"Pendekar Kata" bahas makna berpantun dalam Kopi Payau

id kopi payau,pantun, yoan s. nugraha

"Pendekar Kata" bahas makna berpantun dalam Kopi Payau

Poster program Kopi Payau (Nurjali / HO)

Pantun memiliki derajat dan kedudukan yang tinggi sehingga ada istilah makna sampiran dan isi
Batam (ANTARA) - Pendekar Kata julukan untuk Yoan S. Nugraha seorang tokoh muda di Kepulauan Riau, yang kini juga berprofesi sebagai salah satu penulis di Kepulauan dengan menerbutkan ribuan pantun dari olah pemikirannya, hadir dalam program "Kopi Payau" untuk membahas makna berpantun.

Kopi Payau merupakan kegiatan bincang budaya yang dikemas secara virtual oleh Kantor Berita Antara Biro Kepri tiap Jumat malam.

"Pantun punya derajat yang tinggi sehingga ada istilah sampiran atau pembayang dan isi," katanya.

Pantun bukan akronim dari sopan dan santun seperti yang acap dipakai orang untuk menterjemahkan pantun tetapi pantun merupakan percakapan yang menjadi tradisi lisan masyarakat Melayu.

"Ciri khas pantun zaman dulu yakni selalu mengaitkan pantun dengan alam dan punya korelasi yang amat tinggi dengan kehidupan atau gambaran situasi," kata Yoan.

Ia mencontohkan bait pantun "Tua-tua keladi/Makin tua makin menjadi". Walaupun pantun tersebut hanya dua baris yang dinamakan karmina, namun perumpamaan keladi yang dipakai dalam pantun tersebut mampu menggambar sisi kehidupan seseorang.

Dijelaskannya, keladi merupakan tanaman berumpun apabila masih muda getahnya jika kena tangan tidak akan terasa gatal. Akan tetapi keladi yang sudah tua getahnya apabila kena tangan akan sangat gatal.

Pantun tua-tua keladi sebagai gambaran manusia yang sudah berumur lanjut tapi masih juga bertingkah melebihi anak muda.

"Cobalah tengok pantun yang dibuat zaman sekarang hanya mengejar isi, tidak mengejar makna pada sampiran. Pembuat pantun hanya mengejar persajakan  AB AB, sampiran dan isi sama bunyinya," katanya.

Padahal, lanjut dia, sejatinya pantun tidaklah sereceh itu. Pantun memiliki derajat dan kedudukan yang tinggi sehingga ada istilah makna sampiran dan istilah isi.

"Istilah 'sampiran' hanya dipakai di Indonesia di negara tetangga disebut pembayang. Pembayang menyiratkan isi," katanya.

Pada pantun lama makna pantun sangat mendalam seperti pantun yang populer "Kalau ada sumur di ladang/Boleh kita menumpang mandi/Kalau ada umur panjang/Boleh kita bertemu lagi."

Dari pantun tersebut dapat dilihat dari pembayang, apakah ada sumur di ladang? Jawabnya bisa ada dan tidak. Lalu pada kalimat kedua boleh tak kita menumpang mandi?

"Jawabannya tentu tergantung pada pemilik sumur ataupun pemilik  ladang," ungkap Yoan.

Kalimat pembayang atau sampiran pada pantun tersebut sangat mendalam menyampaikan pesan dan memperkuat isi,  . sebab jika pun ada umur panjang belum juga tentu dapat jumpa. 

"Umur ada,  rezeki ada tapi kalau kapal tak ada, tiket tak ada sama ajakan tak dapat berjumpa. Apalagi pada masa pandemi seperti sekarang?" ujar Yoan yang disambut derai tawa peserta aplikasi virtual yang bergabung dalam tayangan tersebut.

Itu sebabnya, lanjut Yoan,  pantun tersebut sebaiknya dipakai pada perpisahan  yang  kemungkinan tidak berjumpa lagi.

Ada juga pantun pada masa lalu yang berarti pekerjaan sia-sia yang selalu juga dipakai, seperti pantun "Kalau ada jarum yang patah/Jangan disimpan dalam peti/Kalau ada kata yang salah/Jangan disimpan dalam hati".

"Boleh tak menyimpan jarum yang patah? Boleh saja tetapi itu sia-sia saja karena tak ada gunanya begitu juga kalau memendam atau mendiamkan kesalahan," katanya.


Kekuatan sampiran

Ada lagi pantun "Pucuk pauh delima batu/Anak sembilang ditelapak tangan/Walaupun jauh di negeri satu/Hilang dimata dihati jangan".

Menurut Yoan pantun tersebut pernah dikaji. Ternyata pucuk pauh delima batu merupakan dua tumbuhan beda. Jika d isatu daerah ada tumbuh tanaman delima batu maka kecil kemungkinan di daerah itu tumbuh pokok pauh. Begitu juga sebaliknya. 

"Artinya pokok pauh dan delima batu tidak bisa tumbuh pada lokasi yang sama. Tapi kenapa disandingkan kalimat pertama dengan baris kedua anak sembilang," tutur Yoan.

Seperti diketahui ikan sembilang punya sengat yang beracun dan jika kena bagian tubuh kita maka akan menyebabkan demam.

Namun, kalimat pembayang menguatkan kalimat pertama yang membolehkan anak sembilang berada di telapak tangan. Sebab, dari hasil kajian tersebut diketahui bahwa jika pucuk pauh dan pucuk delima batu diremas pada tangan maka bisa menjadi penawar racun.

"Itu sebabnya walau sembilang di tapak tangan sengatannya tidak mempan lagi meracuni tubuh karena telah ada penawarnya. Itulah  korelasi pembayang dengan isi. Meski jauh biarlah hilang di pelupuk mata tapi di hati jangan. Itu berarti biarlah pokok itu tidak tumbuh setanah tetapi dia jadi penawar apabila disatukan. Itulah maknanya," ungkap Yoan yang mengharapkan Antara bisa menjadi fasilitator untuk makna berpantun.

Dia juga telah membuat kartu pantun sebagai panduan untuk memaknai pantun karena banyak orang yang tahu pantun tapi tak bisa  berpantun.

"Dalam kartu pantun tersebut ada yang hanya berisi sampiran agar dilengkapi isi dan adapula melengkapi pertanyaan. Intinya agar masyarakat luas tahu akan makna pantun," katanya.

Kegiatan sembang  virtual Kopi Payau yang dilakukan sepekan sekali itu cukup mendapat respon positif dari para pengiat seni budaya baik yang berada di wilayah Kepri, Riau serta Jakarta.
 
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar