logatnya sangat berbeda karena bercampur antara bahasa Melayu dengan Belanda, kadang-kadang ada bahasa mereka yang melekat juga kami gunakan, misalnya Kiben artinya roti dan itu digunakan sampai sekarang," ujarnya.

Meski merupakan kantor kewedanaan, namun beberapa pekerja di kantor tersebut juga banyak terdapat orang-orang Indonesia yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia bahkan warga Pulau Penuba sendiri, ada juga yang bekerja di kantor tersebut. 

"Dulu itu kalau lulus SR (Sekolah Rakyat) atau sekarang setingkat SD sudah bisa membaca dan menulis," sebutnya.

Mereka yang bisa membaca dan menulis akan mudah mendapatkan pekerjaan di kantor tersebut, dan menduduki jabatan yang cukup strategis berbeda dengan mereka yang tidak bisa membaca dan menulis.

Keluarga Rais sendiri ada yang bekerja sebagai pasukan keamanan di kantor Belanda tersebut dan menduduki jabatan yang cukup strategis sebagai mandor. Kewenangan Onder afdeling sangat luas ketika itu, selain menguasai rempah-rempah asal Indonesia Belanda juga menguasai kekayaan alam di Indonesia salah satunya adalah timah.
 
Meriam ini sudah ada sejak sebelum kantor Bea Cukai Belanda berdiri di Pulau Penuba dan posisinya menghadap kelaut dan pelabuhan yang menjadi salah satu dermaga yang ada diwilayah tersebut . (Nurjali)
Penuba dan Singkep

Pulau Singkep tidak jauh dari Pulau Penuba jaraknya hanya hitungan meter dan jika ditempuh melalui jalur laut hanya butuh waktu sekitar 15 - 20 menit menyeberangi lautan dengan mendayung sampan. 

Jika dibandingkan dengan luas kedua pulau ini, luas Pulau Singkep jauh lebih luas dari Penuba, namun Belanda lebih memilih Pulau Penuba sebagai pusat pemerintahan untuk mengontrol berbagai kegiatan di Pulau Singkep. Letak geografis Pulau Penuba yang hanya terpisah selat dengan Pulau Singkep menjadi alasan utama berdirinya pusat pemerintahan di Pulau Penuba.

"Penuba itu seperti gerbang, letak geografisnya sangat strategis untuk melabuhkan kapal-kapal mereka karena laut di selat ini juga sangat dalam," ujar Kepala Desa Penuba Sapri, saat ditemui dikantornya yang merupakan bekas bangunan kantor Beacukai di zaman Belanda.

Menurut Kepala Desa Penuba, dipilihnya Penuba tidak saja menjadi gerbang masuk kapal-kapal yang berlayar namun, alasan lain dipilihnya Pulau Penuba karena lahannya yang begitu subur, meskipun dekat dengan laut air darat di wilayah tersebut tidak payau seperti air laut, bahkan lahan di pulau ini dapat dengan mudah ditumbuhi berbagai jenis tanaman salah satunya adalah tanaman opium yang waktu itu dilegalkan, serta berbagai rempah-rempah lainnya.

Meski tidak banyak mengingat, namun Kepala Desa Penuba mengaku sampai hari ini, hampir setiap tahunnya orang-orang dari Belanda bahkan Eropa selalu menjadikan Pulau Penuba sebagai salah satu tempat persinggahannya, baik itu turis-turis yang berlayar dengan yacht maupun mereka yang datang melalui jalur udara.

"Penuba ini tak pernah sepi dari turis, selalu ada turis dari Belanda dan Eropa yang berkunjung ke sini, hampir setiap tahun," sebutnya.

Jika di Pulau Penuba terdapat tanah yang subur, maka di Pulau Singkep pada tahun 1800-an  sampai 1990 merupakan salah satu daerah penghasil  timah terbesar di dunia kala itu. Bahkan hal itu sudah menjadi catatan sejarah bangsa Indonesia, dan menjadi salah satu pemasukan bagi negara.

Penuba dan Singkep adalah bukti sejarah kejayaan bangsa Indonesia dimata dunia, sebagai salah poros maritim dunia.
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar