Aktivitas Labuh Kapal di STS Karimun Sepi

id Aktivitas,Labuh,tanker,Kapal,STS,Karimun,ship,transfer,pandu,tunda,Sepi

Selama 2015 benar-benar sepi. Biasanya lebih dari 20 kapal, selama 2015 hanya 4 atau 5 kapal yang labuh jangkar di STS dalam satu bulan
Karimun (Antara Kepri) - Aktivitas labuh jangkar kapal tanker di pelabuhan ship to ship (STS) transfer Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau sepi selama 2015, kata General Manager PT Pelindo I (Persero) Cabang Tanjung Balai Karimun Syamsul Bahri Kautjil.

"Selama 2015 benar-benar sepi. Biasanya lebih dari 20 kapal, selama 2015 hanya 4 atau 5 kapal yang labuh jangkar di STS dalam satu bulan," kata dia di Tanjung Balai Karimun, Sabtu.

Pelabuhan STS transfer Karimun melayani tiga jenis jasa bagi kapal-kapal tanker dari Selat Malaka, yaitu jasa labuh, jasa tunda dan pandu. Namun, tanker dari jalur perdagangan dunia itu makin berkurang berlabuh untuk alih muatan di STS Karimun.

"Kami hanya untung pada Juni, tidak hanya dari STS, tetapi juga berasal dari Terminal Untuk Kepentingan Sendiri dan pas pelabuhan," kata dia.

Penyebab turunnya pendapatan jasa STS, menurut dia, disebabkan beberapa hal, antara lain kapal-kapal tanker memilih pelabuhan sejenis, seperti Tanjung Pelepas di Malaysia, atau Nipah Transit Anchorage Area (NTAA) di perairan Pulau Nipah, Batam yang jaraknya lebih dekat dengan Singapura. Tarif yang lebih murah di NTAA yang tidak mewajibkan jasa pandu juga berdampak bagi STS Karimun, kata dia lagi.

"Selain itu, harga minyak dunia juga berpengaruh. Tanker makin berkurang alih muatan di STS jika harga minyak dunia merosot," kata dia.

Untuk itu, papar dia, pihaknya melakukan sejumlah terobosan agar aktivitas di STS kembali ramai seperti dua atau tiga tahun lalu. Terobosan yang telah dilakukan adalah mengadakan pertemuan dengan operator pelayaran agar bersedia mengarahkan kapal-kapal tankernya labuh jangkar di STS Karimun.

"Kami menawarkan kemudahan dan kenyamanan bagi mereka, termasuk juga diskon tarif bagi mereka sebagai pengguna jasa," katanya.

Meski selama 2015 sepi, Syamsul tetap optimistis pelabuhan STS kembali ramai pada 2016, menyusul rencana Singapura memberlakukan kebijakan bagi pengguna jasa di perairan negara jiran tersebut, yaitu memberikan batas waktu paling lama 36 jam labuh jangkar.

Dia berharap tanker-tanker dari Singapura beralih ke STS Karimun jika kebijakan tersebut diberlakukan.

Syamsul juga berharap regulasi pemerintah yang menjamin kepastian dan kenyamanan bagi pengguna saja.

"Regulasi yang fleksibel, dan tarif PNBP yang tidak terlalu tinggi, serta aturan perizinan yang tidak cepat ubah akan pendorong pengguna jasa melabuhkan kapalnya di STS," tuturnya.

Pelabuhan STS Karimun merupakan salah satu unit usaha PT Pelindo I Cabang Tanjung Balai Karimun yang dikerjasamakan dengan PT Karya Karimun Mandiri (KKM) sebagai Badan Usaha Kepelabuhanan (BUP) milik Pemkab Karimun sejak 2009. PT KKM mendapat porsi 35 persen dari total pendapatan di pelabuhan STS.

Pada 2012, pendapatan pelabuhan STS Karimun merosot tajam hingga 50 persen dibandingkan tahun 2011 yang mencapai Rp40 miliar. Penurunan pendapatan dari STS tersebut merupakan imbas dari beroperasinya NTAA di perairan Pulau Nipah yang menawarkan tarif lebih murah hingga 30 persen dibandingkan STS Karimun.

"Turunnya pendapatan dari STS turut berdampak bagi kami. Sebagai karyawan perusahaan, walau berstatus BUMN. Karyawan akan mendapat bonus jika berhasil mengembangkan usaha dengan mendatangkan laba, itu belum kami nikmati dari STS," ucap GM PT Pelindo I Cabang Tanjung Balai Karimun Syamsul Bahri Kautjil. (Antara)

Editor: Evy R Syamsir
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar