Gempa Majene Sulbar tidak berpotensi tsunami

id BMKG Makassar, gempa Majene Sulbar,Gempa Majene,Gempa tidak berpotensi tsunami

Gempa Majene Sulbar tidak berpotensi tsunami

Ilustrasi. Dampak gempa bumi yang terjadi di Majene Sulbar, Kamis (14/01/2020). ANTARA Foto/HO-Dok.Pribadi

Makassar (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis bahwa gempa tektonik berkekuatan  5,9 maknitudo yang mengguncang Kabupaten Majene Sulawesi Barat, Kamis (14/1)  pukul 13.35 Wita, tidak berpotensi tsunami.

Sub Koordinator Pelayanan Jasa BMKG Makassar, Siswanto di Makassar, Kamis menjelaskan, analisis BMKG berdasarkan skala kekuatan gempa atau energi gempa menunjukkan bahwa gempa bumi itu tidak berpotensi tsunami.

Sulbar disebut memiliki patahan, sehingga cukup berpotensi terjadi gempa bumi. Bahkan secara historis gempa bumi dengan skala lebih besar dan mengakibatkan tsunami pernah terjadi di wilayah ini.

"Mekanisme patahannya pada episenter atau pusat gempanya sehingga dapat menggambarkan bagaimana pergerakan gelombang seismic. Ini juga menunjukkan tidak berpotensi gempa," ujarnya

Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 2,99 LS dan 118,89 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 4 km arah Barat Laut Majene, Sulawesi Barat pada kedalaman 10 km.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar lokal. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik ( _thrust fault_ ).

Kejadian gempa yang 10 km agak dangkal dari permukaan laut mengakibatkan masyarakat di Kota Parepare, Pinrang bahkan Kota Makassar ikut merasakan getaran gempa tersebut.

Siswanto mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

"Agar menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa, silakan periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum kembali ke dalam rumah," urainya.
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar