Enam belas tahun Kabupaten Lingga terbelenggu kemiskinan

id Enam belas tahun Kabupaten Lingga terbelenggu kemiskinan,kemiskinan,kabupaten lingga,hari jadi kabupaten lingga

Enam belas tahun Kabupaten Lingga terbelenggu kemiskinan

Kantor DPRD Kabupaten Lingga (ANTARA/Nurjali)

Serapan anggaran kita juga cukup rendah, meskipun kita dapat WTP tapi apa artinya kalau kesejahteraan masih rendah
Lingga (ANTARA) - Selama enam belas tahun Kabupaten Lingga berdiri, kabupaten dengan sebutan bunda tanah melayu ini terbelenggu dengan label kabupaten termiskin di Provinsi Kepulauan Riau, baik dari sisi Pendapatan asli daerah (PAD) hingga tingkat pengangguran yang terus menghantui.

Kondisi tersebut dibenarkan oleh beberapa pejuang pembentukan Kabupaten Lingga, salah satunya Abdul Gani Atan Leman, tokoh Melayu Kabupaten Lingga ini mengaku hingga saat ini pengangguran di Kabupaten Lingga masih menjadi permasalahan yang belum terselesaikan yang berdampak pada kemiskinan.

"Kalau soal sumber daya alam (SDA) di Kabupaten Lingga, memiliki potensi yang begitu melimpah, namun kondisi tersebut hanya jadi alat politik karena sampai hari ini belum memberi dampak bagi kehidupan masyarakat Lingga," kata tokoh Melayu dan pejuang terbentuknya Kabupaten Lingga, Abdul Gani Atan Leman, kepada Antara.

Dia juga menyinggung dua bupati yang pernah menjabat di Kabupaten Lingga, baik Daria maupun Alias Wello saat ini yang cukup dikenal dengan lobi-lobi di tingkat pemerintah pusat.

"Kalau kita lihat lobi pemerintah cukup ekstra, apalagi di era pak bupati sekarang, tapi lobi saja tidak cukup jika realisasi personel di bawahnya khususnya OPD tidak menyentuh ke masyarakat," sebutnya.

Tokoh yang dikenal di Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) ini mengatakan banyak temuannya di lapangan, sejak menjadi anggota DPRD Kabupaten Lingga, hingga sekarang masyarakat mengeluhkan soal bantuan pemerintah yang tidak tepat sasaran.

Selain Abdul Gani Atan Leman, tokoh politik Kabupaten Lingga Rudi Purwonugroho yang juga sempat menjabat sebagai staf khusus Bupati Lingga juga membenarkan berbagai persoalan di Kabupaten Lingga saat ini, mulai dari kinerja Organisasi perangkat daerah (OPD) yang terkesan lamban hingga praktek korupsi kolusi dan nepotisme (KKN) yang masih membelenggu di Kabupaten Lingga.

"Kita lihat kemarin soal penempatan kepala sekolah, yang puluhan orang tidak memenuhi kriteria yang telah ditentukan, ini ada dugaan praktik KKN disini," sebutnya.

Selain itu Rudi juga menyoroti soal nota dinas yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Lingga, di tengah kekurangan beberapa tenaga pendidik atau guru, Kepala Dinas Pendidikan malah menempatkan beberapa orang dengan menerbitkan nota dinas dari guru ke kantor-kantor.

"Serapan anggaran kita juga cukup rendah, meskipun kita dapat WTP tapi apa artinya kalau kesejahteraan masih rendah," sebutnya.

Data Badan Pusat Statitik

Dari data Badan pusat statistik Garis kemiskinan di Kabupaten Lingga, sejak tahun 2008 hingga tahun 2018, memperlihatkan angka yang terus meningkat.

Sementara itu jika dilihat dari jumlah pengangguran di Kabupaten Lingga, di tahun 2018 yang lalu cukup kecil berkisar di angka 3,65 persen, jumlah tersebut berdasarkan dari jumlah penduduk di Kabupaten Lingga, yang berjumlah 89.501 jiwa.

Ditinjau dari segi pendidikan, jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh penduduk Kabupaten Lingga yang bekerja didominasi oleh tidak/belum tamat SD sebesar 11.514 jiwa (27,75%), kemudian diikuti tamat SD/MI sebesar 11.211 jiwa (27,29%). 

Tingkat pendidikan tersebut banyak didapati pada penduduk yang bekerja dengan umur 30 tahun ke atas. Pada tahun 2018, sektor lapangan usaha ditampilkan dalam 3 sektor yaitu Agrikultur, Industri, dan Jasa. 

Berdasarkan 3 sektor tersebut, lapangan usaha yang paling banyak dijalani oleh penduduk yang bekerja di Kabupaten Lingga, adalah sektor Jasa yang mencakup perdagangan besar & eceran, Rumah makan dan hotel, angkutan, pergudangan, komunikasi, keuangan, usaha persewaan, jasa kemasyarakatan, sosial, dan perorangan sebesar 18.175 jiwa (43,8%), diikuti dengan sektor Agrikultur yaitu pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan sebesar 13.927 jiwa (33,57%). (Antara)
Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar